Kamis, 11 Juni 2020

Ramadhan Covid 19


Ramadhan tahun ini nampaknya akan terasa lebih berat dari biasanya. Pasalnya, Ramadhan kali ini bertepatan dengan mewabahnya virus corona yang cukup meresahkan dunia. Hal ini membuat berbagai kebijakan muncul seperti: anjuran untuk melakukan sholat tarawih di rumah. Atau jika memang tetap melakukannya secara bersama di masjid, ada protokol yang perlu dilakukan demi mengantisipasi penyebaran virus, misalnya dengan mengenakan masker, merenggangkan shaf sholat untuk menjaga jarak satu sama lain, dan sebagainya. Belum lagi selama pemberlakuan lockdown, kelesuan ekonomi terjadi di meluas. Pendek kata, ibadah puasa yang biasanya disambut dengan penuh rasa suka cita, mungkin kini porsi suka cita tersebut hanya ada separohnya. Namun kondisi demikian semoga tak mengurangi kekhusyuan dalam menjalaninya. hal itu mungkin merupakan bagian dari ujian dalam rangka mengukur kadar keimanan, ketaqwaan, dan kesabaran siapapun yang menjalankannya. siapa yang lulus dengan nilai yang baik, tentu Allah akan naikkan derajatnya.
Kondisi Ramadhan yang berat sebenarnya tidak hanya terjadi di hari-hari saja, namun juga pernah terjadi pada bulan puasa di masa rasulullah. Ibadah puasa disyariatkan pertama kali pada tahun 2 hijriah. dengan demikian selama rasulullah hidup, beliau hanya mengalaminya sebanyak 9x saja. Dari 9x Bulan puasa Ramadhan tersebut, 4x diantaranya beliau jalani dalam situasi dan kondisi yang tidak mudah, bahkan darurat, dan tentu jauh lebih sulit dari yang akan kita alami. Namun manisnya keimanan, kokohnya ketakwaan, tingginya kualitas kesabaran, dan kekhusyuan yang ditunjukkan oleh rasulullah dan para shahabatnya ketika itu terbukti mampu mengatasi berbagai kondisi sesulit apapun, bahkan mengubahnya menjadi terasa nikmat. Sebagai ibroh bagi kita semua, berikut ini sedikit akan kami kisahkan 4 kondisi sulit dan darurat yang pernah di alami rasulullah bersama para shahabatnya yang terjadinya bertepatan atau berlangsung di Bulan Ramadhan.

Bulan Ramadhan saat terjadinya Perang Badar (tahun 2 hijriah)
Sebagian riwayat mengisahkan bahwa Perang Badar terjadi pada tanggal 17 Ramadhan tahun 2 hijriah. perang tersebut merupakan peristiwa perang terbuka pertama yang dialami oleh nabi dan para shahabat. tahun itu sekaligus merupakan tahun dimana ibadah puasa Ramadhan disyariatkan untuk pertama kalinya. Pada momen itu, pasukan kaum muslimin kala itu yang hanya berkekuatan 300-an orang harus menghadapi kekuatan pasukan suku Quraisy Makkah yang berkekuatan 1000 orang. Kondisi geografis Arab yang panas dan berupa gurun pasir ikut menambah jalannya peperangan terasa semakin berat. Namun kala itu kaum muslim mampu taat dan sabar dalam menghadapi ujian tersebut sehingga Allah berkenan menurunkan bala bantuan 1000 tentara malaikat yang tak kasat mata. Peperangan berakhir dengan kemenangan di pihak kaum kaum muslimin.

Bulan Ramadhan menjelang terjadinya Perang Khandaq (tahun 5 hijriah)
Sebagian riwayat mengisahkan bahwa perang ini terjadi pada bulan Syawwal tahun 5 hijriah. Perang ini disebut Perang Khandaq karena untuk menghadapi potensi kekuatan penyerang yang sangat besar memasuki Madinah, kaum muslim harus bahu-membahu bekerja menggali parit besar mengelilingi sebagian wilayah Madinah selama kurang lebih seminggu sebelumnya. Perang ini juga disebut Perang Ahzab karena musuh yang akan menyerang bukanlah musuh tunggal, melainkan aliansi dari beberapa pihak yang berkekuatan 10.000 pasukan. adapun kaum muslimin di dalam Madinah hanya berkekuatan 3000 pasukan. Perang tersebut memang tidak terjadi pada saat bulan Ramadhan. Namun dapat dibayangkan bagaimana kegelisahan yang terasa di hati kaum muslimin pada Bulan Ramadhan ketika mendapat kabar bahwa mereka akan diserang oleh pasukan aliansi yang terdiri dari 3 kekuatan utama yang cukup diperhitungkan di Arab kala itu, yakni: Suku Quraish, Bani Gathafan (salah satu suku Arab gurun), dan Kaum Yahudi Khaibar.
Aliansi penyerang yang terhalang memasuki Madinah tersebut melakukan pengepungan selama berhari-hari sambil berusaha menyerang dengan melompati parit. Dalam kondisi demikian kaum muslimin berada dalam kondisi lelah dan was-was selama berhari-hari karena dituntut selalu waspada terhadap kekuatan besar di seberang parit yang terus berusaha menyeberang dan berpotensi mengancam masa depan Madinah. Kekhawatiran bertambah ketika muncul kabar bahwa Kaum Yahudi Bani Quraizah yang berada di dalam wilayah Madinah akan berkhianat dan membantu kekuatan musuh dengan menyerang dari dalam. namun Allah tidak pernah membiarkan kesulitan yang menimpa hamba-hamba-Nya yang beriman, bertakwa, dan bersabar terjadi terus-menerus. Setelah pengepungan berlangsung selama 15 hari, Allah mengirimkan badai gurun yang ganas di malam hari memporak-porandakan tenda-tenda pasukan aliansi yang memaksa mereka harus kembali pulang dan menghentikan pengepungan Madinah.

Bulan Ramadhan saat terjadinya ekspedisi Fathul Makkah (tahun 8 hijriah)
Peristiwa ini terjadi pada 10 Ramadhan tahun 8 hijriah. Peristiwa ini diawali oleh pengkhianatan sejumlah kaum Quraish terhadap perjanjian damai Hudaibiyah dengan membantu Bani Bakr melakukan penyerangan terhadap Bani Khuza'ah yang merupakan sekutu kaum muslimin. Pelanggaran tersebut otomatis membuat perjanjian Hudaibiyah batal sehingga rasulullah menghimpun 100.000 pasukan kaum muslimin untuk melakukan penaklukan terhadap kota Makkah. Peristiwa ini mungkin tidaklah terjadi menegangkan dan mencemaskan bagi pihak kaum muslimin, karena kali ini mereka sebagai pihak penyerang dengan jumlah kekuatan yang besar. Namun kesulitan yang mereka alami saat itu karena perjalanan dari Madinah ke Makkah yang cukup jauh, memakan waktu yang cukup lama, dan tentu sangat melelahkan.
Kegelisahan dan kekhawatiran saat itu justru dialami oleh pihak kaum Quraish Makkah. Mereka khawatir jikalau pasukan muslimin yang begitu besar tersebut hendak menuntut balas atas perlakuan buruk yang selama ini mereka terima dengan melakukan pembantaian dan penghancuran di Makkah. Namun yang demikian itu bukanlah watak Islam, sehingga apa yang mereka khawatirkan tidaklah terjadi. Kaum Quraish justru dijamin keamanannya selagi tidak melawan. Mereka justru mendapatkan permaafan dari rasulullah. Rasulullah hanya memerintahkan agar Makkah dibersihkan dari berhala-berhala dan semua perbuatan kemusyrikan.

Bulan Ramadhan saat berlangsungnya ekspedisi Tabuk (tahun 9 hijriah)
Peristiwa ini dilatarbelakangi oleh kabar bahwa suku-suku Arab Kristen di wilayah Daumatul Jandal hendak menghimpun kekuatan untuk menyerang Madinah. Selain 100.000 kekuatan pasukan yang mereka miliki, mereka meminta bantuan kepada Heraklius, kaisar Romawi untuk mengirimkan tambahan pasukan. Heraklius yang juga tengah menjalankan misi penaklukan dan telah berhasil menaklukan wilayah Mesir, Irak, Syiria, dan Palestina, nampaknya tertarik pula untuk menaklukkan Arab. Selain itu, Romawi yang sebelumnya pernah bertempur dengan Kekuatan kaum muslimin dalam Perang Mu'tah nampaknya masih penasaran untuk mencoba kembali kekuatan kaum muslimin.
Mendengar kabar tersebut, rasulullah mengumpulkan 30.000-70.000 kekuatan kaum muslimin untuk melakukan ekspedisi menuju Daumatul Jandal kemudian menuju wilayah Tabuk untuk menerima tantangan pasukan Romawi. Ekspedisi kali itu merupakan momen yang sangat sulit, mengigat saat itu tengah musim panas terik, ditambah tidak lama lagi adalah saat musim panen. Sehingga jika memutuskan ikut dalam ekspedisi tabuk berarti harus siap meninggalkan kebun-kebun yang siap dipanen menjadi terbengkalai begitu saja demi melakukan perjalanan jauh, teruk, dan mematikan menuju Tabuk. Jarak yang ditempuh pasukan kaum muslimin dari Madinah menuju Tabuk sekitar 800 km, sehingga keberangkatan ke wilayah itu memakan waktu 20 hari.
Dalam ekspedisi ini kaum muslimin hanya melakukan peperangan dengan suku-suku Arab di Daumatul Jandal dan berhasil menaklukkan mereka. Adapun sesampainya di wilayah Tabuk, pasukan Romawi tidak dijumpai, karena ternyata mereka mengurungkan niat untuk berperang setelah mendengar kemenangan pasukan muslimin di Daumatul Jandal. Sebagian riwayat mengisahkan bahwa keberangkatan ekspedisi ini pada bulan Rajab. Di Wilayah Tabuk, pasukan muslimin tinggal selama 10 hari. Lamanya waktu perjalanan pulang membuat pasukan muslim menghabiskan separuh lebih waktu Bulan Ramadhan di perjalanan. Mereka baru sampai kembali ke Madinah pada tanggal 26 Ramadhan. Bisa dibayangkan betapa berat dan lelahnya Bulan Ramadhan yang dialami dalam ekspedisi tersebut.
Itulah beberapa kisah momen berat selama Bulan Ramadhan di masa hidup rasulullah. semoga bisa dipetik pelajaran dan hikmahnya. Selamat menjalankan ibadah puasa Ramadhan 1441 hijriah dengan khusyu'. Meskipun terkendala dengan adanya pandemi Covid 19, namun semoga kita dalam Ramadhan kali ini dapat lulus ujian dan menjadi orang-orang yang bertakwa.

2 komentar:

  1. Covid 19 , tidak ada apa apanya dengan cobaan umat muslim dulu...
    MasyaAllah...terimkasih ilmunya pak...
    Orang islaam harus selalu kuat...

    BalasHapus