Rabu, 17 Juni 2020

Spritualitas dan Kearifan Islam Jawa

Setidaknya terdapat 2 karakter yang menonjol pada Islam yang berkembang di nusantara, khususnya di Tanah Jawa. Karakter pertama adalah akulturatif, karakter tersebut di satu sisi membuat Islam Jawa tidaklah merasa perlu untuk mengadopsi secara presisi atribut-atribut keislaman sebagaimana yang berkembang di Timur Tengah, selagi hal-hal itu dipandang bukan sebagai hal yang substantif. Adapun di sisi lain, meskipun telah terjadi islamisasi di Tanah Jawa sejak ratusan tahun silam, namun Islam Jawa tetap merasa perlu untuk mempertahankan cita rasa kultur tradisional jawa dan berbagai unsur kebudayaan yang pernah ditorehkan oleh agama-agama dan kepercayaan-kepercayaan yang datang lebih awal. Unsur-unsur budaya lama tersebut kemudian berpadu dengan unsur-unsur budaya baru yang dibawa oleh Islam, sehingga membentuk sesuatu yang baru dan unik.

Karakter kedua dari Islam Jawa adalah keakrabannya pada simbolisme dalam rangka mengungkapkapkan makna-makna spritual etik tertentu. Arsitektur bangunan masjid Agung Sunan Kalijaga di Kadilangu Demak merupakan salah satu contoh saksi bisu kehadiran 2 karakteristik tersebut. Masjid tersebut merupakan masjid pertama sekaligus yang utama yang dibangun oleh para wali sebagai cerminan eksistensi Islam di Tanah Jawa. Masjid Agung Demak tidaklah menggunakan atap berbentuk kubah sebagaimana umumnya bangunan masjid ala Timur Tengah, melainkan menggunakan atap susun berbentuk limas. Model atap semacam ini merupakan ciri khas dari model bangunan peribadatan Hindu di era Majapahit. Saat ini, corak semacam itu masih bisa kita lihat pada banyak bangunan rumah ibadah di Bali. Wali Songo kemudian mengadopsi model arsitektur itu pada Masjid Agung Demak dengan memodifikasi jumlah susunan limasnya menjadi rangkap tiga.

Para wali kemudian membuat simbolisme makna pada atap susun rangkap tiga tersebut yang didasarkan pada konsep spritual etik dalam tradisi Islam. Atap susun rangkap tiga tersebut melambangkan 3 doktrin ajaran dalam Islam sebagaimana yang dinyatakan dalam hadist nabi yang meliputi iman, islam, dan ihsan. Doktrin iman berisi kepercayaan dan keyakinan atas eksistensi hal-hal yang ghaib yang dirumuskan meliputi 6 hal yang selanjutnya dikenal sebagai rukun iman. Enam hal tersebut antara lain: iman kepada keberadaan Allah, para malaikat, para nabi, kitab-kitab Allah, datangnya hari kiamat, dan takdir.

Sedangkan doktrin Islam berisi amaliyah pokok yang harus dilakukan oleh seorang yang mengaku beriman dan memutuskan memeluk agama Islam. Amaliyah tersebut terdiri dari 5 hal yang selanjutnya disebut sebagai rukun Islam, antara lain terdiri dari: mengikrarkan 2 kalimat syahadat, menjalankan shalat 5 waktu, membayar zakat, mengerjakan puasa di Bulan Ramadhan, dan menjalankan haji bagi yang mampu.

Adapun doktrin ihsan menyatakan bahwa “sembahlah Allah seolah-olah engkau melihat-Nya, namun jika engkau tak dapat melihat-Nya (dan memang manusia tak mungkin dapat melihat-Nya), maka tanamkanlah dalam perasaanmu bahwa Ia senantiasa memperhatikanmu”. Dari ungkapan tersebut, doktrin ihsan pada hakikatnya merupakan wujud spritualitas dalam beragama. Dengan demikian setiap ibadah yang dilakukan oleh seorang muslim, baik itu berupa shalat, puasa, haji, dzikir, berdoa, maupun membaca Al-Qur’an tidaklah semata-mata sekedar formalitas dalam beragama asalkan sudah terpenuhi syarat dan rukunnya secara fiqh. Doktrin ihsan menghendaki bahwa amalan-amalan ibadah tersebut hendaklah dilakukan dengan kesungguhan hati, khusyu’, dan ikhlas karena selalu merasa bahwa dirinya selalu berada dalam pengawasan Allah. Dalam konteks hubungan horisontal sesama manusia, sebagaimana yang dinyatakan oleh Burhanudin Umar Al-Biqa’i, ihsan merupakan perbuatan baik kepada orang lain yang dilakukan dengan sepenuh hati dan ketulusan, seolah-olah perbuatan baik tersebut tengah tertuju pada dirinya sendiri.

Contoh lainnya terkait perpaduan berbagai unsur budaya dalam arsitektur dapat pula dilihat pada Masjid Menara Kudus yang dibangun oleh Sunan Kudus. Arsitektur masjid tersebut merupakan perpaduan dari corak arsitektur bangunan Islam, Hindu dan Budha. Corak arsitektur Islam terlihat kental pada model bangunan masjid. Adapun di bagian luar, terdapat menara dan gapura tua dengan ukiran relief yang kental akan nuansa arsitektur Hindu. Demikian pada bagian serambi depan masjid, terdapat pula gapura serupa sebagai akses pintu masuk ke dalam masjid. Adapun corak arsitektur dan peninggalan Agama Budha terdapat pada padasan (tempat air) yang kini difungsikan sebagai tempat berwudhu. Padasan tersebut berbentuk persegi panjang dilengkapi arca pada bagian atasnya dan delapan buah pancuran yang melambangkan ajaran Asta Sanghika Marga, yakni ajaran dalam Agama Budha tentang delapan jalan kebenaran.

Perpaduan arsitektur dari 3 tradisi keagamaan pada bangunan Masjid Menara Kudus tersebut merupakan simbolitas yang menunjuk kepada makna konsep keberagamaan yang toleran sebagaimana dianut oleh Islam Jawa. Contoh lain dari toleransi yang ditunjukkan oleh masyarakat Islam di Kudus kala itu, mereka bahkan memilih untuk tidak mengkonsumsi daging sapi, melainkan menggantinya dengan mengkonsumsi daging kerbau. Hal tersebut sebagai bentuk toleransi dengan para penganut Agama Hindu yang memuliakan Sapi.

Ada pula bentuk ritual Hindu Budha yang tetap dilestarikan sebagai tradisi di Jawa, yakni ritual Yajnya. Yajnya merupakan ritual persembahan suci kepada Sang Maha Kuasa. Ritual tersebut kemudian diadopsi dalam tradisi Islam di Jawa dengan beberapa modifikasi dan dikenal dengan istilah “selamatan”. Selamatan umumnya berisi lantunan dzikir dan doa yang dipanjatkan secara bersama-sama. Umumnya tuan rumah juga menyediakan makanan atau hidangan bagi yang hadir, terkadang juga dibagi-bagikan pada para tetangga sekitar sebagai sedekah. Hal itu semua bertujuan sebagai sarana permohonan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa agar selalu dilimpahi keselamatan dan kesehatan serta dijauhkan dari musibah dan bencana. Dalam tradisi Islam Jawa, ritual selamatan biasa dilakukan pada banyak konteks, antara lain: selamatan mendirikan dan menempati rumah baru, selamatan pernikahan, selamatan keberangkatan dan kedatangan haji, selamatan khitanan, selamatan kelahiran, selamatan pertambahan usia, selamatan kematian, dan lain sebagainya.

Akulturasi ritual selamatan tersebut selanjutnya dijadikan simbol yang dihubungkan dengan perlambangan makna spritual untuk selalu mengharap dan memohon akan keselamatan di dunia maupun di akhirat, sebagaimana hal tersebut memang merupakan salah bagian dalam ajaran Agama Islam. Rasulullah bahkan mengajarkan doa khusus untuk memohon keselamatan dunia akhirat sebagaimana juga termaktub dalam Al-Qur’an, misalnya dalam Surat Al-Baqarah ayat 201. Dalam tradisi Islam Jawa, doa tersebut merupakan doa pamungkas yang disebut dengan Doa Sapu Jagad yang pasti selalu dibaca dan dijadikan sebagai penutup dari rangkaian doa-doa yang dipanjatkan.

Pada bidang seni terdapat musik gamelan merupakan peninggalan budaya yang telah ada sejak era perkembangan Agama Hindu di Jawa. Kala itu permainan musik gamelan selain digunakan untuk mengiringi prosesi ritual keagamaan juga merupakan salah satu hiburan yang menarik bagi rakyat. Para wali mengadopsi permainan musik gamelan tersebut dengan beberapa modifikasi dan menggunakannya sebagai salah satu media dakwah. Setiap orang yang datang ingin menikmati pertunjukan tersebut hanya membayar tiket berupa mengucapkan dua kalimat syahadat. Setelah banyak orang berkumpul, biasanya para wali akan menyampaikan petuah-petuah sederhana tentang ajaran-ajaran moral kepada mereka. Adakalanya petuah-petuah moral tersebut disampaikan dalam bentuk tembang Jawa yang dikarang dan dimainkan oleh para wali. Beberapa tembang Jawa bernafaskan Islam yang dikarang oleh para wali antara lain: Lir Ilir, Sluku-Sluku Bathok, Turi Putih, dan lain sebagainya.

Warisan seni budaya Jawa lainnya yang sarat dengan nilai-nilai spritual Islam adalah pagelaran wayang kulit. Kisah yang ditampilkan dalam pagelaran wayang kulit sesungguhnya bersumber dari kisah-kisah dalam tradisi Agama Hindu yang berasal dari India. Namun para wali menyelipkan nilai-nilai spritual keislaman pada banyak segmennya, dan menggunakannya sebagai sarana dakwah. Berikutnya, pagelaran wayang kulit, selain berfungsi sebagai sarana dakwah, juga tampil menjadi tontotan dan hiburan rakyat yang menarik.

Salah satu kisah atau lakon pagelaran wayang kulit yang sarat akan ajaran spritual mistisisme Jawa adalah lakon “Wahyu Sastrajendra Hayuningrat”. Inti dari kisah tersebut adalah kelahiran 4 orang putra-putri Resi Wisrawa dengan Dewi Sukesi sebagai akibat dari “kesalahan” dalam proses penjabaran Sastrajendra Hayuningrat yang merupakan ilmu tingkat tinggi yang mengurai tentang hakikat dan rahasia kehidupan. Keempat putra tersebut digambarkan memiliki sifat dan karakter yang berbeda-beda yang merupakan simbolisasi dari 4 jenis nafsu yang ada dalam diri manusia. Putra pertama bernama Rahwana, ia dilahirkan dalam wujud gumpalan darah hitam dan berkarakter seperti api yang panas dan membakar. Ia dikenal pula dengan nama Dasamuka karena dalam kisah pewayangan digambarkan sebagai raksasa buas berwajah sepuluh. Rahwana merupakan simbolisasi dari Nafsu Ammarah, yakni nafsu dalam diri manusia yang mendorong untuk berprilaku batil, dzalim, culas, dan serakah, menebar angkara murka, serta membuat kerusakan.

Putra kedua bernama Sarpakenaka, ia dilahirkan dalam wujud kuku dan berkarakter seperti angin yang berhembus tak menentu. Ia digambarkan sebagai raksasa perempuan menakutkan yang mudah terpikat kepada laki-laki dan gemar mengumbar birahi. Ia merupakan simbolisasi dari Nafsu Supiyah/Sufiyah, yakni nafsu dalam diri manusia yang mendorong seseorang untuk menuruti gejolak seksual dan birahinya serta hanya cenderung hanya mengutamakan kesenangan dan kenikmatan semata. Dalam kisah pewayangan, Sarpakenaka berperan selalu mendukung dan membantu ambisi-ambisi jahat yang dilakukan oleh Rahwana serta berkontribusi mendapatkan keuntungan dari tindakan-tindakan itu.

Putra ketiga adalah Kumbakarna yang terlahir berupa sepasang telinga dan berkarakter seperti air. Dalam kisah pewayangan ia digambarkan sebagai raksasa sebesar gunung yang berkarakter pemurung dan suka menyendiri namun gemar makan dan tidur secara berlebihan. Ia sebenarnya mengingkari dan mencela tindakan-tindakan buruk yang dilakukan oleh Rahwana, namun ia memilih untuk diam karena tak mampu untuk melawan ataupun merubahnya. Ia merupakan perlambangan dari Nafsu Aluwamah atau Lawwamah, yakni potensi nafsu dalam diri manusia yang cenderung menyesali dosa dan kesalahan yang telah dilakukan.

Adapun putra keempat adalah Wibisana yang terlahir dalam wujud sempurna sebagai seorang manusia dan berkarakter seperti tanah yang tenang dan teguh. Ia digambarkan sebagai sosok pemuda yang berparas tampan, berkarakter bijak, dan cinta kepada kepada kebajikan. Ia sangat menentang terhadap tindakan dan perilaku buruk yang dilakukan oleh Rahwana, dan selalu berupaya keras untuk mengoreksi dan mengubahnya meskipun dengan resiko akhirnya menerima hukuman dan penganiayaan dari kakaknya.

Simbolisme wujud fisik dan perangai dari keempat tokoh wayang tersebut melambangkan hierarki 4 nafsu manusia dalam ajaran filosofi Jawa. Semakin seseorang terbiasa mengumbar nafsunya, maka dirinya akan didominasi oleh nafsu-nafsu rendah dan bergejolak yang cenderung mendorong kepada perilaku-perilaku buruk. Namun jika seseorang mengekang nafsunya, maka perwujudan nafsu dalam dirinya akan menjadi nafsu tinggi yang tenang dan cenderung mendorong kepada perilaku-perilaku baik.

Akhir nasib dari 4 karakter bersaudara tersebut bersambung pada lakon wayang “Perang Ramayana”, dimana Rahwana dalam lakon tersebut telah melakukan kesalahan besar yang memicu terjadinya perang besar antara pihaknya melawan pihak Sri Rama. Sri Rama merupakan personifikasi dewa yang mewujud ke dalam sosok manusia bijak, yang mencintai keadilan dan tindakan kebajikan. Dalam perang tersebut, Rahwana didukung penuh oleh Sarpakenaka dan seluruh rakyatnya yang berwujud raksasa yang merupakan personifikasi dari elemen kejahatan dan potensi keburukan.

Adapun Kumbakarna yang sebenarnya mengingkari tindakan buruk yang dilakukan oleh Rahwana, karena ketidakmampuannya dalam mengubah perilaku tersebut, membuatnya tersandera dan terpaksa memihak kubu Rahwana yang akhirnya menjadikannya sebagai tumbal dalam Perang tersebut. Sedangkan Wibisana, karena komitmen dan keteguhannya dalam berpihak pada kebajikan dan keadilan membuatnya meninggalkan Rahwana dan berpihak pada kubu Sri Rama. Perang Ramayana berakhir dengan keberhasilan kubu Sri Rama dalam menghancurkan dan membinasakan kubu Rahwana.

Ajaran tentang nafsu dalam diri manusia sebagaimana yang dipahami oleh Filsafat Mistik Jawa, nampak pada banyak hal bersesuaian dengan konsep nafsu dalam tradisi Islam. Dalam konsep ajaran tasawuf, nafsu dalam diri manusia dibedakan menjadi 7 karakter yang tersusun sebagai hierarki mulai yang terendah hingga tertinggi. Nafsu yang terendah adalah Nafsu Ammarah, disusul dengan Nafsu Lawwamah. Keduanya memiliki pengertian yang kurang lebih sama dengan yang dipahami dalam tradisi mistisisme Jawa. Bedanya hanya dalam tradisi sufistik, tak dikenal jenis Nafsu Supiyah/sufiyah sebagaimana dikenal dalam tradisi mistisisme Jawa. Nampaknya karakter dari Nafsu Supiyah telah tercakup sebagai karakter dari Nafsu Ammarah.

Dalam Al-Qur’an, keberadaan Nafsu Ammarah digambarkan sebagai nafsu yang selalu menyuruh kepada keburukan sebagaimana yang disebutkan dalam Surat Yusuf ayat 53. Adapun Nafsu Lawwamah adalah nafsu yang telah memiliki kesadaran akan kebenaran, meskipun masih lemah dan senantiasa menyesali dan mencela akan kesalahan dan dosa yang telah diperbuat. Namun demikian, nafsu ini gampang sekali terpengaruh oleh dorongan-dorongan untuk melakukan kebatilan, yang kemudian ia sesali, yang mana hal tersebut menjadi semacam siklus yang berulang. Dalam Al-Qur’an, keberadaan nafsu ini dipakai sebagai sumpah Allah sebagaimana disebutkan dalam Surat Al-Qiyamah ayat 2.

Pada urutan ketiga terdapat Nafsu Mulhamah, sebagaimana yang dijelaskan secara singkat dalam Surat Asy-Syams ayat 7-10. Dalam ayat tersebut, Nafsu Mulhamah digambarkan sebagai nafsu yang telah mendapatkan ilham, baik ilham yang mendorong pada ketakwaan maupun ilham yang mendorong pada kedosaan. Gambaran tersebut membuat Nafsu Mulhamah berada dalam kondisi bimbang dan terombang-ambing antara ketaatan dan kemaksiatan, kadang taat terkadang pula bermaksiat. Jenis nafsu ini pun tidak tercakup dalam 4 hierarki nafsu yang dikenal dalam konsepsi ajaran Filsafat Jawa.

Pada tingkat berikutnya, konsepsi tasawuf masih memiliki 4 macam nafsu yang merupakan nafsu-nafsu tinggi dengan kecenderungan baik, antara lain: Nafsu Mutmainah, Nafsu Radhiyah, Nafsu Mardhiyyah, dan Nafsu Kamilah. Diantara keempat jenis nafsu baik tersebut, hanya konsep Nafsu Mutmainah yang dikenal dalam ajaran spritual Jawa. Sesuai dengan namanya, Nafsu Mutmainah adalah jenis nafsu yang tenang, tak bergejolak, dan cenderung mengajak kepada kebaikan. Kemudian Nafsu Radhiyah merupakan nafsu yang membuat pemiliknya bisa menerima dengan ikhlas terhadap semua hal yang Allah putuskan, baik ataupun buruk, menyenangkan ataupun sebaliknya. Selanjutnya adalah Nafsu Mardhiyyah, yakni jenis nafsu yang telah membuat Allah ridha terhadap pemiliknya, sehingga apapun yang diminta akan Allah kabulkan. Jenis nafsu seperti ini dimiliki oleh para kekasih dan wali Allah. Ketiga jenis nafsu tersebut disinggung dan disebutkan secara berurutan dalam Surat Al-Fajr ayat 27-29. Adapun Nafsu Kamilah adalah jenis nafsu yang telah berada pada tingkatan paripurna, yang bersifat suci dan sempurna, serta hanya dimiliki oleh para nabi dan rasul.

Ide tentang peperangan antara potensi kebaikan dan potensi kebatilan juga dilambangkan dalam lakon wayang “Perang Bharatayudha”. Perang tersebut terjadi antara kubu Pandawa yang merupakan simbolisme dari potensi kebaikan melawan kubu Kurawa yang merupakan simbolisme dari angkara murka. Perang tersebut berakhir dengan kemenangan bagi pihak Pandawa dan kehancuran bagi pihak Kurawa. Ide peperangan yang baik dengan yang batil yang berakhir dengan hancurnya yang batil sebagaimana ditampilkan dalam lakon wayang “Perang Ramayana” maupun “Perang Bharatayudha” selaras dengan konsep dalam ajaran Islam sebagaimana termuat QS. Al-Isra’ ayat 81

 

وَقُلۡ جَآءَ ٱلۡحَقُّ وَزَهَقَ ٱلۡبَٰطِلُۚ إِنَّ ٱلۡبَٰطِلَ كَانَ زَهُوقٗا

 

Dan katakanlah: "Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap". Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap.

 

Pandawa Lima sebagai personifikasi potensi kebaikan pun tak lepas dari simbolitas pemaknaan dalam tradisi Islam Jawa pada masing-masing personilnya. Si sulung Yudhistira atau Puntadewa, merupakan sosok yang arif, sabar, cinta pada kebajikan dan keadilan. Ia memiliki pusaka andalan berupa Azimat bernama Kalimasada. Dengan Azimat Kalimasada yang dimilikinya, dalam Perang Bharatayudha, Yudhistira berhasil menumbangkan ajian Candrabirawa yang nyaris tak terkalahkan, milik Prabu Salya, salah seorang sekutu Kurawa. Yudhistira dan Azimat Kalimasada yang dimilikinya merupakan simbolitas dari ikrar syahadat yang dalam tradisi Islam Jawa dipahami sebagai pintu menuju hidayah dan petunjuk Tuhan sehingga menjadi azimat dan senjata pamungkas dalam melawan kebatilan, sekuat apapun.

Kemudian Bima atau Werkudara digambarkan sebagai sosok yang tenang, tak suka basa-basi, dan tak banyak bicara. Jika bicara, perkataannya singkat, tegas dan mantap. Ia memiliki pusaka berupa Kuku Pancanaka di salah satu jarinya, sehingga dalam karakter wayang, jarinya seperti tengah menunjuk sebagaimana jari orang yang tengah pada posisi tahiyat dalam shalat. Dengan kuku tersebut, Werkudara bisa merobek dan mengoyak lawan-lawannya dengan mudah. Senjata kedua yang dimiliki oleh Werkudara adalah Gadha Rujakpala. Dengan gadha tersebut, Werkudara dengan mudah dapat menghancurkan benda sekeras apapun dengan sekali pukul. Sebagai titisan Dewa Bayu, Werkudara dapat berlari cepat bagaikan angin. Dengan kecepatan dan tubuhnya yang besar, keras, dan kokoh, ia mampu menerjang rintangan apapun yang ada di depannya.

Demikian karakter dan personifikasi sosok Werkudara kemudian disimbolkan sebagai Ibadah Shalat. Seseorang yang menjalankan ibadah shalat dengan istiqamah, akan menjadi pribadi yang tenang dan memiliki perkataan yang mantap dan membekas kuat dalam hati sandubari lawan bicaranya. Demikian pula kekhusyuan dalam menjalankan shalat, akan menjadi penolong bagi seseorang sehingga dapt melalui setiap cobaan dan kesulitan dalam kehidupannya dengan mudah. Dalam Al-Qur’an, misalnya pada Surat Al-Baqarah ayat 153, Allah menyerukan agar seorang mukmin hendaknya senantiasa memohon pertolongan atas permasalahan-permasalahannya melalui perantara sabar dan shalat.

Selanjutnya Arjuna atau Janaka digambarkan sebagai sosok yang elok rupawan, gemar bertapa dan puasa. Dengan kegemarannya dalam berpuasa dan laku tirakat, membuatnya dengan mudah mendapatkan banyak anugerah dari Sang Maha Kuasa. Diantara anugerah yang diperolehnya adalah beberapa pusaka yang sakti dan ampuh dari dewa, antara lain: Keris Pulanggeni, Panah Pasopati dan Ardadedali. Ia pun memperoleh keistimewaan disukai banyak wanita dan mempunyai istri banyak. Dari istri-istrinya, Arjuna memiliki anak turun yang banyak, hebat, dan linuwih. Ia bahkan pernah beberapa kali mendapatkan anugerah berupa tahta kekuasaan sebagai seorang raja. Demikianlah karakter sosok Arjuna yang selanjutnya menjadi simbol dari Ibadah puasa. Barangsiapa yang gemar berpuasa, baik puasa wajib maupun puasa sunnah, maka selain aneka kemudahan, akan ada banyak anugerah dan keistimewaan yang akan dapat diperoleh.

Adapun Nakula dan Sadewa merupakan saudara kembar yang merupakan bungsu dari Pandawa. Keduanya digambarkan sebagai sosok yang periang, ringan tangan, dan gemar berbagi dengan sesama. Karakter tersebut membuat keduanya dicintai dan dikasihi oleh sesama. Keduanya merupakan perlambangan dari ibadah zakat, infak, sedekah, atau jenis pemberian lainnya. Karena memang demikianlah seseorang yang gemar bersedekah, beramal, dan membantu terhadap sesama, khususnya mereka yang tengah membutuhkan, maka akan membuatnya dikasihi oleh sesama. Selain itu, Tuhan akan menjadikan hidupnya bahagia, terasa ringan, dan penuh keberkahan.

Simbolisme Islam Jawa bahkan juga merambah pada dunia kuliner. Dalam tradisi masyarakat Islam di Jawa, dikenal keberadaan kue Apem, yakni jajanan yang terbuat dari tepung beras. Kue Apem bagi masyarakat Islam Jawa tidak sekedar sebagai kuliner ataupun jajanan, melainkan juga sebagai simbolisasi dari ungkapan bahasa arab “afwan” atau “afuwwun”, yang artinya adalah “ampunan. Kue Apem di masa silam dibuat dan disuguhkan salah satunya pada momen menjelang datangnya Bulan Ramadhan. Dalam istilah Jawa momen tersebut dikenal dengan nama “megengan”, berasal dari kata “megeng” yang artinya adalah “menahan”. Simbolisasi-simbolisasi tersebut bersesuaian dengan konsep-konsep dalam ajaran Agama Islam dimana puasa dalam bahasa Arab dinamakan “shaum” atau “shiyam” yang artinya adalah “menahan”. Demikian pula dalam beberapa hadist dinyatakan bahwa Bulan Ramadhan adalah momen istimewa yang mana di dalamnya tersedia begitu besar ampunan dari Allah bagi siapapun yang mau bersungguh-sungguh dalam menjalaninya.

Demikian pula ketika Bulan Ramadhan telah usai dan memasuki perayaan Idul Fitri, masyarakat Islam di Jawa membuat simbolisasi berupa makanan ketupat. Ketupat atau yang dalam bahasa Jawa di sebut “kupat” merupakan makanan mengenyangkan terbuat dari beras yang dibungkus dengan “janur”, atau daun kelapa yang masih muda. Nama “kupat” merupakan akronim sekaligus simbolisasi dari “ngaku lepat” atau “mengakui kesalahan”. Hal inipun bersesuaian dengan konsep ajaran Islam yang mana setelah Bulan Ramadhan usai, seseorang akan dianggap masih merugi jika belum mendapat permaafan dari sesama, terlebih dari orang-orang terdekatnya. Maka dari itu setiap muslim harus menyadari kesalahan masing-masing dan kemudian saling memaafkan satu sama lain.

Terma “kupat” juga mengacu pada akronim dan simbolisasi makna dari “laku papat” atau “empat macam tindakan yang harus dilakukan”. Karena dalam momen perayaan Idul Fitri setidaknya memang ada 4 hal yang harus dilakukan oleh seorang muslim. Hal pertama adalah “lebaran”, berasal dari kata “lebar”, yang berarti “luas”. Dengan demikian laku “lebaran” berarti membuka selebar-lebar pintu maaf atas segala kesalahan dan kekeliruan sesama. Istilah lebaran juga dipakai oleh masyarakat Indonesia sebagai nama lain dari perayaan Idul Fitri. Hal kedua adalah “luberan”, berasal dari kata “luber” yang berarti “melimpah” atau “meluap”. Laku “luberan” berarti melimpahi atau memberikan sedekah atau sebagian rizki kepada sesama, khususnya yang tengah membutuhkan. Dalam tradisi perayaan Idul Fitri dalam masyarakat Islam di Indonesia, khususnya di Pulau Jawa, prilaku luberan salah satunya diwujudkan dengan menghidangkan suguhan jajanan kue dan memberi makan berupa menu lontong ketupat, serta memberi “sangu” yakni semacam angpao bagi anak-anak.

Laku yang ketiga adalah “leburan”, berasal dari kata “lebur” yang bermakna “sirna”. Leburan berarti sirnanya dosa dan kesalahan seseorang lantaran baik dosa kepada Tuhannya ataupun kesalahan terhadap sesama manusia. Hal ini karena ia telah melalui Bulan Ramadhan dengan penuh kesungguhan dan telah saling memberi maaf antar sesama dalam perayaan Idul Fitri. Kemudian laku yang keempat adalah “laburan”, berasal dari kata ‘labur” yang bermakna mengecat “dinding dengan warna putih agar terlihat bersih”. Dengan demikian “laburan” adalah kondisi seseorang yang telah kembali kepada fitrah atau kesucian, karena telah hilang segala dosa dan kesalahan dalam dirinya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar