Pernah suatu ketika pemuka Quraish
mengirim utusan untuk menanyakan 3 permasalahan kepada rasulullah untuk menguji
apakah beliau benar-benar nabi yang diutus oleh Allah atau bukan. Hal pertama adalah mengenai sekelompok pemuda yang
melarikan diri dengan bersembunyi serta apa yang terjadi pada mereka. Hal kedua
adalah mengenai seorang yang melakukan perjalanan ke barat dan ke timur serta
apa yang terjadi padanya. Dan hal yang ketiga adalah mengenai ruh.
Rasulullah kemudian menjanjikan untuk memberi jawaban atas 3
permasalahan tersebut esok hari. Beliau berpikir bahwa sampai esok hari wahyu
dari Allah mengenai hal-hal tersebut pasti akan turun kepada beliau. Namun
sampai esok hari ternyata wahyu yang beliau tunggu tidaklah turun, sehingga
beliau mengulur kembali dengan meminta utusan tersebut datang pada esoknya
lagi. Dan begitulah hal tersebut terulang hingga kurang lebih 15 hari, hingga
Allah menurunkan Surat Al-Kahfi ayat 9-26; 83-101; dan Surat Al-Isra’ ayat 85.
Surat Al-Kahfi ayat 9-26 bercerita mengenai Ashabul Kahfi yang merupakan
jawaban terhadap pertanyaan yang pertama. Dalam ayat-ayat tersebut dikisahkan
bahwa mereka adalah melarikan diri ke goa karena hendak menyelamatkan keimanan
mereka dari ancaman dan pengejaran penguasa negeri mereka yang kufur dan dzalim.
Allah lalu menidurkan mereka di dalam gua itu selama 309 tahun.
Kemudian pada ayat 83-101 surat yang sama, Allah menceritakan tentang
Dzulqarnain yang merupakan jawaban atas pertanyaan yang kedua. Dalam ayat-ayat
tersebut dikisahkan bahwa ia adalah seseorang yang Allah limpahkan padanya
anugerah kekuasaan di muka bumi. Ia pernah melakukan perjalanan ke barat (ke
arah matahari tenggelam) hingga sampai pada sekelompok kaum yang tinggal di
dekat laut yang berlumpur hitam. Pada mereka, Dzulqarnain menyerukan bahwa
siapa diantara mereka yang beriman dan berbuat baik maka akan mendapatkan
balasan yang baik. Namun siapa yang memilih untuk berperilaku dzalim, maka akan
ada hukuman yang akan mereka terima kelak.
Ia kemudian melakukan perjalanan ke timur (ke arah matahari terbit)
hingga sampai di antara dua gunung dan bertemu dengan sekelompok kaum yang
digambarkan hampir-hampir tak mengerti pembicaraan. Mereka kemudian meminta
bantuan kepada Dzulqarnain untuk dibuatkan dinding pelindung antara mereka
dengan selekompok kaum lainnya yang kerap membuat kerusakan, yakni Ya’juj dan
Ma’juj.
Adapun dalam Surat Al-Isra’ ayat 85, Allah menanggapi pertanyaan mereka
tentang ruh, dengan menyatakan bahwa persoalan ruh sepenuhnya merupakan urusan
Allah, adapun manusia hanya mengetahui sedikit dari perkara itu. Selain
memberikan tanggapan terhadap permasalahan-permasalahan yang diajukan oleh
delegasi Quraish, wahyu tersebut (yakni dalam Surat Al-Kahfi ayat 23-24) juga
memberikan teguran kepada rasulullah karena telah menjanjikan dan memastikan
persoalan yang itu merupakan kuasa Allah. Dalam teguran tersebut, Allah
mengajarkan kepada rasulullah (dan juga kepada ummatnya) agar selalu
mengucapkan kata “insyaallah” pada janji atau persoalan meskipun ia yakin bahwa
hal tersebut pasti akan bisa ia kerjakan atau ia tepati. Hal ini karena setiap janji
dan persoalan yang diupayakan oleh manusia, meskipun dalam perencanaan dan
perhitungan akalnya seolah sudah pasti, namun selalu ada faktor X yakni
kehendak Tuhan yang bisa jadi menentukan hal lain. Sehingga apa saja yang telah
direncanakan dan direalisasikan secara pasti, bisa jadi gagal atau tidak sesuai
dengan perkiraan.
Belakangan ini kita menemui bahwa pernyataan “insyaallah” berubah fungsi
menjadi ungkapan yang agak susah ditafsirkan. Ungkapan “insyaallah” bagi
sebagian orang telah berubah maknanya menjadi penolakan atau pernyataan “tidak”
secara halus. Bagi sebagian yang lain, ungkapan tersebut bisa jadi bermakna
“semau-mau dia, maybe yes, maybe no”. Hal ini membuat ungkapan sakral yang
merupakan pengajaran langsung dari Tuhan tersebut menjadi pernyataan tanpa
komitmen yang tak bisa lagi dijadikan pegangan. Orang kerap kecewa dengan janji
“insyaallah”, karena setelah lama ditunggu ternyata tak juga terlaksana, dan
ujung-ujungnya ternyata batal. Orang akhirnya agak meradang setelah tahu bahwa
si pengucap “insyaallah” ternyata sama sekali tak punya komitmen untuk bersungguh-sungguh
merealisasikan apa yang ia janjikan. Sehingga jadilah pernyataan “insyaallah”
hanya sebagai jawaban diplomatis dan pemanis mulut belaka, bukan lagi sebagai
pernyataan yang sakral.
Ada satu peristiwa dimana pada suatu ketika rasulullah bermimpi bahwa beliau
bersama kaum muslimin akhirnya dapat memasuki Masjidil Haram dalam keadaan aman
dan rambut kepala yang tercukur (tahallul). Dalam sebuah forum, rasulullah menyampaikan
mimpi tersebut kepada para shahabat kemudian kemudian meminta mereka bersiap-siap
berangkat ke Masjidil Haram (Makkah) untuk menunaikan umrah pada Bulan
Dzulqaidah. Hal tersebut tentu disambut gembira oleh para shahabat, mereka merindukan
kampung halaman yang telah 6 tahun tinggalkan tanpa bisa menjenguk sedikitpun
karena terhalang oleh kaum kafir Quraish yang tengah memusuhi mereka.
Adapun kaum kafir Quraish di Makkah tidak tinggal diam mendengar rencana
tersebut. Mereka mempersiapkan pasukan untuk menghalangi rasulullah dan para
shahabatnya memasuki Makkah. Peristiwa blokade tersebut berujung pada
perjanjian damai antara rasulullah dengan kaum Quraish yang diwakili oleh
Suhail Bin Amr di sebuah tempat bernama Hudaibiyah. Dalam perjanjian tersebut,
kaum muslimin sempat merasa dirugikan dan kecewa terhadap salah satu klausul
dalam perjanjian tersebut yang membuat mereka harus kembali pulang dan tidak bisa
memasuki Masjidil Haram saat itu. Kerinduan mereka untuk memasuki Masjidil
Haram dan keinginan mereka untuk menunaikan umrah berdasarkan perjanjian
tersebut harus ditunda tahun depan. Selain itu muncul desas-desus yang membuat
mereka semakin sedih yang menyatakan bahwa mimpi rasulullah adalah mimpi kosong
yang tak akan terbukti. Peristiwa Perjanjian Hudaibiyah dan terhalangnya kaum
muslimin memasuki Masjidil haram tersebut terjadi pada tahun ke-6 hijriah.
Dalam kondisi kekecewaan tersebut, Allah menghibur rasulullah dan kaum
muslimin dengan menurunkan Surat Al-Fath ayat 27 yang membenarkan mimpi
rasulullah dan menjanjikan bahwa rasulullah dan kaum muslimin tidak lama lagi
pasti akan dapat memasuki Masjidil Haram dalam kondisi sesuai dengan yang
terlihat dalam mimpi rasulullah. Ayat tersebut juga menyatakan bahwa selain
kepastian terlaksananya peristiwa itu, Allah juga menjanjikan kemenangan lain
yang akan diperoleh rasulullah dan kaum muslimin. Setahun kemudian, yakni pada Bulan
Dzulqaidah tahun ke-7 hijriah, Allah benar-benar memenuhi janji-Nya. Pada tahun
tersebut rasulullah dan para shahabat akhirnya bisa memasuki Masjidil Haram
sesuai dengan keadaan dan kondisi yang tergambar dalam mimpi rasulullah. Dalam
tarikh Islam, peristiwa tersebut dikenal dengan istilah “Umrah Qadha’”.
Selain terlaksananya Umrah Qadha’, Allah juga betul-betul membuktikan
janjinya yang lain akan kemenangan yang bakal diraih oleh kaum muslimin.
Beberapa bulan sebelum Umrah Qadha’, yakni di Bulan Muharram, kaum muslimin
berhasil memenangi perang melawan kaum Yahudi yang telah lama menjadi ancaman
bagi kaum muslimin di daerah Khaibar serta menaklukkan daerah tersebut.
Keuntungan lain yang tak terduga oleh kaum muslimin dari adanya Perjanjian
Hudaibiyah adalah bahwa selama kurun waktu tersebut rasulullah dapat fokus
mengembangkan dakwahnya ke luar Jazirah Arab. Antara tahun ke-6 dan ke-7
hijriah rasulullah mengirim surat dan delegasi kepada para penguasa di beberapa
negara tetangga. Mereka antara lain adalah; Kaisar Heraklius penguasa Bizantium
Romawi; Khusraw Parvez penguasa Persia; Najasyi penguasa Habasyah; Muqauqis
penguasa Mesir; Munzir Bin Sawi penguasa Bahrain; Harits Al-Himyari penguasa
Yaman; dan Syurahbil Bin Amr penguasa Bashrah.
Sebagian besar diantara negara-negara tersebut menyambut dengan baik
utusan dan surat yang disampaikan oleh rasulullah. Dalam sebuah riwayat dinyatakan
bahwa Najasyi secara diam-diam akhirnya memeluk Agama Islam. Kemudian Muqauqis,
meskipun tidak memeluk Islam, namun ia mengirimkan hadiah kepada rasulullah,
salah satunya adalah seorang perempuan berdarah Koptik Mesir bernama Mariyah
Al-Kibtiyah, yang kemudian beliau nikahi.
Hanya penguasa Persia dan Bashrah yang menanggapi dan memperlakukan dengan
buruk surat dan utusan dari nabi tersebut. Khusraw Parvez dikisahkan merasa
tersinggung dengan surat rasulullah kemudian langsung menyobeknya. Atas tindakannya
tersebut, rasulullah kemudian mendoakan bahwa kelak kekuasaan Persia akan
hancur dan terobek-robek sebagaimana robeknyanya surat tersebut. Doa rasulullah
menjadi kenyataan dengan terbunuhnya Khusraw tak lama setelah itu oleh putrinya
sendiri yang bernama Shirwaih. Hal ini menjadi awal kehancuran Persia, karena
sejak saat itu wilayah kekuasaan Persia semakin menyusut, hingga akhirnya
hancur dan musnah 8 tahun semenjak itu, tepatnya pada era kepemimpinan Khalifah
Umar Bin Khattab. Adapun Syurahbil Bin Amr Al-Ghassani penguasa Bashrah membunuh
Harits Bin Umair, utusan rasulullah yang diutus kepadanya. Pembunuhan tersebut
merupakan suatu penghinaan kepada kaum muslimin yang kemudian memicu terjadinya
Perang Mu’tah pada Jumadil Awal tahun ke-8 hijriah.
Tersiarnya dakwah Islam ke berbagai penjuru dunia dan tertaklukkannya
Khaibar membuat kaum muslimin akhirnya menyadari betapa besar hikmah dari
ketentuan yang Allah gariskan melalui rasul-Nya dengan menerima kesepakatan
Perjanjian Hudaibiyah yang sekilas tampak tidak menguntungkan bagi kaum
muslimin. Dari peristiwa tersebut dapatlah diambil pelajaran bahwa terkadang
seseorang harus mundur selangkah serta sedikit mengalah dan kompromi untuk
mencapai kemaslahatan yang lebih besar dan kemenangan yang lebih gemilang.
Kemudian pada tahun berikutnya, tepatnya pada Bulan Ramadhan tahun ke-8
hijriah rasulullah memimpin ekspedisi yang terdiri dari 10 ribu orang pasukan
menuju Makkah untuk membebaskan Kota Makkah (Fathul Makkah). Hal tersebut
terjadi karena diawali akibat pengkhianatan kesepakan damai Perjanjian
Hudaibiyah oleh kaum Quraish. Hal tersebut membuat Perjanjian Hudaibiyah telah
batal dan tidak lagi berlaku. Allah kemudian mewahyukan kepada rasulullah untuk
melakukan pembebasan dan penaklukan Kota Makkah. Dengan adanya peristiwa itu,
akhirnya Kota Makkah dan Masjidil Haram, tidak hanya dapat dimasuki oleh
rasulullah dan kaum muslimin, tetapi juga telah berhasil dikuasai dan
dibebaskan dari berhala-berhala dan praktek-praktek kesyirikan yang telah
berlangsung ribuan tahun. Demikianlah pemenuhan janji Allah kepada rasulullah
dan kaum muslimin yang dalam Surat Al-Fath disebut sebagai “Fathan Mubina”,
yakni “kemenangan yang nyata”. Meskipun redaksi Surat Al-Fath ayat 27
menyatakan “insyaallah, namun Allah benar-benar mewujudkan semua janji-Nya
kepada rasulullah, tanpa terkecuali dan tanpa mengingkarinya sedikitpun.
Hal yang menarik dalam Surat Al-Fath ayat 27 tersebut adalah bahwa Allah
menyatakan “insyaallah” untuk suatu janji yang sudah pasti Ia tepati. Demikianlah
Allah mencontohkan bagaimana seharusnya seorang muslim dalam memaknai dan ketika
mengucapkan ungkapan “insyaallah”. Meskipun kepastian akhir terkait setiap
urusan sepenuhnya ada di tangan Allah, namun kesakralan ungkapan “insyaallah” hendaknya
membuat setiap orang yang mengucapkannya bersungguh-sungguh dengan sekuat
ikhtiarnya untuk mewujudkan apa yang ia janjikan atau ia sanggupi. Ada satu lagi
contoh menarik terkait ungkapan “insyaallah sebagaimana yang Allah ajarkan
kepada setiap muslim melalui rasulullah agar menjadi adab yang diamalkan setiap
kali melalui pemakaman orang-orang Islam. Doa dan salam tersebut berbunyi:
اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الدِّيَارِ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ
وَالْمُسْلِمِيْنَ وَإِنَّا إِنْ شَاءَ الله بِكُمْ لَاحِقُوْنَ نَسْئَلُ الله
لَنَا وَلَكُمُ الْعَافِيَةَ
“Semoga keselamatan terlimpahkan bagi kalian wahai
penduduk alam barzakh, dari kaum mukminin dan muslimin, sesungguhnya kami akan
menyusul kalian “insyaallah”. Dan kami meminta kepada Allah keselamatan bagi
kami dan kalian”.
Salah satu kandungan dari salam dan doa di atas adalah kesadaran akan kepastian bahwa setiap orang yang yang masih hidup kelak pasti akan menyusul menuju alam kubur (meninggal). Meskipun kematian merupakan kepastian yang bersifat sunnatullah, namun terdapat ungkapan “insyaallah” yang terselip di dalamnya. Melalui doa di atas dan Surat Al-Fath ayat 27, Allah hendak mengajarkan kepada kita bahwa ungkapan “insyaallah” bersifat sakral, bukan sekedar jawaban diplomatis, yang bisa bermakna iya, ataupun bisa bermakna tidak. Dalam Ungkapan tersebut terkandung makna kesungguhan bahkan kepastian dalam tataran ikhtiar, meskipun kepastian pada hasil akhirnya, takdirlah yang menentukan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar