Di usianya
yang telah senja, Ibrahim tak kunjung beroleh keturunan, padahal sudah lama ia
mendambakannya. Demi memperoleh seorang putera, Ibrahim bahkan menikahi Hajar,
seorang budak perempuan yang ia dapatkan sebagai hadiah dari penguasa Mesir
kala itu. Namun nampaknya Tuhan berniat menguji kesabaran dan keteguhan Ibrahim
untuk terus meminta. Ibrahim tidak berputus asa akan permintaannya, ia bahkan
mengorbankan ratusan binatang ternak yang ia miliki agar Tuhan mendengar
doa-doanya dan segera mewujudkan permintaannya. Tuhan nampaknya senang dengan
itu, sehingga Ia menganugerahkan seorang putera dari rahim Hajar. Segera
setelah bayi itu lahir, dengan penuh kegembiraan dan rasa syukur, Ibrahim
mengangkat bayi itu tinggi-tinggi ke langit seraya beberapa kali meneriakkan “ismael!”
Sepotong kata dalam Bahasa Ibrani yang bermakna “Tuhan Maha Mendengar” dan
dengan kata itulah bayi itu diberi nama.
Selepas kelahiran Ismail, Tuhan kemudian mengirim beberapa malaikat kepada
Ibrahim saat ia tengah berada bersama Sarah, istri Ibrahim lainnya. Salah satu
maksud kedatangan malaikat-malaikat tersebut adalah memberi kabar gembira bahwa
Tuhan menganugerahkan seorang putera bagi mereka. Sarah yang sudah berusia tua
dan menyadari bahwa dirinya mandul, sontak tertawa seakan tak percaya bahwa
dirinya akan hamil. Namun demikianlah ketetapan Tuhan, jika Ia telah
berkehendak, maka tiada lagi hal yang tak mungkin. Tak lama selepas kabar
gembira itu, Sarah benar-benar hamil dan melahirkan seorang putera yang diberi
nama “Ishak”, yang berarti “tertawa”.
Ribuan tahun berselang, kisah Ibrahim seolah berulang kembali kepada dua
hamba Tuhan lainnya, Imran dan Zakariya. Imran bukanlah seorang nabi, namun
keshalihannya yang luar biasa membuat Tuhan mengabadikan namanya sebagai nama
surat ketiga dalam Al-Qur’an. Di usianya yang telah senja, Imran dan istrinya tak
berputus asa dengan permohonan mereka berharap Tuhan mengaruniakan bagi mereka
seorang putera. Hannah, Istri Imran, bahkan bernadzar bahwa jika Tuhan
benar-benar menganugerahinya seorang putera, maka ia akan merelakan sepenuhnya puteranya
itu menjadi pelayan Tuhan di Bait Suci (Baitul Maqdis Yerusalem).
Suatu ketika, Tuhan mengabulkan permohonan keduanya. Hannah akhirnya mengandung
seorang anak, adapun Imran menghembuskan nafas terakhinya sebelum sempat
melihat anaknya lahir. Duka Hannah berkurang dengan kelahiran anak yang ia
idam-idamkan seumur hidupnya. Hannah memberikan nama bagi puterinya itu “Maria
(Maryam)”. Dalam nama tersebut terkandung doa dan harapan agar ia dan
keturunannya kelak menjadi sumber kebaikan dan tak akan pernah tersentuh oleh
setan.
Pada awalnya Hannah sempat agak merasa kecewa, karena anak yang ia
lahirkan ternyata adalah seorang perempuan, padahal permohonan yang ia ajukan
dalam doanya berharap agar Tuhan menganugerahinya seorang anak laki-laki. Tuhan
terkadang memiliki perspektif berbeda dalam melihat baik buruk suatu hal,
sehingga Ia tidak selalu mengabulkan suatu permohonan sama persis seperti apa
yang diminta oleh hambanya. Demikian pula Tuhan lebih tahu persis kapan saat
yang tepat untuk mewujudkan pengabulan terhadap permohonan-permohonan
hamba-Nya. Seringkali Tuhan mengabulkan suatu permohonan dalam waktu yang
berselang lama atau melalui perantara hal lain. Nampaknya demikianlah cara Tuhan
mengabulkan doa dan permohonan Imran dan Hannah. Keinginan mereka untuk
memperoleh anak laki-laki dijawab oleh Tuhan dengan kehadiran Maryam. Berselang
lama setelah itu, hingga Imran dan Hannah telah tiada, Tuhan kembali menjawab
permohonan keduanya dengan menghadirkan seorang anak laki-laki melalui rahim
Maryam, yang menjadi penerusnya, yakni Isa.
Hannah masih ingat dengan nadzarnya, sehingga tak lama setelah itu, ia
menyerahkan puterinya yang masih bayi untuk diasuh oleh para rahib di Bait Suci
agar didik menjadi seorang yang berkhidmad sepenuhnya sebagai pelayan Tuhan di
Bait Suci. Keshalihan dan ketokohan mendingan Imran diantara para Para rahib di
Bait Suci, membuat para rahib berebut ingin mangasuh puterinya. Para rahib di
Bait Suci akhirnya mengadakan sebuah pengundian untuk menentukan siapa yang
berhak untuk mengasuh Maryam. Undian dan hak asuh Maryam akhirnya jatuh kepada
Zakariya. Zakariya adalah seorang nabi yang telah tua renta, rambutnya pun
telah dipenuhi uban. Ia senasib dengan mendiang Imran yang tidak dikaruniai
keterunan hingga usianya telah senja. Zakariya sempat ragu dan pupus harapan apakah
di usia senja, ia dan Elisabeth, istrinya yang mandul bisa beroleh seorang
putera.
Suatu ketika Zakariya merasa heran setiap kali menengok ke kamar Maryam.
Di samping Maryam selalu tersedia beraneka buah-buahan yang tidak sesuai dengan
musimnya. Terlebih Maryam pun tak pernah keluar dari kamarnya dan hanya ia
satu-satunya orang yang boleh memasuki kamar Maryam. Rasa heran akhirnya mendorong
Zakariya bertanya “Wahai Maryam! dari mana kau memperoleh buah-buahan itu?” “Itu
semua dari Allah, Ia memberi kepada siapa yang Ia kehendaki tanpa perhitungan”
(baik dalam hal jumlahnya maupun dalam hal perhitungan nalar logika). Jawaban Maryam
dan apa yang telah ia saksikan menyadarkan Zakariya, bahwa Tuhan nampaknya
tidak menginginkan hamba-Nya, bagaimanapun kondisi dan keadaannya, pupus
harapan dan ragu terhadap kuasa-Nya. Tuhan menginginkan agar hamba-Nya selalu
berharap dan berusaha dengan tetap meneguhkan prasangka baik pada-Nya dan selalu
yakin akan doa-doa yang ia panjatkan meski seperti apapun kelak hasil akhir
yang ia terima.
Perlahan harapan untuk memperoleh keturunan dan keyakinan akan kuasa
Tuhan untuk mewujudkan permohonan itu menguat kembali dalam hati Zakariya. Ia pun
kembali bersemangat memohon dan terus-menerus memanjatkan keinginannya itu
dalam setiap doa-doanya. Hingga suatu ketika Tuhan mengirimkan malaikat untuk
menyampaikan kepada Zakariya bahwa Tuhan memperkenankan permohonannya. Tak lama
setelah itu istri Zakariya mengandung dan melahirkan seorang anak yang diberi
nama “Yahya” yang bermakna “hidup”. Nama itu nampaknya selaras dengan fragmen kisah
Zakariya di penghujung usia senjanya, bagaimana harapan dan keyakinan “hidup” kembali
dalam hatinya.
Ibrahim, Imran, dan Zakariya adalah beberapa contoh diantara hamba-hamba
Tuhan yang shalih, namun Tuhan justru mengujinya berupa penangguhan terhadap permohonan
mereka. Tuhan akhirnya “luluh” dan mengabulkan permohonan mereka pada saat mereka
telah mencapai usia senja setelah sekian lama mereka “mendesak Tuhan” dengan permohonan
yang diulang terus-menerus disertai dengan rasa harap akan pengabulan Tuhan. Kisah-kisah
tersebut juga mengajarkan bahwa meminta sesuatu kepada Tuhan tidaklah sama
dengan meminta sesuatu kepada seseorang. Meminta kepada seseorang ada batas
ukurannya sesuai dengan ukuran kemampuan orang yang dimintai. Meminta kepada
seseorang secara terus-menerus mungkin membuat orang yang meminta merasa malu
dan tentu membuat orang yang diminta menjadi marah dan keberatan. Tidak demikian
halnya jika meminta kepada Tuhan, seorang hamba yang memiliki permohonan harus selalu
yakin bahwa Tuhan maha kuasa sehingga pasti mampu mewujudkan permohonan itu
jika Ia menghendaki, meski bagaimanapun kondisi dan keadaannya. Dengan demikian
seorang hamba perlu sedikit “mendesak Tuhan” dengan permohonannya yang sangat
dan ia lakukan secara terus-menerus. Ia tak perlu merasa malu ataupun bosan terus-menerus
mengulang permohonannya, karena tuhan pun tak akan pernah merasa bosan, marah ataupun
keberatan dengan itu. Tuhan justru merasa senang jika Ia terus menerus dimintai
dan akan “malu” dan “luluh” jika terus-menerus “didesak” dengan permohonan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar