Selasa, 23 Juni 2020

Para Penentang Risalah (Bagian 1)

Sudah menjadi sunnatullah bahwa semua rasul yang diutus oleh Allah akan mengalami penentangan hebat bahkan dinistakan oleh sebagian dari kaumnya. Ada rasul yang berdakwah ratusan tahun namun pada akhirnya hanya berhasil meyakinkan puluhan orang saja dari kaumnya, contohnya Nabi Nuh. Dalam riwayat dikisahkan ada pula seorang nabi yang kelak ketika dibangkitkan di hari kiamat, ia tak memiliki seorang pengikut pun yang menyertainya. Pernah pula Allah mengutus 3 orang rasul sekaligus pada satu kaum secara bersamaan agar dengan demikian dapat lebih meyakinkan kaum itu. Namun pada akhirnya semua penduduk kaum itu mendustakan ketiganya, kecuali hanya seorang tukang kayu bernama Habib An-Najar yang menyatakan keimanannya. Peristiwa ini terjadi di wilayah Antakiah (Turki) dan sepenggal kisahnya diabadikan dalam Surat Yasin. Ada pula rasul, yang bahkan anak atau istrinya pun membangkang dan menentang dakwahnya, contohnya adalah Nabi Nuh dan Nabi Luth.

Al-Qur’an pada banyak ayat mendokumentasikan sikap dan perkataan mereka sebagai bentuk penolakan dan penistaan terhadap para rasul dan ajaran yang mereka sampaikan. Sambil tertawa mencibir, mereka mengatakan (إِنْ هَذَا إِلَّا سِحْرٌ مُبِيْنٌ) yang bermakna “itu adalah sihir dan tipuan yang nyata” atau perkataan (إِنْ هَذَا إِلَّا أَسَاطِيْرُ الْأَوَّلِيْنَ), yang bermakna “itu hanyalah dongeng dan bualan masa lalu”. Pada banyak kisah, penentangan dan penistaan banyak kaum yang tak bisa ditolerir terhadap rasul mereka akhirnya berujung pada murka dan turunnya azab Allah yang membinasakan mereka.

Abu Jahal dan Uqbah Bin Abi Muaith

Sebagaimana para rasul sebelumnya, Nabi Muhammad pun mengalami penentangan hebat dari sebagian besar kaumnya. Ada banyak cerita ketika rasulullah tidak hanya ditentang dan dihalangi upaya dakwahnya, namun juga menerima caci makian, penghinaan, pelecehan, penistaan, bahkan penganiayaan oleh tokoh-tokoh tertentu. Salah satu penentangan sengit terhadap dakwah rasulullah dilakukan oleh tetangga beliau sendiri, yakni Abu Jahal dan Uqbah Bin Abi Muaith. Abu Jahal atau Amr Bin Hakam merupakan salah satu sosok berpengaruh di Quraish yang berasal dari Bani Makhzumi. Adapun Uqbah Bin Abi Muaith merupakan sahabat karib Abu Jahal. Ia sebenarnya sempat tertarik dan berencana akan memeluk Islam, namun karena pengaruh dari Abu Jahal, akhirnya niat tersebut ia urungkan. Sebaliknya, ia bahkan menjadi pribadi yang sangat membenci Islam dan rasulullah, seperti halnya sahabat karibnya. Kedua orang tersebut berkali-kali menistakan dan menganiaya rasulullah.

Uqbah Bin Abi Muaith pernah menistakan nabi dengan meletakkan kotoran unta dan usus domba ke punggung rasulullah ketika beliau tengah melakukan shalat di muka Ka’bah. Dalam kondisi demikian, rasulullah tidak bangkit dari sujudnya hingga Fathimah dan Zainab datang membuang kotoran-kotoran tersebut dari tubuh rasulullah. Dalam kesempatan lain, Uqbah mengulangi perbuatannya menistakan dan menganiaya rasulullah. Kali ini ia mencekik rasulullah ketika tengah bersujud dalam shalatnya dengan melilitkan selendang ke leher rasulullah sambil menginjak punggung beliau. Dalam kondisi seperti itu, rasulullah kesulitan bernafas, hingga Abu Bakar datang menolong beliau. Uqbah pernah pula berusaha meludahi wajah rasulullah, namun Allah menjadikan ludah tersebut berbalik mengenai wajahnya sendiri dan tetap membekas seumur hidupnya. Karena tindakan penistaan, penganiayaan, dan perlawanan sengit yang ia lakukan, maka selepas Perang Badar, Uqbah termasuk salah satu dari daftar tawanan yang dijatuhi eksekusi mati.

Adapun Abu Jahal, bisa dibilang ia merupakan orang nomor satu yang dari awal memusuhi dakwah rasulullah. Pernah suatu ketika ia berusaha membunuh rasulullah dengan rencana akan melemparkan batu besar ketika beliau tengah bersujud di depan Ka’bah. Ia mengundang beberapa orang sahabatnya untuk hadir ditempat itu agar bisa melihat bagaimana aksi makarnya itu. Namun ketika akan melemparkan batu besar ke arah rasulullah, Allah menggagalkannya dengan menjadikan Abu Jahal pucat dan tak bisa bergerak seketika sampai rasulullah selesai menunaikan shalatnya dan beranjak pergi dari tempat itu.

Meskipun demikian, rasulullah sempat berharap akan keislamannya dan berdoa agar Allah menguatkan Islam dengan dua Umar, yakni Umar Bin Khattab dan Amr Bin Hisyam yakni Abu Jahal. Allah menjawab doa nabi dengan memberikan hidayah kepada Umar Bin Khattab dan menjadikannya memeluk Islam. Adapun Abu Jahal, ternyata cahaya hidayah sulit sekali menembus hatinya, seolah memang telah tiada celah dalam relung hatinya untuk menerima risalah Islam. Kesesatan dan arogansi Abu Jahal masih tetap melekat bahkan ketika ia telah sekarat saat di medan Perang Badar. Dalam kondisi tersebut, ia masih sempat membisikkan bahwa “Abu Jahal akan tetap menjadi musuh Muhammad di dunia dan di akhirat”. Ia akhirnya mati oleh pancungan pedang Ibnu Mas’ud, seorang shahabat rasulullah yang bertubuh kecil, kurus kering, dan agak bengkok kakinya. Tampaknya Allah menakdirkan bahwa di akhir hayatnya, Abu Jahal mendapatkan balasan dibunuh oleh orang yang lemah yang dulunya pernah ia aniaya.

Sepeninggal Abu Jahal, kebencian dan permusuhan terhadap rasulullah diwarisi oleh putranya yakni Ikrimah Bin Abi Jahal. Saat terjadinya peristiwa pembebasan Kota Makkah (Fathul Makkah), dan masyarakat Quraish Makkah sepakat untuk tidak melakukan perlawanan, ia termasuk salah satu diantara sebagian kecil orang Quraish yang bersikeras mengangkat senjata dan melakukan perlawanan terhadap rasulullah. Atas dasar itu, maka ia termasuk dalam daftar orang yang tidak mendapatkan pengampunan dari rasulullah selepas peristiwa Fathul Makkah.

Setelah sempat melarikan diri ke Yaman dan menjadi buronan kaum muslimin, atas jaminan keamanan dan bujukan dari istrinya yakni Ummu Hakim yang telah berislam beberapa waktu sebelumnya, ia akhirnya datang kepada rasulullah dan menyatakan keislamannya. Rasulullah menyambut dengan gembira keislaman Ikrimah dan melarang kepada kaum muslimin untuk mengungkit-ungkit masa lalu kesalahannya maupun ayahnya. Keislaman Ikrimah nampaknya memang tidak pura-pura, karena berikutnya ia begitu bersemangat dalam berjihad di banyak medan pertempuran. Pada era kepemimpinan Khalifah Abu Bakar, ia pun termasuk salah satu yang termasuk orang yang mengikuti perang di Yamamah melaman seorang nabi palsu bernama Musailamah. Sampai akhirnya, pada periode kepemimpinan Khalifah Umar Bin Khattab, ia menemui kesyahidannya saat mengikuti Perang Yarmuk, sebuah peperangan dahsyat antara tentara muslim melawan tentara Romawi di lembah Sungai Yarmuk.

Keluarga Abu Sufyan

Tokoh lain yang juga memiliki penentangan hebat terhadap beliau adalah keluarga Abu Sufyan Bin Harb. Abu Sufyan merupakan pemimpin pasukan Quraish saat terjadinya Perang Uhud dan Perang Parit (Perang Khandaq). Dalam Perang Uhud, kaum muslimin menderita kekalahan yang cukup telak, bahkan rasulullah pun sempat terluka serius saat itu. Adapun dalam Perang Khandaq, hampir saja rasulullah dan kaum muslimin di Madinah mati kelaparan atau bahkan binasa karena kepungan tentara Quraish dan para sekutunya selama berhari-hari. Namun Allah memberikan pertolongan kepada kaum muslimin dengan menurunkan bantuan berupa angin badai yang memporak-porandakan musuh. Abu Sufyan tak segan-segan membelanjakan dan menghabiskan harta kekayaannya sebagai upaya menghalangi dakwah rasulullah ataupun mengusik pribadi beliau. Ia pun pernah mengupah beberapa pujangga Arab untuk mengarang syair-syair penistaan terhadap rasulullah dan menghina secara keji terhadap istri-istri beliau.

Demikian pula istri Abu Sufyan, Hindun Binti Utbah, dalam Perang Uhud ia tampil sebagai pemimpin para perempuan Quraish dalam meneriakkan yel-yel untuk membangkitkan semangat perang para laki-laki Quraish di medan perang. Ia memiliki dendam yang membara, khususnya kepada paman rasulullah, yakni Hamzah Bin Abdul Muthallib, karena ia telah menewaskan orang tua (‘Utbah Bin Rabi’ah) Hindun saat Perang Badar. Ia juga menyewa seorang penombak asal Habasyah bernama Washi yang secara khusus diberi tugas mengincar Hamzah Bin Abdul Muthallib di saat lengah. Paman rasulullah yang tergeletak tewas oleh tombak Washi tersebut, kemudian dibelah dadanya oleh Hindun, diambil jantungnya, dan ia makan.

Menjelang peristiwa Fathul Makkah, dengan ditemani Abbas Bin Abdul Mutallib, Abu Sufyan Bin Harb datang kepada rasulullah dan menyatakan keislamannya. Rasulullah menerima keislaman Abu Sufyan dan memaafkannya dengan segala tindak penistaan yang pernah ia lakukan. Atas saran dari Abbas, rasulullah memberikan sedikit penghargaan dan kemuliaan kepada Abu Sufyan sebagai pemuka masyarakat Quraish, bahwa siapapun diantara orang-orang Quraish yang tidak melakukan perlawanan dan masuk ke dalam rumah Abu Sufyan, maka ia akan aman. Demikian pula rasulullah akhirnya memaafkan kesalahan Hindun dan Washi serta bersedia menerima keislaman mereka setelah Fathul Makkah. meskipun tidak dapat dipungkiri bahwa tindakan yang pernah mereka lakukan kepada Hamzah sempat menimbulkan kemarahan dan kesedihan yang mendalam bagi rasulullah.

Rasulullah bahkan memuliakan putra-putri Abu Sufyan yang telah berislam lebih dulu. Muawiyah Bin Abi Sufyan, karena kemampuannya dalam baca tulis, membuatnya menjadi salah satu juru tulis rasulullah yang memiliki tugas mencatat wahyu-wahyu Al-Qur’an yang turun. Adapun Ramlah Binti Abi Sufyan atau Ummu Habibah mendapat kehormatan diperistri oleh rasulullah dan menjadi salah satu dari ummul mukminin, setelah suaminya yang pertama (Ubaidullah Bin Jahsy) memutuskan murtad menjadi Nashrani ketika tengah berada dalam pengungsian di Habasyah.

Sepeninggal rasulullah, para keturunan Abu Sufyan bahkan tercatat memiliki kiprah yang besar dalam kejayaan Islam. Pada era kekhalifahan Abu Bakar hingga Umar Bin Khattab, dua putra Abu Sufyan, yakni Muawiyah dan Yazid Bin Abi Sufyan tercatat memiliki andil yang tak sedikit. Yazid Bin Abi Sufyan bahkan merupakan satu dari 4 orang panglima yang ditunjuk oleh Khalifah Abu Bakar dalam ekspedisi penaklukan Syiria. Ekspedisi tersebut berujung pada terjadinya Perang Yarmuk, perang dahsyat melawan pasukan Romawi di lembah Sungai Yarmuk. Selepas era pemerintahan 4 khalifah rasyidah, Muawiyah tampil sebagai perintis sekaligus khalifah pertama Daulah Bani Umayyah. Terlepas dari banyak kekurangannya, pemerintahan tersebut menjadi kelanjutan dari pemerintahan dan peradaban Islam yang mampu memperluas wilayah kekuasaan Islam hingga ke wilayah Andalusia Spanyol.

Keluarga Abu Lahab

Permusuhan sengit dan penistaan terhadap rasulullah bahkan juga dilakukan oleh pamannya sendiri, yakni Abu Lahab yang merupakan salah satu tokoh terpandang dalam masyarakat Quraish. Sebelum beliau diutus sebagai rasul, sebenarnya tidak ada permusuhan antara beliau dengan Abu Lahab. Bahkan saat beliau lahir, Abu Jahal merupakan salah satu orang yang merasa berbahagia sehingga ia memerdekakan budaknya yang bernama Tsuwaibah dan menjadikannya sebagai salah satu wanita yang menyusui beliau. Untuk semakin merekatkan tali kekerabatan, rasulullah pun menikahkan dua orang putrinya dengan dua orang putra Abu Lahab. Utbah Bin Abu Jahal menikah dengan Ruqayyah sedangkan Utaibah Bin Abu Jahal menikah dengan Ummu Kultsum.

Namun setelah rasulullah menerima wahyu dan mulai terang-terangan menyampaikan dakwahnya, Abu Jahal dan keluarganya berbalik menjadi orang yang membenci dan memusuhi beliau. Suatu ketika rasulullah mengumpulkan para sanak kerabatnya di Bukit Shafa, termasuk diantaranya Abu Lahab. Beliau kemudian berpidato di hadapan mereka agar mereka menerima risalah dan meyakini kehidupan akhirat. Pada momen itulah Abu Lahab tampil mempermalukan rasulullah di depan banyak orang dengan melontarkan perkataan (تَبًّ لَكَ يَا مُحَمَّدُ أَلِهَذَا جَمَعْتَنَاُ) yang berarti “celakalah engkau wahai Muhammad, apakah hanya karena keperluan ini engkau mengumpulkan kami disini”. Dalam tradisi masyarakat Arab, kata (تَبًّ لَكَ) merupakan kata kasar bahkan merupakan salah satu bentuk umpatan kepada seseorang, selain kata (وَيْلٌ لَكَ) dan (أُفٍّ لَكَ) yang juga bermakna serupa.

Demikian pula istri Abu Lahab yakni Arwa Binti Harb Bin Umayyah atau Ummu Jamil juga memiliki sikap permusuhan terhadap rasulullah yang tak kalah jahatnya dibanding yang dilakukan oleh suaminya. Ia dijuluki Ummu Jamil yang bermakna “seorang perempuan yang cantik”, karena memang demikianlah penampilan fisiknya. Namun dalam Surat Al-Lahab ia digambarkan sebagai seorang yang sibuk membawa kayu bakar berduri yang akan ia letakkan di depan rumah rasulullah dan di setiap jalan yang akan dilalui oleh beliau.

Bahkan tak lama setelah turunnya Surat Al-Lahab, Ummu Jamil yang merasa tersinggung dengan isi surat tersebut, kemudian berusaha mencari dan menemui rasulullah berniat untuk mencekik beliau. Demikian pula Abu Jahal langsung memerintahkah kepada dua orang putranya untuk menceraikan putri rasulullah dengan maksud menghina dan meyusahkan beliau dan keluarganya. Utbah dan Utaibah pun menceraikan putri-putri rasulullah meskipun mereka baru menikah dan masih belum sempat berhubungan. Keluarga Abu Jahal pun menghasut menantu rasulullah yang lainnya yakni Al-Ash Bin Ar-Rabi’ (suami Zainab) yang masih kafir agar juga mau menceraikan istrinya. Namun ia menolak hasutan tersebut dan memilih untuk tetap setia kepada Zainab.

Satu di antara dua putra Abu Jahal tersebut akhirnya menyatakan keislamannya saat Fathul Makkah, dan rasulullah menerima keislaman dan memaafkan kesalahannya. Adapun yang lain, sesaat setelah turunnya Surat An-Najm, ia mendatangi rasulullah sambil marah ia meneriakkan “aku tidak percaya kepada bintang dan tuhan bintang”. Hal tersebut merupakan bentuk penistaan terhadap wahyu yang baru turun kepada beliau. Rasulullah menanggapi penentangan dan penistaannya dengan doa yang beliau panjatkan kepada Allah: “Ya Allah kirimkanlah kepadanya salah satu dari anjing-anjing-Mu”. Putra Abu Lahab ini akhirnya bernasib tragis, mati diterkam singa yang Allah kirimkan saat ia tengah melakukan perjalanan dagang ke Syam. Hal itu adalah imbas dari pilihannya untuk tetap kafir, penistaan yang ia pernah ia lakukan, dan doa rasulullah atasnya. Adapun kedua putri rasulullah yang menjanda, selanjutnya dinikahkan kepada salah satu shahabat dekat rasulullah, yakni Utsman Bin Affan.

Para Penyair

Beberapa penyair Arab yang sempat memusuhi rasulullah dan kerap menghina beliau melalui syair-syair mereka antara lain: Abu Sufyan Bin Harits dan Kaab Bin Zuhair Bin Abi Salma. Untuk mengimbangi kebencian yang berwujud karya syair tersebut, beberapa shahabat rasulullah membalasnya dengan karya-karya yang bernada positif dan pujian kepada rasulullah beserta keluarga beliau. Beberapa shahabat rasulullah yang memiliki keahlian khusus dalam membuat syair diantaranya adalah Hassan Bin Tsabit dan Abdullah Bin Rawahah.

Abu Sufyan Bin Harits merupakan saudara sepupu rasulullah. Ia adalah putra dari Harits Bin Abdul Muthallib, kakak dari Abdullah Bin Abdul Muthallib, ayahanda rasulullah. Selain sebagai saudara sepupu, Abu Sufyan juga merupakan saudara sesusuan rasulullah. Ketika masih bayi, keduanya disusui oleh ibu susuan yang bernama Halimah As-Sa’diyah. Kedekatan hubungan Abu Sufyan terhadap rasulullah ternyata tidaklah membuatnya menerima dan mendukung upaya dakwah beliau. Ia bahkan tampil sebagai musuh rasulullah dengan syair-syair berisi hinaan yang ia ciptakan.

Namun saat menjelang peristiwa pembebasan Kota Makkah (Fathul Makkah), setelah hampir 20 tahun memusuhi rasulullah, akhirnya Abu Sufyan Bin Harits pada datang dan menyatakan keislamannya kepada rasulullah. Awalnya rasulullah agak enggan menemuinya, mengingat caci makian dan hinaan yang ia lontarkan melalui syair-syair yang ia buat. Namun pada akhirnya rasulullah bersedia memaafkan dan menerima keislaman Abu Sufyan Bin Harits. Setelah itu Abu Sufyan pun mengarang syair indah berisi pujian kepada rasulullah, hal tersebut membuat beliau merasa senang. Abu Sufyan Bin Harits akhirnya membuktikan kesungguhannya dalam memeluk Islam salah satunya dengan menyertai rasulullah dalam Perang Hunain. Dalam perang tersebut, ia bahkan merupakan satu-satunya orang yang bertahan di sisi rasulullah dan memegangi unta beliau saat pasukan muslimin dikejutkan oleh serangan musuh secara mendadak dari balik bukit.

Demikian pula dengan Kaab Bin Zuhair, ia memutuskan untuk datang dan menyatakan keislamannya kepada rasulullah saat tahun perutusan (‘Ammul Wufud). Untuk menebus kesalahannya di masa silam yang kerap menistakan rasul melalui syair-syairnya, maka kala itu ia menyusun syair yang berisi pujian kepada rasulullah kemudian membacakan syair tersebut di hadapan beliau. Rasulullah memberi permaafan kepada Kaab Bin Zuhair, menerima keislamannya, bahkan memberikan pakaian burdah kesayangan beliau kepadanya sebagai tanda bahwa beliau senang dengan syair pujian tersebut. Peristiwa itulah yang berikutnya membuat orang menyebut setiap syair pujian kepada nabi dinamakan “burdah”. Syair pujian karangan Kaab Bin Zuhair merupakan qasidah burdah pertama sekaligus yang paling tinggi tingkat kefasihan dari aspek sastranya dibanding semua syair/qasidah burdah yang pernah ada. Qasidah burdah pertama ini dikenal pula dengan Qasidah Banat Su’ad.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar