Setidaknya terdapat 2 karakter yang menonjol pada Islam yang berkembang di
nusantara, khususnya di Tanah Jawa. Karakter pertama adalah akulturatif,
karakter tersebut di satu sisi membuat Islam Jawa tidaklah merasa perlu untuk mengadopsi
secara presisi atribut-atribut keislaman sebagaimana yang berkembang di Timur
Tengah, selagi hal-hal itu dipandang bukan sebagai hal yang substantif. Adapun
di sisi lain, meskipun telah terjadi islamisasi di Tanah Jawa sejak ratusan
tahun silam, namun Islam Jawa tetap merasa perlu untuk mempertahankan cita rasa
kultur tradisional jawa dan berbagai unsur kebudayaan yang pernah ditorehkan
oleh agama-agama dan kepercayaan-kepercayaan yang datang lebih awal. Unsur-unsur
budaya lama tersebut kemudian berpadu dengan unsur-unsur budaya baru yang
dibawa oleh Islam, sehingga membentuk sesuatu yang baru dan unik.
Karakter kedua dari Islam Jawa adalah keakrabannya
pada simbolisme dalam rangka mengungkapkapkan makna-makna spritual etik
tertentu. Arsitektur bangunan masjid Agung Sunan Kalijaga di Kadilangu Demak
merupakan salah satu contoh saksi bisu kehadiran 2 karakteristik tersebut.
Masjid tersebut merupakan masjid pertama sekaligus yang utama yang dibangun
oleh para wali sebagai cerminan eksistensi Islam di Tanah Jawa. Masjid Agung
Demak tidaklah menggunakan atap berbentuk kubah sebagaimana umumnya bangunan masjid
ala Timur Tengah, melainkan menggunakan atap susun berbentuk limas. Model atap
semacam ini merupakan ciri khas dari model bangunan peribadatan Hindu di era
Majapahit. Saat ini, corak semacam itu masih bisa kita lihat pada banyak
bangunan rumah ibadah di Bali. Wali Songo kemudian mengadopsi model arsitektur
itu pada Masjid Agung Demak dengan memodifikasi jumlah susunan limasnya menjadi
rangkap tiga.
Para wali kemudian membuat simbolisme makna pada atap
susun rangkap tiga tersebut yang didasarkan pada konsep spritual etik dalam
tradisi Islam. Atap susun rangkap tiga tersebut melambangkan 3 doktrin ajaran
dalam Islam sebagaimana yang dinyatakan dalam hadist nabi yang meliputi iman,
islam, dan ihsan. Doktrin iman berisi kepercayaan dan keyakinan atas eksistensi
hal-hal yang ghaib yang dirumuskan meliputi 6 hal yang selanjutnya dikenal
sebagai rukun iman. Enam hal tersebut antara lain: iman kepada keberadaan
Allah, para malaikat, para nabi, kitab-kitab Allah, datangnya hari kiamat, dan
takdir.
Sedangkan doktrin Islam berisi amaliyah pokok yang
harus dilakukan oleh seorang yang mengaku beriman dan memutuskan memeluk agama
Islam. Amaliyah tersebut terdiri dari 5 hal yang selanjutnya disebut sebagai
rukun Islam, antara lain terdiri dari: mengikrarkan 2 kalimat syahadat,
menjalankan shalat 5 waktu, membayar zakat, mengerjakan puasa di Bulan
Ramadhan, dan menjalankan haji bagi yang mampu.
Adapun doktrin ihsan menyatakan bahwa “sembahlah Allah
seolah-olah engkau melihat-Nya, namun jika engkau tak dapat melihat-Nya (dan
memang manusia tak mungkin dapat melihat-Nya), maka tanamkanlah dalam
perasaanmu bahwa Ia senantiasa memperhatikanmu”. Dari ungkapan tersebut,
doktrin ihsan pada hakikatnya merupakan wujud spritualitas dalam beragama.
Dengan demikian setiap ibadah yang dilakukan oleh seorang muslim, baik itu
berupa shalat, puasa, haji, dzikir, berdoa, maupun membaca Al-Qur’an tidaklah semata-mata
sekedar formalitas dalam beragama asalkan sudah terpenuhi syarat dan rukunnya
secara fiqh. Doktrin ihsan menghendaki bahwa amalan-amalan ibadah tersebut hendaklah
dilakukan dengan kesungguhan hati, khusyu’, dan ikhlas karena selalu merasa
bahwa dirinya selalu berada dalam pengawasan Allah. Dalam konteks hubungan
horisontal sesama manusia, sebagaimana yang dinyatakan oleh Burhanudin Umar
Al-Biqa’i, ihsan merupakan perbuatan baik kepada orang lain yang dilakukan
dengan sepenuh hati dan ketulusan, seolah-olah perbuatan baik tersebut tengah
tertuju pada dirinya sendiri.
Contoh lainnya terkait perpaduan berbagai unsur budaya
dalam arsitektur dapat pula dilihat pada Masjid Menara Kudus yang dibangun oleh
Sunan Kudus. Arsitektur masjid tersebut merupakan perpaduan dari corak
arsitektur bangunan Islam, Hindu dan Budha. Corak arsitektur Islam terlihat
kental pada model bangunan masjid. Adapun di bagian luar, terdapat menara dan
gapura tua dengan ukiran relief yang kental akan nuansa arsitektur Hindu. Demikian
pada bagian serambi depan masjid, terdapat pula gapura serupa sebagai akses pintu
masuk ke dalam masjid. Adapun corak arsitektur dan peninggalan Agama Budha
terdapat pada padasan (tempat air) yang kini difungsikan sebagai tempat
berwudhu. Padasan tersebut berbentuk persegi panjang dilengkapi arca pada
bagian atasnya dan delapan buah pancuran yang melambangkan ajaran Asta Sanghika
Marga, yakni ajaran dalam Agama Budha tentang delapan jalan kebenaran.
Perpaduan arsitektur dari 3 tradisi keagamaan pada bangunan
Masjid Menara Kudus tersebut merupakan simbolitas yang menunjuk kepada makna
konsep keberagamaan yang toleran sebagaimana dianut oleh Islam Jawa. Contoh
lain dari toleransi yang ditunjukkan oleh masyarakat Islam di Kudus kala itu,
mereka bahkan memilih untuk tidak mengkonsumsi daging sapi, melainkan menggantinya
dengan mengkonsumsi daging kerbau. Hal tersebut sebagai bentuk toleransi dengan
para penganut Agama Hindu yang memuliakan Sapi.
Ada pula bentuk ritual Hindu Budha yang tetap
dilestarikan sebagai tradisi di Jawa, yakni ritual Yajnya. Yajnya merupakan
ritual persembahan suci kepada Sang Maha Kuasa. Ritual tersebut kemudian
diadopsi dalam tradisi Islam di Jawa dengan beberapa modifikasi dan dikenal
dengan istilah “selamatan”. Selamatan umumnya berisi lantunan dzikir dan doa
yang dipanjatkan secara bersama-sama. Umumnya tuan rumah juga menyediakan
makanan atau hidangan bagi yang hadir, terkadang juga dibagi-bagikan pada para tetangga
sekitar sebagai sedekah. Hal itu semua bertujuan sebagai sarana permohonan
kepada Tuhan Yang Maha Kuasa agar selalu dilimpahi keselamatan dan kesehatan
serta dijauhkan dari musibah dan bencana. Dalam tradisi Islam Jawa, ritual
selamatan biasa dilakukan pada banyak konteks, antara lain: selamatan
mendirikan dan menempati rumah baru, selamatan pernikahan, selamatan
keberangkatan dan kedatangan haji, selamatan khitanan, selamatan kelahiran,
selamatan pertambahan usia, selamatan kematian, dan lain sebagainya.
Akulturasi ritual selamatan tersebut selanjutnya dijadikan
simbol yang dihubungkan dengan perlambangan makna spritual untuk selalu
mengharap dan memohon akan keselamatan di dunia maupun di akhirat, sebagaimana
hal tersebut memang merupakan salah bagian dalam ajaran Agama Islam. Rasulullah
bahkan mengajarkan doa khusus untuk memohon keselamatan dunia akhirat
sebagaimana juga termaktub dalam Al-Qur’an, misalnya dalam Surat Al-Baqarah
ayat 201. Dalam tradisi Islam Jawa, doa tersebut merupakan doa pamungkas yang
disebut dengan Doa Sapu Jagad yang pasti selalu dibaca dan dijadikan sebagai
penutup dari rangkaian doa-doa yang dipanjatkan.
Pada bidang seni terdapat musik gamelan merupakan
peninggalan budaya yang telah ada sejak era perkembangan Agama Hindu di Jawa.
Kala itu permainan musik gamelan selain digunakan untuk mengiringi prosesi
ritual keagamaan juga merupakan salah satu hiburan yang menarik bagi rakyat.
Para wali mengadopsi permainan musik gamelan tersebut dengan beberapa
modifikasi dan menggunakannya sebagai salah satu media dakwah. Setiap orang
yang datang ingin menikmati pertunjukan tersebut hanya membayar tiket berupa
mengucapkan dua kalimat syahadat. Setelah banyak orang berkumpul, biasanya para
wali akan menyampaikan petuah-petuah sederhana tentang ajaran-ajaran moral
kepada mereka. Adakalanya petuah-petuah moral tersebut disampaikan dalam bentuk
tembang Jawa yang dikarang dan dimainkan oleh para wali. Beberapa tembang Jawa
bernafaskan Islam yang dikarang oleh para wali antara lain: Lir Ilir,
Sluku-Sluku Bathok, Turi Putih, dan lain sebagainya.
Warisan seni budaya Jawa lainnya yang sarat dengan
nilai-nilai spritual Islam adalah pagelaran wayang kulit. Kisah yang
ditampilkan dalam pagelaran wayang kulit sesungguhnya bersumber dari
kisah-kisah dalam tradisi Agama Hindu yang berasal dari India. Namun para wali
menyelipkan nilai-nilai spritual keislaman pada banyak segmennya, dan
menggunakannya sebagai sarana dakwah. Berikutnya, pagelaran wayang kulit, selain
berfungsi sebagai sarana dakwah, juga tampil menjadi tontotan dan hiburan
rakyat yang menarik.
Salah satu kisah atau lakon pagelaran wayang kulit yang
sarat akan ajaran spritual mistisisme Jawa adalah lakon “Wahyu Sastrajendra
Hayuningrat”. Inti dari kisah tersebut adalah kelahiran 4 orang putra-putri
Resi Wisrawa dengan Dewi Sukesi sebagai akibat dari “kesalahan” dalam proses
penjabaran Sastrajendra Hayuningrat yang merupakan ilmu tingkat tinggi yang
mengurai tentang hakikat dan rahasia kehidupan. Keempat putra tersebut digambarkan
memiliki sifat dan karakter yang berbeda-beda yang merupakan simbolisasi dari 4
jenis nafsu yang ada dalam diri manusia. Putra pertama bernama Rahwana, ia
dilahirkan dalam wujud gumpalan darah hitam dan berkarakter seperti api yang
panas dan membakar. Ia dikenal pula dengan nama Dasamuka karena dalam kisah
pewayangan digambarkan sebagai raksasa buas berwajah sepuluh. Rahwana merupakan
simbolisasi dari Nafsu Ammarah, yakni nafsu dalam diri manusia yang mendorong
untuk berprilaku batil, dzalim, culas, dan serakah, menebar angkara murka, serta
membuat kerusakan.
Putra kedua bernama Sarpakenaka, ia dilahirkan dalam
wujud kuku dan berkarakter seperti angin yang berhembus tak menentu. Ia digambarkan
sebagai raksasa perempuan menakutkan yang mudah terpikat kepada laki-laki dan
gemar mengumbar birahi. Ia merupakan simbolisasi dari Nafsu Supiyah/Sufiyah,
yakni nafsu dalam diri manusia yang mendorong seseorang untuk menuruti gejolak
seksual dan birahinya serta hanya cenderung hanya mengutamakan kesenangan dan
kenikmatan semata. Dalam kisah pewayangan, Sarpakenaka berperan selalu
mendukung dan membantu ambisi-ambisi jahat yang dilakukan oleh Rahwana serta berkontribusi
mendapatkan keuntungan dari tindakan-tindakan itu.
Putra ketiga adalah Kumbakarna yang terlahir berupa
sepasang telinga dan berkarakter seperti air. Dalam kisah pewayangan ia
digambarkan sebagai raksasa sebesar gunung yang berkarakter pemurung dan suka
menyendiri namun gemar makan dan tidur secara berlebihan. Ia sebenarnya
mengingkari dan mencela tindakan-tindakan buruk yang dilakukan oleh Rahwana,
namun ia memilih untuk diam karena tak mampu untuk melawan ataupun merubahnya. Ia
merupakan perlambangan dari Nafsu Aluwamah atau Lawwamah, yakni potensi nafsu
dalam diri manusia yang cenderung menyesali dosa dan kesalahan yang telah
dilakukan.
Adapun putra keempat adalah Wibisana yang terlahir
dalam wujud sempurna sebagai seorang manusia dan berkarakter seperti tanah yang
tenang dan teguh. Ia digambarkan sebagai sosok pemuda yang berparas tampan,
berkarakter bijak, dan cinta kepada kepada kebajikan. Ia sangat menentang
terhadap tindakan dan perilaku buruk yang dilakukan oleh Rahwana, dan selalu berupaya
keras untuk mengoreksi dan mengubahnya meskipun dengan resiko akhirnya menerima
hukuman dan penganiayaan dari kakaknya.
Simbolisme wujud fisik dan perangai dari keempat tokoh
wayang tersebut melambangkan hierarki 4 nafsu manusia dalam ajaran filosofi
Jawa. Semakin seseorang terbiasa mengumbar nafsunya, maka dirinya akan
didominasi oleh nafsu-nafsu rendah dan bergejolak yang cenderung mendorong
kepada perilaku-perilaku buruk. Namun jika seseorang mengekang nafsunya, maka
perwujudan nafsu dalam dirinya akan menjadi nafsu tinggi yang tenang dan
cenderung mendorong kepada perilaku-perilaku baik.
Akhir nasib dari 4 karakter bersaudara tersebut
bersambung pada lakon wayang “Perang Ramayana”, dimana Rahwana dalam lakon
tersebut telah melakukan kesalahan besar yang memicu terjadinya perang besar
antara pihaknya melawan pihak Sri Rama. Sri Rama merupakan personifikasi dewa
yang mewujud ke dalam sosok manusia bijak, yang mencintai keadilan dan tindakan
kebajikan. Dalam perang tersebut, Rahwana didukung penuh oleh Sarpakenaka dan
seluruh rakyatnya yang berwujud raksasa yang merupakan personifikasi dari
elemen kejahatan dan potensi keburukan.
Adapun Kumbakarna yang sebenarnya mengingkari tindakan
buruk yang dilakukan oleh Rahwana, karena ketidakmampuannya dalam mengubah
perilaku tersebut, membuatnya tersandera dan terpaksa memihak kubu Rahwana yang
akhirnya menjadikannya sebagai tumbal dalam Perang tersebut. Sedangkan
Wibisana, karena komitmen dan keteguhannya dalam berpihak pada kebajikan dan
keadilan membuatnya meninggalkan Rahwana dan berpihak pada kubu Sri Rama.
Perang Ramayana berakhir dengan keberhasilan kubu Sri Rama dalam menghancurkan
dan membinasakan kubu Rahwana.
Ajaran tentang nafsu dalam diri manusia sebagaimana
yang dipahami oleh Filsafat Mistik Jawa, nampak pada banyak hal bersesuaian
dengan konsep nafsu dalam tradisi Islam. Dalam konsep ajaran tasawuf, nafsu
dalam diri manusia dibedakan menjadi 7 karakter yang tersusun sebagai hierarki
mulai yang terendah hingga tertinggi. Nafsu yang terendah adalah Nafsu Ammarah,
disusul dengan Nafsu Lawwamah. Keduanya memiliki pengertian yang kurang lebih
sama dengan yang dipahami dalam tradisi mistisisme Jawa. Bedanya hanya dalam
tradisi sufistik, tak dikenal jenis Nafsu Supiyah/sufiyah sebagaimana dikenal
dalam tradisi mistisisme Jawa. Nampaknya karakter dari Nafsu Supiyah telah
tercakup sebagai karakter dari Nafsu Ammarah.
Dalam Al-Qur’an, keberadaan Nafsu Ammarah digambarkan
sebagai nafsu yang selalu menyuruh kepada keburukan sebagaimana yang disebutkan
dalam Surat Yusuf ayat 53. Adapun Nafsu Lawwamah adalah nafsu yang telah
memiliki kesadaran akan kebenaran, meskipun masih lemah dan senantiasa
menyesali dan mencela akan kesalahan dan dosa yang telah diperbuat. Namun demikian,
nafsu ini gampang sekali terpengaruh oleh dorongan-dorongan untuk melakukan
kebatilan, yang kemudian ia sesali, yang mana hal tersebut menjadi semacam
siklus yang berulang. Dalam Al-Qur’an, keberadaan nafsu ini dipakai sebagai
sumpah Allah sebagaimana disebutkan dalam Surat Al-Qiyamah ayat 2.
Pada urutan ketiga terdapat Nafsu Mulhamah, sebagaimana
yang dijelaskan secara singkat dalam Surat Asy-Syams ayat 7-10. Dalam ayat
tersebut, Nafsu Mulhamah digambarkan sebagai nafsu yang telah mendapatkan ilham,
baik ilham yang mendorong pada ketakwaan maupun ilham yang mendorong pada kedosaan.
Gambaran tersebut membuat Nafsu Mulhamah berada dalam kondisi bimbang dan
terombang-ambing antara ketaatan dan kemaksiatan, kadang taat terkadang pula
bermaksiat. Jenis nafsu ini pun tidak tercakup dalam 4 hierarki nafsu yang
dikenal dalam konsepsi ajaran Filsafat Jawa.
Pada tingkat berikutnya, konsepsi tasawuf masih
memiliki 4 macam nafsu yang merupakan nafsu-nafsu tinggi dengan kecenderungan baik,
antara lain: Nafsu Mutmainah, Nafsu Radhiyah, Nafsu Mardhiyyah, dan Nafsu
Kamilah. Diantara keempat jenis nafsu baik tersebut, hanya konsep Nafsu Mutmainah
yang dikenal dalam ajaran spritual Jawa. Sesuai dengan namanya, Nafsu Mutmainah
adalah jenis nafsu yang tenang, tak bergejolak, dan cenderung mengajak kepada
kebaikan. Kemudian Nafsu Radhiyah merupakan nafsu yang membuat pemiliknya bisa
menerima dengan ikhlas terhadap semua hal yang Allah putuskan, baik ataupun
buruk, menyenangkan ataupun sebaliknya. Selanjutnya adalah Nafsu Mardhiyyah,
yakni jenis nafsu yang telah membuat Allah ridha terhadap pemiliknya, sehingga
apapun yang diminta akan Allah kabulkan. Jenis nafsu seperti ini dimiliki oleh
para kekasih dan wali Allah. Ketiga jenis nafsu tersebut disinggung dan disebutkan
secara berurutan dalam Surat Al-Fajr ayat 27-29. Adapun Nafsu Kamilah adalah
jenis nafsu yang telah berada pada tingkatan paripurna, yang bersifat suci dan
sempurna, serta hanya dimiliki oleh para nabi dan rasul.
Ide tentang peperangan antara potensi kebaikan dan
potensi kebatilan juga dilambangkan dalam lakon wayang “Perang Bharatayudha”.
Perang tersebut terjadi antara kubu Pandawa yang merupakan simbolisme dari
potensi kebaikan melawan kubu Kurawa yang merupakan simbolisme dari angkara
murka. Perang tersebut berakhir dengan kemenangan bagi pihak Pandawa dan
kehancuran bagi pihak Kurawa. Ide peperangan yang baik dengan yang batil yang
berakhir dengan hancurnya yang batil sebagaimana ditampilkan dalam lakon wayang
“Perang Ramayana” maupun “Perang Bharatayudha” selaras dengan konsep dalam
ajaran Islam sebagaimana termuat QS. Al-Isra’ ayat 81
وَقُلۡ جَآءَ ٱلۡحَقُّ
وَزَهَقَ ٱلۡبَٰطِلُۚ إِنَّ ٱلۡبَٰطِلَ كَانَ زَهُوقٗا
Dan katakanlah: "Yang benar telah
datang dan yang batil telah lenyap". Sesungguhnya yang batil itu adalah
sesuatu yang pasti lenyap.
Pandawa Lima sebagai personifikasi potensi kebaikan pun tak lepas dari
simbolitas pemaknaan dalam tradisi Islam Jawa pada masing-masing personilnya. Si
sulung Yudhistira atau Puntadewa, merupakan sosok yang arif, sabar, cinta pada
kebajikan dan keadilan. Ia memiliki pusaka andalan berupa Azimat bernama
Kalimasada. Dengan Azimat Kalimasada yang dimilikinya, dalam Perang
Bharatayudha, Yudhistira berhasil menumbangkan ajian Candrabirawa yang nyaris
tak terkalahkan, milik Prabu Salya, salah seorang sekutu Kurawa. Yudhistira dan
Azimat Kalimasada yang dimilikinya merupakan simbolitas dari ikrar syahadat
yang dalam tradisi Islam Jawa dipahami sebagai pintu menuju hidayah dan
petunjuk Tuhan sehingga menjadi azimat dan senjata pamungkas dalam melawan
kebatilan, sekuat apapun.
Kemudian Bima atau Werkudara digambarkan sebagai sosok
yang tenang, tak suka basa-basi, dan tak banyak bicara. Jika bicara,
perkataannya singkat, tegas dan mantap. Ia memiliki pusaka berupa Kuku
Pancanaka di salah satu jarinya, sehingga dalam karakter wayang, jarinya
seperti tengah menunjuk sebagaimana jari orang yang tengah pada posisi tahiyat
dalam shalat. Dengan kuku tersebut, Werkudara bisa merobek dan mengoyak
lawan-lawannya dengan mudah. Senjata kedua yang dimiliki oleh Werkudara adalah
Gadha Rujakpala. Dengan gadha tersebut, Werkudara dengan mudah dapat
menghancurkan benda sekeras apapun dengan sekali pukul. Sebagai titisan Dewa Bayu,
Werkudara dapat berlari cepat bagaikan angin. Dengan kecepatan dan tubuhnya
yang besar, keras, dan kokoh, ia mampu menerjang rintangan apapun yang ada di
depannya.
Demikian karakter dan personifikasi sosok Werkudara
kemudian disimbolkan sebagai Ibadah Shalat. Seseorang yang menjalankan ibadah
shalat dengan istiqamah, akan menjadi pribadi yang tenang dan memiliki
perkataan yang mantap dan membekas kuat dalam hati sandubari lawan bicaranya. Demikian
pula kekhusyuan dalam menjalankan shalat, akan menjadi penolong bagi seseorang sehingga
dapt melalui setiap cobaan dan kesulitan dalam kehidupannya dengan mudah. Dalam
Al-Qur’an, misalnya pada Surat Al-Baqarah ayat 153, Allah menyerukan agar
seorang mukmin hendaknya senantiasa memohon pertolongan atas
permasalahan-permasalahannya melalui perantara sabar dan shalat.
Selanjutnya Arjuna atau Janaka digambarkan sebagai
sosok yang elok rupawan, gemar bertapa dan puasa. Dengan kegemarannya dalam
berpuasa dan laku tirakat, membuatnya dengan mudah mendapatkan banyak anugerah
dari Sang Maha Kuasa. Diantara anugerah yang diperolehnya adalah beberapa
pusaka yang sakti dan ampuh dari dewa, antara lain: Keris Pulanggeni, Panah Pasopati
dan Ardadedali. Ia pun memperoleh keistimewaan disukai banyak wanita dan mempunyai
istri banyak. Dari istri-istrinya, Arjuna memiliki anak turun yang banyak,
hebat, dan linuwih. Ia bahkan pernah beberapa kali mendapatkan anugerah berupa
tahta kekuasaan sebagai seorang raja. Demikianlah karakter sosok Arjuna yang selanjutnya
menjadi simbol dari Ibadah puasa. Barangsiapa yang gemar berpuasa, baik puasa
wajib maupun puasa sunnah, maka selain aneka kemudahan, akan ada banyak
anugerah dan keistimewaan yang akan dapat diperoleh.
Adapun Nakula dan Sadewa merupakan saudara kembar yang
merupakan bungsu dari Pandawa. Keduanya digambarkan sebagai sosok yang periang,
ringan tangan, dan gemar berbagi dengan sesama. Karakter tersebut membuat
keduanya dicintai dan dikasihi oleh sesama. Keduanya merupakan perlambangan
dari ibadah zakat, infak, sedekah, atau jenis pemberian lainnya. Karena memang
demikianlah seseorang yang gemar bersedekah, beramal, dan membantu terhadap
sesama, khususnya mereka yang tengah membutuhkan, maka akan membuatnya dikasihi
oleh sesama. Selain itu, Tuhan akan menjadikan hidupnya bahagia, terasa ringan,
dan penuh keberkahan.
Simbolisme Islam Jawa bahkan juga merambah pada dunia
kuliner. Dalam tradisi masyarakat Islam di Jawa, dikenal keberadaan kue Apem,
yakni jajanan yang terbuat dari tepung beras. Kue Apem bagi masyarakat Islam
Jawa tidak sekedar sebagai kuliner ataupun jajanan, melainkan juga sebagai
simbolisasi dari ungkapan bahasa arab “afwan” atau “afuwwun”, yang artinya
adalah “ampunan. Kue Apem di masa silam dibuat dan disuguhkan salah satunya
pada momen menjelang datangnya Bulan Ramadhan. Dalam istilah Jawa momen
tersebut dikenal dengan nama “megengan”, berasal dari kata “megeng” yang
artinya adalah “menahan”. Simbolisasi-simbolisasi tersebut bersesuaian dengan
konsep-konsep dalam ajaran Agama Islam dimana puasa dalam bahasa Arab dinamakan
“shaum” atau “shiyam” yang artinya adalah “menahan”. Demikian pula dalam
beberapa hadist dinyatakan bahwa Bulan Ramadhan adalah momen istimewa yang mana
di dalamnya tersedia begitu besar ampunan dari Allah bagi siapapun yang mau
bersungguh-sungguh dalam menjalaninya.
Demikian pula ketika Bulan Ramadhan telah usai dan
memasuki perayaan Idul Fitri, masyarakat Islam di Jawa membuat simbolisasi
berupa makanan ketupat. Ketupat atau yang dalam bahasa Jawa di sebut “kupat”
merupakan makanan mengenyangkan terbuat dari beras yang dibungkus dengan
“janur”, atau daun kelapa yang masih muda. Nama “kupat” merupakan akronim
sekaligus simbolisasi dari “ngaku lepat” atau “mengakui kesalahan”. Hal inipun
bersesuaian dengan konsep ajaran Islam yang mana setelah Bulan Ramadhan usai,
seseorang akan dianggap masih merugi jika belum mendapat permaafan dari sesama,
terlebih dari orang-orang terdekatnya. Maka dari itu setiap muslim harus
menyadari kesalahan masing-masing dan kemudian saling memaafkan satu sama lain.
Terma “kupat” juga mengacu pada akronim dan
simbolisasi makna dari “laku papat” atau “empat macam tindakan yang harus
dilakukan”. Karena dalam momen perayaan Idul Fitri setidaknya memang ada 4 hal
yang harus dilakukan oleh seorang muslim. Hal pertama adalah “lebaran”, berasal
dari kata “lebar”, yang berarti “luas”. Dengan demikian laku “lebaran” berarti
membuka selebar-lebar pintu maaf atas segala kesalahan dan kekeliruan sesama.
Istilah lebaran juga dipakai oleh masyarakat Indonesia sebagai nama lain dari
perayaan Idul Fitri. Hal kedua adalah “luberan”, berasal dari kata “luber” yang
berarti “melimpah” atau “meluap”. Laku “luberan” berarti melimpahi atau
memberikan sedekah atau sebagian rizki kepada sesama, khususnya yang tengah
membutuhkan. Dalam tradisi perayaan Idul Fitri dalam masyarakat Islam di
Indonesia, khususnya di Pulau Jawa, prilaku luberan salah satunya diwujudkan
dengan menghidangkan suguhan jajanan kue dan memberi makan berupa menu lontong
ketupat, serta memberi “sangu” yakni semacam angpao bagi anak-anak.
Laku yang ketiga adalah “leburan”, berasal dari kata
“lebur” yang bermakna “sirna”. Leburan berarti sirnanya dosa dan kesalahan
seseorang lantaran baik dosa kepada Tuhannya ataupun kesalahan terhadap sesama
manusia. Hal ini karena ia telah melalui Bulan Ramadhan dengan penuh
kesungguhan dan telah saling memberi maaf antar sesama dalam perayaan Idul
Fitri. Kemudian laku yang keempat adalah “laburan”, berasal dari kata ‘labur”
yang bermakna mengecat “dinding dengan warna putih agar terlihat bersih”.
Dengan demikian “laburan” adalah kondisi seseorang yang telah kembali kepada
fitrah atau kesucian, karena telah hilang segala dosa dan kesalahan dalam
dirinya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar