Jumat, 05 Juni 2020

Mendesak Tuhan


Di usianya yang telah senja, Ibrahim tak kunjung beroleh keturunan, padahal sudah lama ia mendambakannya. Demi memperoleh seorang putera, Ibrahim bahkan menikahi Hajar, seorang budak perempuan yang ia dapatkan sebagai hadiah dari penguasa Mesir kala itu. Namun nampaknya Tuhan berniat menguji kesabaran dan keteguhan Ibrahim untuk terus meminta. Ibrahim tidak berputus asa akan permintaannya, ia bahkan mengorbankan ratusan binatang ternak yang ia miliki agar Tuhan mendengar doa-doanya dan segera mewujudkan permintaannya. Tuhan nampaknya senang dengan itu, sehingga Ia menganugerahkan seorang putera dari rahim Hajar. Segera setelah bayi itu lahir, dengan penuh kegembiraan dan rasa syukur, Ibrahim mengangkat bayi itu tinggi-tinggi ke langit seraya beberapa kali meneriakkan “ismael!” Sepotong kata dalam Bahasa Ibrani yang bermakna “Tuhan Maha Mendengar” dan dengan kata itulah bayi itu diberi nama.
Selepas kelahiran Ismail, Tuhan kemudian mengirim beberapa malaikat kepada Ibrahim saat ia tengah berada bersama Sarah, istri Ibrahim lainnya. Salah satu maksud kedatangan malaikat-malaikat tersebut adalah memberi kabar gembira bahwa Tuhan menganugerahkan seorang putera bagi mereka. Sarah yang sudah berusia tua dan menyadari bahwa dirinya mandul, sontak tertawa seakan tak percaya bahwa dirinya akan hamil. Namun demikianlah ketetapan Tuhan, jika Ia telah berkehendak, maka tiada lagi hal yang tak mungkin. Tak lama selepas kabar gembira itu, Sarah benar-benar hamil dan melahirkan seorang putera yang diberi nama “Ishak”, yang berarti “tertawa”.
Ribuan tahun berselang, kisah Ibrahim seolah berulang kembali kepada dua hamba Tuhan lainnya, Imran dan Zakariya. Imran bukanlah seorang nabi, namun keshalihannya yang luar biasa membuat Tuhan mengabadikan namanya sebagai nama surat ketiga dalam Al-Qur’an. Di usianya yang telah senja, Imran dan istrinya tak berputus asa dengan permohonan mereka berharap Tuhan mengaruniakan bagi mereka seorang putera. Hannah, Istri Imran, bahkan bernadzar bahwa jika Tuhan benar-benar menganugerahinya seorang putera, maka ia akan merelakan sepenuhnya puteranya itu menjadi pelayan Tuhan di Bait Suci (Baitul Maqdis Yerusalem).
Suatu ketika, Tuhan mengabulkan permohonan keduanya. Hannah akhirnya mengandung seorang anak, adapun Imran menghembuskan nafas terakhinya sebelum sempat melihat anaknya lahir. Duka Hannah berkurang dengan kelahiran anak yang ia idam-idamkan seumur hidupnya. Hannah memberikan nama bagi puterinya itu “Maria (Maryam)”. Dalam nama tersebut terkandung doa dan harapan agar ia dan keturunannya kelak menjadi sumber kebaikan dan tak akan pernah tersentuh oleh setan.
Pada awalnya Hannah sempat agak merasa kecewa, karena anak yang ia lahirkan ternyata adalah seorang perempuan, padahal permohonan yang ia ajukan dalam doanya berharap agar Tuhan menganugerahinya seorang anak laki-laki. Tuhan terkadang memiliki perspektif berbeda dalam melihat baik buruk suatu hal, sehingga Ia tidak selalu mengabulkan suatu permohonan sama persis seperti apa yang diminta oleh hambanya. Demikian pula Tuhan lebih tahu persis kapan saat yang tepat untuk mewujudkan pengabulan terhadap permohonan-permohonan hamba-Nya. Seringkali Tuhan mengabulkan suatu permohonan dalam waktu yang berselang lama atau melalui perantara hal lain. Nampaknya demikianlah cara Tuhan mengabulkan doa dan permohonan Imran dan Hannah. Keinginan mereka untuk memperoleh anak laki-laki dijawab oleh Tuhan dengan kehadiran Maryam. Berselang lama setelah itu, hingga Imran dan Hannah telah tiada, Tuhan kembali menjawab permohonan keduanya dengan menghadirkan seorang anak laki-laki melalui rahim Maryam, yang menjadi penerusnya, yakni Isa.
Hannah masih ingat dengan nadzarnya, sehingga tak lama setelah itu, ia menyerahkan puterinya yang masih bayi untuk diasuh oleh para rahib di Bait Suci agar didik menjadi seorang yang berkhidmad sepenuhnya sebagai pelayan Tuhan di Bait Suci. Keshalihan dan ketokohan mendingan Imran diantara para Para rahib di Bait Suci, membuat para rahib berebut ingin mangasuh puterinya. Para rahib di Bait Suci akhirnya mengadakan sebuah pengundian untuk menentukan siapa yang berhak untuk mengasuh Maryam. Undian dan hak asuh Maryam akhirnya jatuh kepada Zakariya. Zakariya adalah seorang nabi yang telah tua renta, rambutnya pun telah dipenuhi uban. Ia senasib dengan mendiang Imran yang tidak dikaruniai keterunan hingga usianya telah senja. Zakariya sempat ragu dan pupus harapan apakah di usia senja, ia dan Elisabeth, istrinya yang mandul bisa beroleh seorang putera.
Suatu ketika Zakariya merasa heran setiap kali menengok ke kamar Maryam. Di samping Maryam selalu tersedia beraneka buah-buahan yang tidak sesuai dengan musimnya. Terlebih Maryam pun tak pernah keluar dari kamarnya dan hanya ia satu-satunya orang yang boleh memasuki kamar Maryam. Rasa heran akhirnya mendorong Zakariya bertanya “Wahai Maryam! dari mana kau memperoleh buah-buahan itu?” “Itu semua dari Allah, Ia memberi kepada siapa yang Ia kehendaki tanpa perhitungan” (baik dalam hal jumlahnya maupun dalam hal perhitungan nalar logika). Jawaban Maryam dan apa yang telah ia saksikan menyadarkan Zakariya, bahwa Tuhan nampaknya tidak menginginkan hamba-Nya, bagaimanapun kondisi dan keadaannya, pupus harapan dan ragu terhadap kuasa-Nya. Tuhan menginginkan agar hamba-Nya selalu berharap dan berusaha dengan tetap meneguhkan prasangka baik pada-Nya dan selalu yakin akan doa-doa yang ia panjatkan meski seperti apapun kelak hasil akhir yang ia terima.
Perlahan harapan untuk memperoleh keturunan dan keyakinan akan kuasa Tuhan untuk mewujudkan permohonan itu menguat kembali dalam hati Zakariya. Ia pun kembali bersemangat memohon dan terus-menerus memanjatkan keinginannya itu dalam setiap doa-doanya. Hingga suatu ketika Tuhan mengirimkan malaikat untuk menyampaikan kepada Zakariya bahwa Tuhan memperkenankan permohonannya. Tak lama setelah itu istri Zakariya mengandung dan melahirkan seorang anak yang diberi nama “Yahya” yang bermakna “hidup”. Nama itu nampaknya selaras dengan fragmen kisah Zakariya di penghujung usia senjanya, bagaimana harapan dan keyakinan “hidup” kembali dalam hatinya.
Ibrahim, Imran, dan Zakariya adalah beberapa contoh diantara hamba-hamba Tuhan yang shalih, namun Tuhan justru mengujinya berupa penangguhan terhadap permohonan mereka. Tuhan akhirnya “luluh” dan mengabulkan permohonan mereka pada saat mereka telah mencapai usia senja setelah sekian lama mereka “mendesak Tuhan” dengan permohonan yang diulang terus-menerus disertai dengan rasa harap akan pengabulan Tuhan. Kisah-kisah tersebut juga mengajarkan bahwa meminta sesuatu kepada Tuhan tidaklah sama dengan meminta sesuatu kepada seseorang. Meminta kepada seseorang ada batas ukurannya sesuai dengan ukuran kemampuan orang yang dimintai. Meminta kepada seseorang secara terus-menerus mungkin membuat orang yang meminta merasa malu dan tentu membuat orang yang diminta menjadi marah dan keberatan. Tidak demikian halnya jika meminta kepada Tuhan, seorang hamba yang memiliki permohonan harus selalu yakin bahwa Tuhan maha kuasa sehingga pasti mampu mewujudkan permohonan itu jika Ia menghendaki, meski bagaimanapun kondisi dan keadaannya. Dengan demikian seorang hamba perlu sedikit “mendesak Tuhan” dengan permohonannya yang sangat dan ia lakukan secara terus-menerus. Ia tak perlu merasa malu ataupun bosan terus-menerus mengulang permohonannya, karena tuhan pun tak akan pernah merasa bosan, marah ataupun keberatan dengan itu. Tuhan justru merasa senang jika Ia terus menerus dimintai dan akan “malu” dan “luluh” jika terus-menerus “didesak” dengan permohonan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar