Ada suatu masa ketika Pulau Jawa dikenal
oleh dunia sebagai representasi dari seluruh wilayah Nusantara bahkan wilayah
sekitarnya, seperti Singapura, Malaysia, dan Pattani (Thailand). Pada masa lalu
ada banyak tokoh dari nusantara yang menimba ilmu di wilayah Hijaz dalam kurun waktu
yang cukup lama hingga hingga dikenal sebagai ulama di wilayah tersebut. Mereka
diantaranya adalah Nawawi Al-Bantani, Mahfudz Termas, Ahmad Khatib
Al-Minangkabawi, Khatib Sambas, Abdul Ghani Bima, Yusuf Al-Makassari, dan Yasin
Al-Fadani. Uniknya, orang-orang Hijaz menyebut mereka sebagai orang-orang dari
Tanah Jawi. Padahal sebagian diantara mereka justru barasal dari berbagai
wilayah di luar Jawa.
Demikian pula Bangsa Eropa,
dahulu kala sangat menggemari produk ekspor kopi Belanda dari wilayah jajahannya
di nusantara. Bangsa Eropa menyebut seduhan kopi hasil bumi nusantara tersebut
dengan istilah “Cup of Java” (secangkir kopi dari Jawa), padahal kenyataannya kopi
tersebut tidak hanya di tanam di Pulau Jawa, tetapi di berbagai wilayah di
nusantara, seperti Sumatra, Kalimantan, dan Sulawesi.
Selain terkenal
kemasyhurannya dalam sejarah dan kekayaan sumber daya alamnya, Tanah Jawa juga
memiliki kekayaan warisan leluhur berupa khazanah tradisi, spritual, pemikiran,
mitologi, dan falsafah. Salah satunya adalah gagasan Satrio Piningit dan Ratu
Adil, sebagai mitologi ramalan kepemimpinan futuristik Tanah Jawa. Secara
literal “satrio piningit” maknanya adalah “kesatria yang akan menjadi pemimpin
yang masih dipingit atau belum muncul”. Adapun “ratu adil” adalah “pemimpin
atau penguasa yang adil dan bijaksana”. Orang Jawa percaya bahwa kelak akan
muncul sosok satrio piningit sebagai pemimpin titisan dewa yang akan memegang
tahta Tanah Jawa (Nusantara). Dia diimpikan bisa menjadi ratu adil yang akan membawa
perubahan dengan memperbaiki moral dan taraf kehidupan manusia sehingga
tercipta kedamaian, kemakmuran dan keadilan.
Gagasan Satrio Piningit
pertama kali dikenalkan oleh Prabu Jayabaya, seorang raja Kerajaan Kediri yang
memerintah antara tahun 1135-1159. Ia memiliki ramalan terkait Tanah Jawa yang
dikenal sebagai “Jangka Jayabaya”. Ramalan tersebut berupa tembang yang
terdapat dalam Kitab Musarar atau Kitab Asrar yang ditulis oleh Sunan Giri ke-3
atau Sunan Giri Prapen. Ramalan Jayabaya juga digubah oleh Ronggowarsito, seorang
pujangga besar Keraton Kasunanan Surakarta yang hidup antara tahun 1802-1873.
Ia menggubah ramalan Jayabaya dalam salah satu karya sastranya yang berjudul
Serat Kalatida. Selain ramalan Jayabaya, prediksi kemunculan pemimpin masa
depan Tanah Jawa juga diisyaratkan dalam beberapa karya sastra lainnya,
seperti: Uga Wangsit Siliwangi, Ramalan Sabdopalon, dan Serat Darmogandul.
Kemunculan sosok satrio
piningit atau ratu adil dikaitkan dengan suatu jaman serba sulit yang
dikenalkan dengan istilah “Jaman Kalabendu”. Ada perbedaan antara Jayabaya dan
Ronggowarsito dalam memposisikan Jaman Kalabendu. Menurut ramalan Jayabaya,
eksistensi Tanah Jawa dibagi berdasarkan 3 era besar yang disebut “Trikali”, yang
memiliki rentang waktu 700 tahun. Ketiga jaman besar tersebut antara lain:
Jaman Kalisura (antara tahun 1-700), Kaliyoga (antara tahun 701-1400), dan
Kalisangara (antara tahun 1401-2100).
Berdasarkan pembagian
jaman besar tersebut, berarti saat ini kita tengah berada pada Jaman
Kalisangara. Jayabaya meramalkan bahwa pada tahun 2100, yang merupakan akhir
dari Jaman Kalisangara, Tanah Jawa akan mengalami “Kiamat Kubro”. Setiap jaman
besar terdiri terdiri dari 7 jaman kecil, dengan rentang waktu masing-masing
100 tahun. Jaman Kalisangara antara lain terdiri dari: Jaman Kalajonggo
(1401-1500), Jaman Kalasekti (1501-1600), Jaman Kalajodo (1601-1700), Jaman
Kalabendu (1701-1800), Jaman Kalasuba (1801-1900), Jaman Kalasumbaga (1901-2000),
dan Jaman Kalasurata (2001-2100).
Dalam rincian di atas,
bisa dikatakan bahwa Jaman Kalabendu terjadi pada era ketika Tanah Jawa dan
Nusantara tengah mengalami titik terberat masa kolonial. Tidak heran jika pada
masa-masa itu rakyat sangat mendambakan hadirnya satrio piningit atau ratu adil
untuk membebaskan mereka dari derita penjajahan. Keyakinan akan datangnya ratu
adil bahkan menjadi motivasi dan faktor pendorong bagi rakyat di banyak tempat
untuk mulai melakukan pemberontakan.
Adapun Ronggowarsito
memposisikan Jaman Kalabendu sebagai salah satu dari siklus 3 Jaman yang terus
berputar sepanjang masa, yang dalam falsafah Jawa dikenal dengan istilah “Cakra
Manggilingan”. Sebelum memasuki Jaman Kalabendu, terdapat Jaman Kalatidha,
dimana pada jaman tersebut, egoisme mulai muncul, moralitas perlahan mulai
ditanggalkan. Orang mulai berani keluar dari “jalan yang lurus” dengan
mengambil “jalan yang menyimpang”. Setelah kondisi semacam itu semakin parah
dan mencapai puncaknya, maka saat itu muncullah Jaman Kalabendu.
Jaman Kalabendu adalah
jaman dimana bangsa ini berada pada titik nol dan dilanda banyak “goro-goro”.
Kondisi dalam negerinya akan ditandai terjadinya banyak berbagai musibah
nasional seperti gempa bumi, banjir, gunung meletus, tsunami, kebakaran hutan,
dan bencana wabah. Kondisi pemerintahannya ditandai dengan terjadi distorsi
kekuasaan, berbagai intrik politik, ketidakstabilan ekonomi, dan penyimpangan
tata kelola pemerintahan. Kondisi rakyatnya ditandai dengan tingginya angka
kemiskinan, kriminalitas yang meningkat, hilangnya standar moral, dan
kehancuran budi pekerti. Pada puncak parahnya Jaman Kalabendu itulah sosok
satrio akan menunjukkan jati dirinya. Ia akan memegang tampuk kekuasaan, dan
memperbaiki keadaan dan membawa masyarakat memasuki Jaman Kalasuba. Kalasuba
adalah jaman kejayaan dimana moralitas kembali lurus, keadilan kembali tegak,
dan masyarakat kembali bisa hidup dengan penuh ketentraman.
Satrio Piningit yang nantinya
akan muncul, dikenali berdasarkan 3 karakter yang harus ada padanya. Karakter
pertama adalah Satria Bayangkara, yang artinya dia adalah sosok pemimpin yang
mampu mengayomi, bersikap adil dan tegas, namun berjiwa pemaaf, bahkan terhadap
lawannya sekalipun. Karakter kedua adalah Satria Panandita, yang artinya dia
merupakan pemimpin yang religius, jujur, dan mampu mengemban amanah demi
kemaslahatan umat. Karakter ketiga adalah Satria Raja, yang artinya dia adalah
sosok negarawan, bukan politisi; mengabdikan segenap jiwa raganya kepada negara
dan untuk kepentingan rakyat, bukan mengabdi kepada kekuasaan apalagi sekedar
untuk kepentingan pribadi yang korup.
Sosok Satrio Piningit,
dicitrakan oleh Jayabaya dalam ramalannya sebagai sosok yang berwujud layaknya
manusia biasa, tampilannya sederhana, namun sesungguhnya merupakan titisan
Batara Kresna, wataknya seperti Baladewa, bersenjatakan Trisula Wedha, sakti
mandraguna tanpa ajian. Penggambaran dalam ramalan tersebut nampaknya lebih
sebagai alegori atau kiasan yang tidak tidaklah bisa dipahami secara literal.
Dalam jagad pewayangan,
Batara Kresna dan Baladewa merupakan saudara kandung. Batara Kresna merupakan
perwujudan Dewa Indra di mayapada. Ia memainkan peran sebagai tokoh yang
menjadi sumber pengetahuan, kebajikan, dan kebijaksanaan, serta memiliki
perhitungan yang matang pada setiap tindakan yang diambil. Adapun Baladewa
ditampilkan sebagai sosok yang memiliki watak tegas, punya kemauan yang kuat, inovatif,
berani mengambil tindakan, dan siap menanggung resiko. Penggabungan dua tokoh
wayang tersebut pada diri satrio piningit akan mewujudkan kompleksitas karakter
kepemimpinan yang paripurna.
Wedha merupakan kitab
suci agama Hindu, yang mana bisa dikatakan bahwa kala itu agama tersebut
menjadi agama dominan yang dianut oleh masyarakat di Tanah Jawa. Sosok satrio
piningit yang dikaitkan dengan Wedha bisa diartikan bahwa ia adalah sosok
pemimpin yang lurus dan berada dalam sinaran petunjuk dari ilahi karena selalu
mendasarkan diri pada kitab suci. Adapun trisula adalah semacam senjata tombak
yang bermata tiga. Dalam kepercayaan Hindu, senjata tersebut adalah milik Dewa
Siwa yang merupakan dewa tertinggi dalam Trimurti. Dengan demikian, sosok
pemimpin yang disimbolkan memegang senjata trisula, bermakna bahwa ia adalah
pemimpin yang memegang otoritas tertinggi. Ada pula yang memahami bahwa trisula
menjadi simbol “mata ketiga”, yang mana seorang pemimpin diharapkan mampu
melihat realitas dan permasalahan secara lebih mendalam dibandingkan orang
biasa pada umumnya.
Ada pula yang memahami
bahwa trisula melambangkan tolok ukur kebenaran, keadilan, dan kebijaksanaan
yang diharapkan secara bersamaan dipegangi oleh seorang pemimpin sebagai
barometer dalam mengambil tindakan dan memutuskan setiap perkara. Ada pula yang
memahami bahwa trisula melambangkan ajian tertinggi dalam mitologi Jawa, yakni
“Sastra Jendra Hayuningrat”. Ajian tersebut menjadikan orang yang memilikinya
mampu menguasai masa lalu, masa kini, dan masa depan. Dalam konteks kekinian,
barangkali Sastra Jendra Hayuningrat bisa ditafsirkan sebagai pengetahuan dan
pemahaman yang dalam akan masa lalu (sejarah), sehingga mampu mengambil
pelajaran berharga pada setiap peristiwa yang telah berlalu. Pelajaran berharga
tersebut selanjutnya mampu diaktualisasikan sebagai pertimbangan dalam
mengambil langkah secara tepat. Pada masa depan, hal tersebut berwujud sebagai
kemampuan untuk memprediksi dan merumuskan visi dan program yang jelas.
Ronggowarsito
meramalkan bahwa akan ada 7 satrio piningit yang akan memerintah wilayah seluas
bekas wilayah Kerajaan Majapahit. Wilayah yang dimaksud ditafsirkan sebagai wilayah
nusantara (Negara Indonesia). Adapun ketujuh satrio piningit itu antara lain:
Pertama, Satrio Piningit Kinunjoro Murwo Kuncoro, yakni sosok pemimpin yang ‘kinunjoro”
artinya akrab dengan penjara (sering memasuki penjara) dan akan membebaskan
bangsa ini dari belenggu penjara (penjajahan). Ia juga merupakan sosok yang
“murwo kuncoro”, yakni akan tersohor di seluruh dunia. Sosok ini ditafsirkan tidak
lain adalah Presiden Soekarno, sosok proklamator kemerdekaan sekaligus presiden
pertama Indonesia. Dialah yang menjadi pemimpin besar revolusi sekaligus
pemimpin Orde Lama. Kiprah dan sepak terjang politiknya pun sampai mendunia,
salah satunya melalui Konferensi Asia Afrika dan Gerakan Non Blok yang ia
pelopori. Ia menjabat sebagai presiden dalam rentang waktu 1945-1967.
Kedua, Satrio Piningit Mukti
Wibowo Kesandung Kesampar yakni sosok pemimpin yang berharta dunia (mukti
wibowo), namun akhirnya akan mengalami kejatuhan dan akan terus dipersalahkan
atas segala keburukan dan kesalahan yang pernah ia lakukan (kesandung
kesampar). Sosok ini memiliki kemiripan dan dikaitkan dengan sosok Presiden
Soeharto. Ia merupakan presiden Indonesia yang memegang tampuk jabatan terlama,
yakni dalam rentang waktu 1967-1998. Ketiga, Satrio Piningit Jinumput Sumelo
Atur, yakni sosok pemimpin yang menduduki tampuk kekuasaan karena terangkat dan
terpungut (jinumput) dan berkuasa hanya dalam masa transisi yang sebentar
(sumelo atur). Sosok ini kemudian dikaitkan dengan Presiden BJ. Habibie. Sesuai
dengan gelar yang disandangnya, sebagai presiden di masa transisi, ia hanya memegang
tampuk jabatan selama setahun, yakni dalam rentang waktu 1998-1999.
Keempat, Satrio
Piningit Lelono Topo Ngrame, yakni sosok pemimpin yang melakukan perjalanan
keliling dunia (lelono) dan merupakan sosok rohaniawan yang memiliki tingkat spritual yang tinggi. Sosok ini kemudian dikaitkan
dengan Presiden Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Beliau lengser sebelum dapat
menyelesaikan masa jabatannya. Ia mampu memegang tampuk jabatan sebagai presiden
dalam kurun waktu 1999-2001. Kelima, Satrio Piningit Hamong Tuwuh, yakni sosok
pemimpin yang menaiki tampuk kekuasaan karena membawa pamor kebesaran yang
dimiliki oleh leluhur atau orang tuanya (hamong tuwuh). sosok yang dikaitkan
dengan Presiden Megawati Soekarno Putri. Ia melanjutkan sisa masa kepemimpinan
Gus Dur dalam kurun waktu 2001-2004.
Keenam, Satrio Piningit
Boyong Pambukaning Gapuro, yakni sosok pemimpin yang “berpindah tempat” atau
“boyong” dalam artian akan mengalami tahapan karir berjenjang sampai akhirnya
bisa sampai pada tampuk kekuasaan tertinggi. Dia adalah sosok yang akan
meletakkan pondasi dan membuka gerbang menuju era kemajuan (pambukaning
gapura). Sosok ini kemudian dikaitkan dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).
SBY berkuasa dalam rentang waktu 2004-2009, kemudian terpilih kembali dalam
masa kepemimpinan 2009-2014.
Ketujuh, Satrio
Piningit Pinandito Sinisihan Wahyu, yakni sosok pemimpin yang sangat religius
dan spritual yang tinggi, dia memiliki hubungan yang dekat dengan tuhan,
hatinya menyatu dengan rakyat (pinandito). Ia mendasarkan segala tindak tanduk
dan keputusan-keputusannya berdasarkan tuntunan wahyu (sinisihan wahyu). Dialah
sang ratu adil yang akan membawa bangsa Indonesia pada puncak kejayaannya. Pada
awal kemunculan sosok Jokowi, hingga selama masa kepemimpinannya, dialah yang dianggap
sebagai representasi dari satrio piningit ketujuh. Jokowi berkuasa dalam
rentang waktu 2014-2019, kemudian terpilih kembali dalam masa kepemimpinan
2019-2024.
Namun belakangan,
ketika suksesi pilpres 2024 semakin dekat, gelar satrio piningit yang
dilekatkan kepada Jokowi tersebut nampaknya mulai diralat. Jokowi tidak lagi dianggap
sebagai satrio piningit ketujuh, melainkan masih sebagai satrio piningit keenam
melanjutkan SBY. Menjelang pilpres 2024, mitos ramalan tentang kemunculan
satrio piningit yang ke-7 muncul kembali sebagai komoditas politik untuk
menaikkan elektabilitas para tokoh politik yang punya ambisi maju dalam
kontestasi pilpres 2024 sebagai pengganti Jokowi.
Dalam ramalannya, Jayabaya
menuturkan bahwa sosok yang ditakdirkan menjadi satrio piningit, namanya harus diakhiri
oleh salah satu suku kata yang tersusun dalam kata “No-To-ne-Go-Ro”. Lembaga
Survey Poltracking Indonesia merilis 10 besar tokoh yang memiliki elektabilitas
tertinggi menuju pilpres 2024. Mereka antara lain: Ganjar Pranowo 26,9 persen; Prabowo Subianto 22,5 persen; Anies Baswedan
16,8 persen; Agus Harimurti Yudhoyono 3,6 persen; Ridwan Kamil 3,4 persen;
Erick Thohir 2,6 persen; Sandiaga Salahuddin Uno 2,2 persen; Khofifah Indar
Parawansa 2,0 persen; Airlangga Hartarto 1,8 persen; dan Puan Maharani 1,2
persen.
Di antara tokoh-tokoh
tersebut, ada 4 orang yang namanya memenuhi syarat tersebut. yakni: Prabowo
Subianto, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), Airlangga Hartarto,
Sandiaga Salahuddin Uno. Jika diperhatikan, hanya 2 suku kata yang terpakai
sebagai akhiran nama tokoh-tokoh politik tersebut, yakni “No” atau “To”. Sementara
belum ada sosok tokoh politik yang berakhiran “Go” ataupun “Ro”. Demikian pula 3
sosok presiden yang pernah menjabat, yaitu: Soekarno, Soeharto,
dan Susilo Bambang Yudhoyono, berakhiran nama “No” atau “To”. Adapun 4
orang presiden sisanya, yang juga telah dianggap sesuai dengan ramalan sosok
satria piningit, ternyata namanya sama sekali tidak mengandung akhiran salah
satu komponen suku kata “No-To-ne-Go-Ro”.
Barangkali persyaratan
“No-To-ne-Go-Ro”, sebagaimana tertuang dalam ramalan Jayabaya, tidaklah mesti
dipahami secara literal. Ada beberapa tawaran penafsiran yang ingin penulis ajukan
disini untuk memahami prasyarat tersebut. Pertama, prasyarat “No-To-ne-Go-Ro”,
sebagai akhir suku kata nama sosok satria piningit, tidak harus dipahami secara
fixed, melainkan lebih sebagai representasi model penamaan orang Jawa atau
masyarakat nusantara pada kala itu. Di luar itu, sebenarnya masih ada banyak
pilihan lain suku kata yang bisa menjadi akhir penamaan ala orang Jawa,
sebagaimana tertera dalam alfabetik Jawa “Honocoroko”. Dengan demikian,
nama-nama seperti: Joko Widodo, Ganjar Pranowo, Hary Tanoesoedibyo
masih bisa dipertimbangkan sebagai nama yang sarat dengan cita rasa penamaan
Jawa.
Kedua, “No-To-ne-Go-Ro”
harus dipahami sebagai komitmen dan kemampuan calon pemimpin untuk “Notonegoro”
(menata negara). Dengan demikian, siapapun pemimpin bangsa ini yang terbukti
memiliki keseriusan dan kompetensi dalam menata, membenahi, dan menyelesaikan
berbagai problematika kenegaraan, sehingga bisa membawa bangsa ini mencapai
kemakmuran dan kejayaannya. dialah sosok yang ditakdirkan menjadi satrio
piningit. Tanpa perlu melihat apakah akhiran namanya diakhiri oleh salah satu
suku kata “No-To-ne-Go-Ro” atau tidak. Barangkali ramalan tersebut dimaksudkan hanyalah
sebagai perlambang untuk mengisyaratkan bahwa satrio piningit yang menjadi
pemimpin negeri ini haruslah sosok yang dalam dirinya mengalir “darah”
ke-Jawa-an dan ke-Nusantara-an yang kental serta bertekad kuat dan memiliki
kompetensi untuk membawa perubahan bagi bangsa ini menuju kemakmuran dan
kejayaan.
Pada kontestasi pilpres
2024 nanti, bisa jadi sosok yang bakal terpilih adalah benar-benar satrio
piningit ke-7 yang dinanti. Bisa jadi mungkin presiden mendatang masih sebagai
Satrio Piningit Boyong Pambukaning Gapura. Hal ini mengingat kondisi jaman
dianggap masih belum saatnya untuk kedatangan satrio piningit ke-7, sebagaimana
hal semacam itu sebelumnya terjadi pada Jokowi. Atau bisa jadi 7 sosok satrio
piningit dalam ramalan tersebut sesungguhnya merupakan 7 tipologi kepemimpinan
Tanah Jawa atau Nusantara yang bisa jadi tampil sesuai dengan kebutuhan jaman, tanpa
harus terjadi secara berurutan.
Dengan demikian, perlu
kiranya tujuh sosok satrio piningit dalam ramalan Ronggowarsito tersebut
ditafsirkan ulang secara lebih kreatif dengan mempertimbangkan kekuatan
karakternya masing-masing. Satrio Piningit Kinunjoro adalah tipologi pemimpin
pembebasan, perintis, pejuang, pendobrak, dan reformator. Satrio Piningit Mukti
Wibowo merupakan representasi pemimpin yang penuh dengan karisma dan wibawa serta
memiliki sokongan yang kuat dari sisi sumber daya, khususnya sumber daya
materil. Satrio Piningit Jinumput Sumelo Atur adalah tipologi pemimpin
transisi, yang memegang tampuk kuasa sementara dalam kondisi kekosongan
pemerintahan. Satrio Piningit Lelono adalah sosok pemimpin yang suka berkawan, memiliki
visi dan perhatian besar dalam membangun hubungan diplomatis. Satrio Piningit
Hamong Tuwuh adalah sosok pemimpin yang teruntungkan karena mewarisi trah dan
nama besar dari leluhurnya. Satrio Piningit Boyong Pambukaning Gapura merupakan
tipologi pemimpin yang meniti karir dari bawah, sosok teknokrat, pekerja keras,
dan memiliki program-program yang prestisius. Adapun Satrio Piningit Pinandita
Sinisihan Wahyu adalah tipologi pemimpin yang sangat agamis, religius, dekat
dengan rakyat serta mampu mengayomi.
Tawaran pemaknaan alternatif
yang kreatif dan logis semacam itu, akan membuat warisan berupa ramalan
kepemimpinan masa depan dalam tradisi Jawa lebih menemukan makna vitalnya dalam
perputaran kemajuan jaman. Uraian syair peninggalan Jayabaya maupun
Ranggawarsito harapannya tidaklah sekedar berhenti pada taraf mistik dan mitos,
tetapi menjadi pedoman ajaran moral dan falsafah terkait kepemimpinan Nusantara
yang logis dan akan terus menemukan relevansinya.