Rabu, 17 April 2024

Duka Cita di Bulan Syawwal

Seminggu telah berlalu sejak aku kehilangan anakku. Bayangnya masih kerap hinggap di benakku. Aku mampu tegar ketika berada di hadapan banyak orang, tetapi jujur air mata ini sesekali masih menetes mengenangnya di kala sepi. Dalam seminggu ini, hampir tiap hari aku dan ibunya menjenguk dan berdoa di kuburnya. Kehilangan akan dirinya di penghujung Ramadhan ini membuat gema takbir Idul Fitri tahun ini tak bisa lagi kurasai sebagai momen kebahagiaan. Namun kepergian anakku benar-benar mengajarkan kepadaku untuk menjadi sabar dan ikhlas meskipun tertatih-tatih aku mengupayakannya. Kepergian anakku, sejenak membuatku merenung dan mengingatkan bahwa sosok termulia di jagad raya ini pun juga pernah berduka cita karena kehilangan sosok buah hati yang amat dicintainya. Beliau bahkan mengalami duka cita karena kehilangan 3 orang putranya saat mereka masih balita. Mereka adalah: Al-Qasim, Abdullah, dan Ibrahim.


Kisah yang paling memilukan diantara ketiganya adalah wafatnya Ibrahim. Ia adalah putra nabi dari istri beliau yang bernama Mariyah Al-Qibtiyah, seorang wanita berdarah bangsawan asal Mesir. Nabi sangat bersuka cita atas kabar lahirnya bayi laki-laki dari rahim Mariyah. Tiap waktu, beliau sempatkan untuk datang menjenguk mariyah dan putranya ini, sehingga sempat membuat istri-istri nabi yang lainnya menjadi cemburu. Sebagai wujud syukur dan suka cita atas kelahiran putranya tersebut, nabi menyembelih kambing sebagai akikah dan  bersedekah perak seberat cukuran rambut Ibrahim dan beliau sedekahkan kepada faqir miskin. Nabi memiliki harapan besar bahwa putranya ini akan menjadi kebanggaan beliau setelah wafatnya Al-Qasim dan Abdullah. Kebanggaan tersebut terlihat dari bagaimana nabi menamai anak ini dengan nama leluhur beliau, leluhur para nabi, bahkan juga merupakan leluhur bangsa Arab, Nabi Ibrahim.


Namun kebahagiaan tersebut tidaklah berlangsung lama. Pada bulan Syawwal tahun 10 hijriyah, pada usia yang belum genap 2 tahun, Ibrahim meninggal dunia karena sakit. Ibrahim adalah putra tumpuan harapan beliau setelah beliau kehilangan Al-Qosim dan Abdullah. Bahkan kala itu, 3 dari 4 putri beliau yang telah beranjak dewasa, juga telah meninggal mendahului nabi. Sehingga setelah wafatnya Ibrahim, hanya Fathimah lah diantara keturunan nabi yang tersisa. Perasaan duka atas wafatnya Ibrahim, sebagian kecil diantaranya, beliau ungkapkan dalam perkataan beliau, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, “Sungguh mata ini meneteskan air mata dan hati ini sedang dirundung duka. Namun, kami tidak mengatakan sesuatu yang tidak diridhai Rabb kami. Sungguh, kami bersedih atas kepergianmu, wahai Ibrahim.” 


Pada hari meninggalnya Ibrahim, secara bersamaan terjadi gerhana matahari. Sebagian orang saat itu beranggapan bahwa terjadinya gerhana kala itu merupakan peristiwa mistik yang berhubungan dengan kematian Ibrahim. Islam menepis pemahaman mistik tersebut, sekaligus untuk pertama kalinya mensyariatkan pelaksanaan shalat gerhana bagi kaum muslim. Hal ini sebagaimana dilansir oleh hadist riwayat Imam Bukhari, “Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kekuasaan Allah. Gerhana ini tidak terjadi karena kematian seseorang atau lahirnya seseorang. Jika melihat hal tersebut maka berdoalah kepada Allah, bertakbirlah, kerjakanlah shalat dan bersedekahlah.”


Bulan Syawwal yang biasanya dimaknai sebagai bulan kemenangan dan kebahagiaan, kala itu justru menjadi bulan yang menyimpan momen kedukaan bagi nabi atas wafatnya Ibrahim. Namun tidak ada hal yang sia-sia di dunia ini. Rasa sakit, duka, dan perih, terlebih jika sabar dan ikhlas menghadapinya, tentu semua akan diganti dengan kemuliaan dan kebahagiaan kelak pada waktunya. Demikian pula Allah menghibur rasul-Nya atas semua rasa kehilangan yang beliau alami dengan janji akan karunia yang besar yang pasti beliau terima nantinya, sebagaimana dinyatakan dalam permulaan Surat Al-Kautsar, “Sungguh Kami akan karuniakan kepadamu Al-Kautsar.”


Ada banyak tafsiran dari makna kata "Al-Kautsar" tersebut. Sebagian diantara ahli tafsir memaknai kata tersebut sebagai nama telaga di akhirat kelak yang dianugerahkan kepada nabi yang mana umat manusia yang beliau ridhai bisa minum dari telaga tersebut dan tidak akan kehausan selamanya. Ada pula yang mufassir yang memahami bahwa makna kata "Al-Kautsar" tersebut adalah janji Allah yang akan memberikan keturunan yang banyak bagi beliau melalui jalur Fathimah. Ada pula mufassir yang memaknai secara lebih umum bahwa makna kata "Al-Kautsar" tersebut adalah nikmat dan karunia yang besar dalam berbagai bentuknya.


Jika dibandingkan dengan yang dialami oleh nabi, kedukaanku jelas jauh tidak ada apa-apanya. Namun aku berharap kedukaanku di bulan Syawwal sebagaimana yang pernah Nabi alami, semoga menjadikanku termasuk ke dalam golongan orang-orang yang diridhoi sehingga bisa meneguk air segar dari telaga Kautsar. Semoga kehilanganku atas anakku, Allah gantikan dengan keturunan yang shalih dan shalihah bagiku kelak, sebagaimana Allah penuhi janjinya kepada Nabi. Semoga ujian kedukaan yang kualami ini, kelak membuahkan karunia dan nikmat yang besar di kemudian hari...

Selamat Jalan Anakku

Aku masih teringat saat USG pertama, Kata dokter, anak ketigaku ini kondisinya sehat dan insyaallah laki-laki. Dokter saat itu menerangkan kondisi anakku dalam kandungan secara cukup detil bahkan bisa menunjukkan melalui alat USG mana kepala, tangan, kaki, dada, dan lain sebagainya. Tapi sayangnya dokter tidak bisa menunjukkan bagaimana wajah anakku. Kata dokter, wajah anakku tertutup tangannya, mungkin malu ketemu bapak ibunya, guraunya. Begitupun saat USG kedua dan USG menjelang kelahiran, wajahnya selalu tertutup dan tidak bisa dilihat.

Aku siapkan segala sesuatunya untuk calon jagoanku ini, mulai dari baju-bajunya, tempat tidurnya, dan aneka perlengkapan bayi lainnya insyaallah nyaris komplit. Kusiapkan dipan dan kasur busa khusus untuknya. Aku renovasi pula kamar mandi, pikirku agar lebih enak nantinya ketika memandikannya. Bahkan jauh-jauh hari sudah kusiapkan dan kupilihkan nama yang menurutku terbaik untuk anakku ini, "Bilhabib Syauqi". Dalam nama itu, tersimpan harapan besarku semoga ia kelak menjadi muslim yg taat yg senantiasa merindui nabi-Nya, menjadi pribadi yg baik dan santun yg senantiasa dirindui oleh orang-orang di sekelilingnya.


Selama masa ia dlm kandungan, aku bersemangat sekali, 2x lipat dari biasanya dlm membersamai anak-anak mengaji dan tahfidz di rumah maupun di sekolah. Kupikir semoga lelahku membersamai mereka menjadi wasilah semoga anakku yg masih dalam kandungan memperoleh barokah Al-Qur'an. Semoga ia nanti mengikuti jalan hidupku bahkan lebih hebat dariku dalam mengabdi mengemban Al-Quran.


Tibalah saat ia lahir... Tak karuan rasanya saat kulihat ia keluar tanpa tangisan, apalagi saat kulihat bidan yang menangani persalinan buru-buru menyuruh asistennya untuk menghubungi nomor layanan darurat. Setelah diberi pertolongan pertama, alhamdulillah mulai keluar suara tangisnya, meskipun lirih. Anakku lahir dg bobot 2,5 Kg, air ketuban sdh kering, terlilit tali pusar, dan paru-parunya kemasukan ketuban keruh. Dengan kondisi demikian otomatis anakku dinyatakan kritis dan harus mendapat perawatan secara intensif. 


Di satu sisi aku bahagia dg kelahiran anakku, namun di sisi lain aku tidak tega melihatnya bernapas tersengal-sengal di dalam inkubator. Aku dan istriku diberi kesempatan untuk menjenguknya masing-masing hanya sekali, itupun hanya sebentar. Hanya boleh melihat dan memandangnya saja, tanpa boleh menyentuh, menggendong, apalagi mendekap dan menciumnya. Saat giliran istriku menjenguknya, ia langsung menengok ketika di sapa, seolah ia tahu bahwa yang menjenguk adalah ibunya. Tak lama ia langsung menangis kencang, seakan ia ingin berpamitan.


Kurang lebih sehari semalam setelah dirawat, istriku diijinkan pulang karena kondisinya memang telah membaik. Sedangkan anakku dg kondisi demikian, entah kapan ia akan boleh pulang, pihak rumah sakit tidak bisa memastikan. Bahkan pihak rumah sakitpun juga tidak berani mengatakan apakah anakku akan bisa melewati masa kritisnya.


Tadi pagi mendadak aku ditelpon pihak rumah sakit yg memberitahukan bahwa anakku berhenti nafas dan detak jantungnya. Langsung aku bergegas ke rumah sakit dg perasaan yg tidak karuan. Aku tdk menangis, tapi air mata tak berhenti mengalir di sepanjang jalan menuju rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit, aku diberitahu bahwa setelah dilakukan pemompaan nafas selama kurang lebih 15 menit, nafas dan detak jantungnya sdh kembali meskipun masih tersengal-sengal dan besar kemungkinan hal tersebut akan terjadi lagi sewaktu-waktu.


Hanya berdoa dan meminta doa yang kurasa bisa kulakukan sambil menunggu dan berharap bahwa anakku bisa melewati masa kritisnya dengan selamat. Demi keselamatan anakku bahkan kuputuskan untuk berziarah ke asta KH. Abdullah Yaqin Bustanul Ulum Mlokorejo. Kutumpahkan perasaanku dan tangisku di situ. Kubaca Surat Yasin sebanyak mungkin yg kumampu. Pikirku, bahkan kalau perlu meski sampai maghrib pun tak mengapa, sebagai wasilah semoga anakku sembuh.


Namun takdir berkata lain, Tuhanlah yg punya kehendak, dan kupikir meskipun berat dan sakit rasanya, tapi itulah yg terbaik. Telpon dari rumah sakit berdering tepat setelah pembacaan Yasin yg keempat kalinya. Pihak rumah sakit mengabarkan bahwa anakku baru saja meninggal.


Kini aku tahu kenapa anakku ini menutup wajahnya seolah tak ingin dilihat wajahnya dalam 3 kali USG. Mungkin ia tak ingin wajahnya terngiang dan menimbulkan kesedihan yg mendalam bagi kami saat ia berpamitan nanti. Aku paham bahwa berbagai perlengkapan dan tempat tidur yg telah kusiapkan untuknya tak akan membuatnya tertidur senyenyak dan senyaman tidurnya di tempat peristirahatannya saat ini. Ia benar-benar menepati makna nama yang kuberikan untuknya, Bilhabib Syauqi. Ia singgah di dunia ini hanya 2 hari, tiada yg lebih ia rindukan, kecuali Tuhan Sang Pencipta. Tiada pula yg paling merindukannya, melebihi kerinduan Tuhan Sang Pencipta kepadanya.


Aku tdk ucapkan selamat tinggal untuknya, karena kuanggap ini bukan perpisahan. Kuucapkan selamat jalan untuknya, karena kuyakin kelak aku akan menemuinya kembali, menyapanya, bahkan mungkin memeluknya erat-erat di alam keabadian. Selamat jalan anakku, Bilhabib Syauqi... Aku ikhlaskan engkau menuju peristirahatan terakhirmu.

Minggu, 04 September 2022

Menanti Datangnya Satrio Piningit Sang Ratu Adil Tanah Jawa

 


Ada suatu masa ketika Pulau Jawa dikenal oleh dunia sebagai representasi dari seluruh wilayah Nusantara bahkan wilayah sekitarnya, seperti Singapura, Malaysia, dan Pattani (Thailand). Pada masa lalu ada banyak tokoh dari nusantara yang menimba ilmu di wilayah Hijaz dalam kurun waktu yang cukup lama hingga hingga dikenal sebagai ulama di wilayah tersebut. Mereka diantaranya adalah Nawawi Al-Bantani, Mahfudz Termas, Ahmad Khatib Al-Minangkabawi, Khatib Sambas, Abdul Ghani Bima, Yusuf Al-Makassari, dan Yasin Al-Fadani. Uniknya, orang-orang Hijaz menyebut mereka sebagai orang-orang dari Tanah Jawi. Padahal sebagian diantara mereka justru barasal dari berbagai wilayah di luar Jawa.

Demikian pula Bangsa Eropa, dahulu kala sangat menggemari produk ekspor kopi Belanda dari wilayah jajahannya di nusantara. Bangsa Eropa menyebut seduhan kopi hasil bumi nusantara tersebut dengan istilah “Cup of Java” (secangkir kopi dari Jawa), padahal kenyataannya kopi tersebut tidak hanya di tanam di Pulau Jawa, tetapi di berbagai wilayah di nusantara, seperti Sumatra, Kalimantan, dan Sulawesi.

Selain terkenal kemasyhurannya dalam sejarah dan kekayaan sumber daya alamnya, Tanah Jawa juga memiliki kekayaan warisan leluhur berupa khazanah tradisi, spritual, pemikiran, mitologi, dan falsafah. Salah satunya adalah gagasan Satrio Piningit dan Ratu Adil, sebagai mitologi ramalan kepemimpinan futuristik Tanah Jawa. Secara literal “satrio piningit” maknanya adalah “kesatria yang akan menjadi pemimpin yang masih dipingit atau belum muncul”. Adapun “ratu adil” adalah “pemimpin atau penguasa yang adil dan bijaksana”. Orang Jawa percaya bahwa kelak akan muncul sosok satrio piningit sebagai pemimpin titisan dewa yang akan memegang tahta Tanah Jawa (Nusantara). Dia diimpikan bisa menjadi ratu adil yang akan membawa perubahan dengan memperbaiki moral dan taraf kehidupan manusia sehingga tercipta kedamaian, kemakmuran dan keadilan.

Gagasan Satrio Piningit pertama kali dikenalkan oleh Prabu Jayabaya, seorang raja Kerajaan Kediri yang memerintah antara tahun 1135-1159. Ia memiliki ramalan terkait Tanah Jawa yang dikenal sebagai “Jangka Jayabaya”. Ramalan tersebut berupa tembang yang terdapat dalam Kitab Musarar atau Kitab Asrar yang ditulis oleh Sunan Giri ke-3 atau Sunan Giri Prapen. Ramalan Jayabaya juga digubah oleh Ronggowarsito, seorang pujangga besar Keraton Kasunanan Surakarta yang hidup antara tahun 1802-1873. Ia menggubah ramalan Jayabaya dalam salah satu karya sastranya yang berjudul Serat Kalatida. Selain ramalan Jayabaya, prediksi kemunculan pemimpin masa depan Tanah Jawa juga diisyaratkan dalam beberapa karya sastra lainnya, seperti: Uga Wangsit Siliwangi, Ramalan Sabdopalon, dan Serat Darmogandul.

Kemunculan sosok satrio piningit atau ratu adil dikaitkan dengan suatu jaman serba sulit yang dikenalkan dengan istilah “Jaman Kalabendu”. Ada perbedaan antara Jayabaya dan Ronggowarsito dalam memposisikan Jaman Kalabendu. Menurut ramalan Jayabaya, eksistensi Tanah Jawa dibagi berdasarkan 3 era besar yang disebut “Trikali”, yang memiliki rentang waktu 700 tahun. Ketiga jaman besar tersebut antara lain: Jaman Kalisura (antara tahun 1-700), Kaliyoga (antara tahun 701-1400), dan Kalisangara (antara tahun 1401-2100).

Berdasarkan pembagian jaman besar tersebut, berarti saat ini kita tengah berada pada Jaman Kalisangara. Jayabaya meramalkan bahwa pada tahun 2100, yang merupakan akhir dari Jaman Kalisangara, Tanah Jawa akan mengalami “Kiamat Kubro”. Setiap jaman besar terdiri terdiri dari 7 jaman kecil, dengan rentang waktu masing-masing 100 tahun. Jaman Kalisangara antara lain terdiri dari: Jaman Kalajonggo (1401-1500), Jaman Kalasekti (1501-1600), Jaman Kalajodo (1601-1700), Jaman Kalabendu (1701-1800), Jaman Kalasuba (1801-1900), Jaman Kalasumbaga (1901-2000), dan Jaman Kalasurata (2001-2100).

Dalam rincian di atas, bisa dikatakan bahwa Jaman Kalabendu terjadi pada era ketika Tanah Jawa dan Nusantara tengah mengalami titik terberat masa kolonial. Tidak heran jika pada masa-masa itu rakyat sangat mendambakan hadirnya satrio piningit atau ratu adil untuk membebaskan mereka dari derita penjajahan. Keyakinan akan datangnya ratu adil bahkan menjadi motivasi dan faktor pendorong bagi rakyat di banyak tempat untuk mulai melakukan pemberontakan.

Adapun Ronggowarsito memposisikan Jaman Kalabendu sebagai salah satu dari siklus 3 Jaman yang terus berputar sepanjang masa, yang dalam falsafah Jawa dikenal dengan istilah “Cakra Manggilingan”. Sebelum memasuki Jaman Kalabendu, terdapat Jaman Kalatidha, dimana pada jaman tersebut, egoisme mulai muncul, moralitas perlahan mulai ditanggalkan. Orang mulai berani keluar dari “jalan yang lurus” dengan mengambil “jalan yang menyimpang”. Setelah kondisi semacam itu semakin parah dan mencapai puncaknya, maka saat itu muncullah Jaman Kalabendu. 

Jaman Kalabendu adalah jaman dimana bangsa ini berada pada titik nol dan dilanda banyak “goro-goro”. Kondisi dalam negerinya akan ditandai terjadinya banyak berbagai musibah nasional seperti gempa bumi, banjir, gunung meletus, tsunami, kebakaran hutan, dan bencana wabah. Kondisi pemerintahannya ditandai dengan terjadi distorsi kekuasaan, berbagai intrik politik, ketidakstabilan ekonomi, dan penyimpangan tata kelola pemerintahan. Kondisi rakyatnya ditandai dengan tingginya angka kemiskinan, kriminalitas yang meningkat, hilangnya standar moral, dan kehancuran budi pekerti. Pada puncak parahnya Jaman Kalabendu itulah sosok satrio akan menunjukkan jati dirinya. Ia akan memegang tampuk kekuasaan, dan memperbaiki keadaan dan membawa masyarakat memasuki Jaman Kalasuba. Kalasuba adalah jaman kejayaan dimana moralitas kembali lurus, keadilan kembali tegak, dan masyarakat kembali bisa hidup dengan penuh ketentraman.

Satrio Piningit yang nantinya akan muncul, dikenali berdasarkan 3 karakter yang harus ada padanya. Karakter pertama adalah Satria Bayangkara, yang artinya dia adalah sosok pemimpin yang mampu mengayomi, bersikap adil dan tegas, namun berjiwa pemaaf, bahkan terhadap lawannya sekalipun. Karakter kedua adalah Satria Panandita, yang artinya dia merupakan pemimpin yang religius, jujur, dan mampu mengemban amanah demi kemaslahatan umat. Karakter ketiga adalah Satria Raja, yang artinya dia adalah sosok negarawan, bukan politisi; mengabdikan segenap jiwa raganya kepada negara dan untuk kepentingan rakyat, bukan mengabdi kepada kekuasaan apalagi sekedar untuk kepentingan pribadi yang korup.

Sosok Satrio Piningit, dicitrakan oleh Jayabaya dalam ramalannya sebagai sosok yang berwujud layaknya manusia biasa, tampilannya sederhana, namun sesungguhnya merupakan titisan Batara Kresna, wataknya seperti Baladewa, bersenjatakan Trisula Wedha, sakti mandraguna tanpa ajian. Penggambaran dalam ramalan tersebut nampaknya lebih sebagai alegori atau kiasan yang tidak tidaklah bisa dipahami secara literal.

Dalam jagad pewayangan, Batara Kresna dan Baladewa merupakan saudara kandung. Batara Kresna merupakan perwujudan Dewa Indra di mayapada. Ia memainkan peran sebagai tokoh yang menjadi sumber pengetahuan, kebajikan, dan kebijaksanaan, serta memiliki perhitungan yang matang pada setiap tindakan yang diambil. Adapun Baladewa ditampilkan sebagai sosok yang memiliki watak tegas, punya kemauan yang kuat, inovatif, berani mengambil tindakan, dan siap menanggung resiko. Penggabungan dua tokoh wayang tersebut pada diri satrio piningit akan mewujudkan kompleksitas karakter kepemimpinan yang paripurna.

Wedha merupakan kitab suci agama Hindu, yang mana bisa dikatakan bahwa kala itu agama tersebut menjadi agama dominan yang dianut oleh masyarakat di Tanah Jawa. Sosok satrio piningit yang dikaitkan dengan Wedha bisa diartikan bahwa ia adalah sosok pemimpin yang lurus dan berada dalam sinaran petunjuk dari ilahi karena selalu mendasarkan diri pada kitab suci. Adapun trisula adalah semacam senjata tombak yang bermata tiga. Dalam kepercayaan Hindu, senjata tersebut adalah milik Dewa Siwa yang merupakan dewa tertinggi dalam Trimurti. Dengan demikian, sosok pemimpin yang disimbolkan memegang senjata trisula, bermakna bahwa ia adalah pemimpin yang memegang otoritas tertinggi. Ada pula yang memahami bahwa trisula menjadi simbol “mata ketiga”, yang mana seorang pemimpin diharapkan mampu melihat realitas dan permasalahan secara lebih mendalam dibandingkan orang biasa pada umumnya.

Ada pula yang memahami bahwa trisula melambangkan tolok ukur kebenaran, keadilan, dan kebijaksanaan yang diharapkan secara bersamaan dipegangi oleh seorang pemimpin sebagai barometer dalam mengambil tindakan dan memutuskan setiap perkara. Ada pula yang memahami bahwa trisula melambangkan ajian tertinggi dalam mitologi Jawa, yakni “Sastra Jendra Hayuningrat”. Ajian tersebut menjadikan orang yang memilikinya mampu menguasai masa lalu, masa kini, dan masa depan. Dalam konteks kekinian, barangkali Sastra Jendra Hayuningrat bisa ditafsirkan sebagai pengetahuan dan pemahaman yang dalam akan masa lalu (sejarah), sehingga mampu mengambil pelajaran berharga pada setiap peristiwa yang telah berlalu. Pelajaran berharga tersebut selanjutnya mampu diaktualisasikan sebagai pertimbangan dalam mengambil langkah secara tepat. Pada masa depan, hal tersebut berwujud sebagai kemampuan untuk memprediksi dan merumuskan visi dan program yang jelas.

Ronggowarsito meramalkan bahwa akan ada 7 satrio piningit yang akan memerintah wilayah seluas bekas wilayah Kerajaan Majapahit. Wilayah yang dimaksud ditafsirkan sebagai wilayah nusantara (Negara Indonesia). Adapun ketujuh satrio piningit itu antara lain: Pertama, Satrio Piningit Kinunjoro Murwo Kuncoro, yakni sosok pemimpin yang ‘kinunjoro” artinya akrab dengan penjara (sering memasuki penjara) dan akan membebaskan bangsa ini dari belenggu penjara (penjajahan). Ia juga merupakan sosok yang “murwo kuncoro”, yakni akan tersohor di seluruh dunia. Sosok ini ditafsirkan tidak lain adalah Presiden Soekarno, sosok proklamator kemerdekaan sekaligus presiden pertama Indonesia. Dialah yang menjadi pemimpin besar revolusi sekaligus pemimpin Orde Lama. Kiprah dan sepak terjang politiknya pun sampai mendunia, salah satunya melalui Konferensi Asia Afrika dan Gerakan Non Blok yang ia pelopori. Ia menjabat sebagai presiden dalam rentang waktu 1945-1967.

Kedua, Satrio Piningit Mukti Wibowo Kesandung Kesampar yakni sosok pemimpin yang berharta dunia (mukti wibowo), namun akhirnya akan mengalami kejatuhan dan akan terus dipersalahkan atas segala keburukan dan kesalahan yang pernah ia lakukan (kesandung kesampar). Sosok ini memiliki kemiripan dan dikaitkan dengan sosok Presiden Soeharto. Ia merupakan presiden Indonesia yang memegang tampuk jabatan terlama, yakni dalam rentang waktu 1967-1998. Ketiga, Satrio Piningit Jinumput Sumelo Atur, yakni sosok pemimpin yang menduduki tampuk kekuasaan karena terangkat dan terpungut (jinumput) dan berkuasa hanya dalam masa transisi yang sebentar (sumelo atur). Sosok ini kemudian dikaitkan dengan Presiden BJ. Habibie. Sesuai dengan gelar yang disandangnya, sebagai presiden di masa transisi, ia hanya memegang tampuk jabatan selama setahun, yakni dalam rentang waktu 1998-1999.

Keempat, Satrio Piningit Lelono Topo Ngrame, yakni sosok pemimpin yang melakukan perjalanan keliling dunia (lelono) dan merupakan sosok rohaniawan yang memiliki tingkat  spritual yang tinggi. Sosok ini kemudian dikaitkan dengan Presiden Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Beliau lengser sebelum dapat menyelesaikan masa jabatannya. Ia mampu memegang tampuk jabatan sebagai presiden dalam kurun waktu 1999-2001. Kelima, Satrio Piningit Hamong Tuwuh, yakni sosok pemimpin yang menaiki tampuk kekuasaan karena membawa pamor kebesaran yang dimiliki oleh leluhur atau orang tuanya (hamong tuwuh). sosok yang dikaitkan dengan Presiden Megawati Soekarno Putri. Ia melanjutkan sisa masa kepemimpinan Gus Dur dalam kurun waktu 2001-2004.

Keenam, Satrio Piningit Boyong Pambukaning Gapuro, yakni sosok pemimpin yang “berpindah tempat” atau “boyong” dalam artian akan mengalami tahapan karir berjenjang sampai akhirnya bisa sampai pada tampuk kekuasaan tertinggi. Dia adalah sosok yang akan meletakkan pondasi dan membuka gerbang menuju era kemajuan (pambukaning gapura). Sosok ini kemudian dikaitkan dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). SBY berkuasa dalam rentang waktu 2004-2009, kemudian terpilih kembali dalam masa kepemimpinan 2009-2014.

Ketujuh, Satrio Piningit Pinandito Sinisihan Wahyu, yakni sosok pemimpin yang sangat religius dan spritual yang tinggi, dia memiliki hubungan yang dekat dengan tuhan, hatinya menyatu dengan rakyat (pinandito). Ia mendasarkan segala tindak tanduk dan keputusan-keputusannya berdasarkan tuntunan wahyu (sinisihan wahyu). Dialah sang ratu adil yang akan membawa bangsa Indonesia pada puncak kejayaannya. Pada awal kemunculan sosok Jokowi, hingga selama masa kepemimpinannya, dialah yang dianggap sebagai representasi dari satrio piningit ketujuh. Jokowi berkuasa dalam rentang waktu 2014-2019, kemudian terpilih kembali dalam masa kepemimpinan 2019-2024.

Namun belakangan, ketika suksesi pilpres 2024 semakin dekat, gelar satrio piningit yang dilekatkan kepada Jokowi tersebut nampaknya mulai diralat. Jokowi tidak lagi dianggap sebagai satrio piningit ketujuh, melainkan masih sebagai satrio piningit keenam melanjutkan SBY. Menjelang pilpres 2024, mitos ramalan tentang kemunculan satrio piningit yang ke-7 muncul kembali sebagai komoditas politik untuk menaikkan elektabilitas para tokoh politik yang punya ambisi maju dalam kontestasi pilpres 2024 sebagai pengganti Jokowi.

Dalam ramalannya, Jayabaya menuturkan bahwa sosok yang ditakdirkan menjadi satrio piningit, namanya harus diakhiri oleh salah satu suku kata yang tersusun dalam kata “No-To-ne-Go-Ro”. Lembaga Survey Poltracking Indonesia merilis 10 besar tokoh yang memiliki elektabilitas tertinggi menuju pilpres 2024. Mereka antara lain: Ganjar Pranowo 26,9 persen; Prabowo Subianto 22,5 persen; Anies Baswedan 16,8 persen; Agus Harimurti Yudhoyono 3,6 persen; Ridwan Kamil 3,4 persen; Erick Thohir 2,6 persen; Sandiaga Salahuddin Uno 2,2 persen; Khofifah Indar Parawansa 2,0 persen; Airlangga Hartarto 1,8 persen; dan Puan Maharani 1,2 persen.

Di antara tokoh-tokoh tersebut, ada 4 orang yang namanya memenuhi syarat tersebut. yakni: Prabowo Subianto, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), Airlangga Hartarto, Sandiaga Salahuddin Uno. Jika diperhatikan, hanya 2 suku kata yang terpakai sebagai akhiran nama tokoh-tokoh politik tersebut, yakni “No” atau “To”. Sementara belum ada sosok tokoh politik yang berakhiran “Go” ataupun “Ro”. Demikian pula 3 sosok presiden yang pernah menjabat, yaitu: Soekarno, Soeharto, dan Susilo Bambang Yudhoyono, berakhiran nama “No” atau “To”. Adapun 4 orang presiden sisanya, yang juga telah dianggap sesuai dengan ramalan sosok satria piningit, ternyata namanya sama sekali tidak mengandung akhiran salah satu komponen suku kata “No-To-ne-Go-Ro”.

Barangkali persyaratan “No-To-ne-Go-Ro”, sebagaimana tertuang dalam ramalan Jayabaya, tidaklah mesti dipahami secara literal. Ada beberapa tawaran penafsiran yang ingin penulis ajukan disini untuk memahami prasyarat tersebut. Pertama, prasyarat “No-To-ne-Go-Ro”, sebagai akhir suku kata nama sosok satria piningit, tidak harus dipahami secara fixed, melainkan lebih sebagai representasi model penamaan orang Jawa atau masyarakat nusantara pada kala itu. Di luar itu, sebenarnya masih ada banyak pilihan lain suku kata yang bisa menjadi akhir penamaan ala orang Jawa, sebagaimana tertera dalam alfabetik Jawa “Honocoroko”. Dengan demikian, nama-nama seperti: Joko Widodo, Ganjar Pranowo, Hary Tanoesoedibyo masih bisa dipertimbangkan sebagai nama yang sarat dengan cita rasa penamaan Jawa.

Kedua, “No-To-ne-Go-Ro” harus dipahami sebagai komitmen dan kemampuan calon pemimpin untuk “Notonegoro” (menata negara). Dengan demikian, siapapun pemimpin bangsa ini yang terbukti memiliki keseriusan dan kompetensi dalam menata, membenahi, dan menyelesaikan berbagai problematika kenegaraan, sehingga bisa membawa bangsa ini mencapai kemakmuran dan kejayaannya. dialah sosok yang ditakdirkan menjadi satrio piningit. Tanpa perlu melihat apakah akhiran namanya diakhiri oleh salah satu suku kata “No-To-ne-Go-Ro” atau tidak. Barangkali ramalan tersebut dimaksudkan hanyalah sebagai perlambang untuk mengisyaratkan bahwa satrio piningit yang menjadi pemimpin negeri ini haruslah sosok yang dalam dirinya mengalir “darah” ke-Jawa-an dan ke-Nusantara-an yang kental serta bertekad kuat dan memiliki kompetensi untuk membawa perubahan bagi bangsa ini menuju kemakmuran dan kejayaan.

Pada kontestasi pilpres 2024 nanti, bisa jadi sosok yang bakal terpilih adalah benar-benar satrio piningit ke-7 yang dinanti. Bisa jadi mungkin presiden mendatang masih sebagai Satrio Piningit Boyong Pambukaning Gapura. Hal ini mengingat kondisi jaman dianggap masih belum saatnya untuk kedatangan satrio piningit ke-7, sebagaimana hal semacam itu sebelumnya terjadi pada Jokowi. Atau bisa jadi 7 sosok satrio piningit dalam ramalan tersebut sesungguhnya merupakan 7 tipologi kepemimpinan Tanah Jawa atau Nusantara yang bisa jadi tampil sesuai dengan kebutuhan jaman, tanpa harus terjadi secara berurutan.

Dengan demikian, perlu kiranya tujuh sosok satrio piningit dalam ramalan Ronggowarsito tersebut ditafsirkan ulang secara lebih kreatif dengan mempertimbangkan kekuatan karakternya masing-masing. Satrio Piningit Kinunjoro adalah tipologi pemimpin pembebasan, perintis, pejuang, pendobrak, dan reformator. Satrio Piningit Mukti Wibowo merupakan representasi pemimpin yang penuh dengan karisma dan wibawa serta memiliki sokongan yang kuat dari sisi sumber daya, khususnya sumber daya materil. Satrio Piningit Jinumput Sumelo Atur adalah tipologi pemimpin transisi, yang memegang tampuk kuasa sementara dalam kondisi kekosongan pemerintahan. Satrio Piningit Lelono adalah sosok pemimpin yang suka berkawan, memiliki visi dan perhatian besar dalam membangun hubungan diplomatis. Satrio Piningit Hamong Tuwuh adalah sosok pemimpin yang teruntungkan karena mewarisi trah dan nama besar dari leluhurnya. Satrio Piningit Boyong Pambukaning Gapura merupakan tipologi pemimpin yang meniti karir dari bawah, sosok teknokrat, pekerja keras, dan memiliki program-program yang prestisius. Adapun Satrio Piningit Pinandita Sinisihan Wahyu adalah tipologi pemimpin yang sangat agamis, religius, dekat dengan rakyat serta mampu mengayomi.

Tawaran pemaknaan alternatif yang kreatif dan logis semacam itu, akan membuat warisan berupa ramalan kepemimpinan masa depan dalam tradisi Jawa lebih menemukan makna vitalnya dalam perputaran kemajuan jaman. Uraian syair peninggalan Jayabaya maupun Ranggawarsito harapannya tidaklah sekedar berhenti pada taraf mistik dan mitos, tetapi menjadi pedoman ajaran moral dan falsafah terkait kepemimpinan Nusantara yang logis dan akan terus menemukan relevansinya.

Senin, 22 Agustus 2022

Laut Yang Terbakar



Dalam Surat Ath-Thur, Allah mengawali firman-Nya dengan beberapa ungkapan qasam (sumpah). Salah satu objek sumpah yang Allah gunakan pada ayat keenam adalah ungkapan (البحر المسجور). Secara harfiah, kata (البحر) berarti “laut”. Adapun makna kata (المسجور), berkisar pada dua makna, yakni “penuh” dan “yang dipanaskan” atau “yang mengandung api”. Berdasarkan makna pertama, maka ungkapan (البحر المسجور) diterjemahkan sebagai “laut yang penuh dengan air” atau “laut yang penuh dengan gelombang”. Sedangkan berdasarkan makna kedua, ungkapan tersebut diterjemahkan antara lain dengan “laut yang dipanaskan”, “laut yang terbakar”, atau “laut yang didasarnya menyimpan api”.

         Objek sumpah, terlebih yang dipakai oleh Allah dalam Al-Qur’an selalu menunjuk kepada sesuatu yang dianggap istimewa atau luar biasa, entah keistimewaan tersebut telah terungkap atau masih menjadi misteri. Pemilihan makna “laut yang penuh dengan air” atau “laut yang penuh dengan gelombang”, memang telah memenuhi syarat sebagai objek sumpah yang luar biasa jika dilihat dari sisi penciptaan. Namun hal tersebut masih terasa sebagai hal yang biasa, tidak ada kesan istimewa padanya, karena memang demikianlah karakter laut, penuh berisi air dan kerap kali penuh dengan gelombang. Adapun pemilihan makna “laut yang dipanaskan”, “laut yang terbakar”, atau “laut yang di dasarnya menyimpan api”, terasa lebih berkesan, karena menyimpan unsur keanehan pada objek tersebut. Pemilihan makna semacam itu tidak hanya sekedar rekaan belaka, dalam banyak terjemahan dan tafsiran, makna tersebut dapatlah dijumpai, khususnya pada terjemahan dan tafsiran modern.

Sebelum adanya berbagai penemuan sains modern, khususnya dalam bidang kelautan, sulit kiranya membayangkan bagaimana mungkin ada nyala api di dasar laut, dan bagaimana bisa nyala api tersebut tetap berdampingan dengan jutaan kubik volume air di dasar laut. Namun uniknya, selain termaktub dalam Al-Qur’an, ternyata fenomena tersebut telah diisyaratkan oleh nabi 14 abad yang lalu. Dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Abu Dawud, nabi menyatakan “Sesungguhnya di bawah lautan terdapat api, dan di bawah api terdapat lautan”.

Salah seorang tabi’in bernama Sa’id Bin Musayyab meriwayatkan tafsiran ayat tersebut dari Ali Bin Abi Thalib, menyatakan bahwa maksud dari ungkapan (البحر المسجور) adalah “Pada hari kiamat kelak, lautan akan dijadikan api yang berkobar dan mengelilingi orang-orang”. Penafsiran semacam ini diriwayatkan pula oleh Ibnu Abbas dan diamini antara lain oleh Mujahid, Qatadah, Abdullah bin Ubaid, dan beberapa tabi’in lainnya. Penafsiran tersebut memahami bahwa fenomena laut yang terbakar merupakan suatu peristiwa yang faktual terjadi, namun tidak untuk hari ini melainkan dikaitkan dengan rangkaian peristiwa saat hari kiamat kelak.

Penafsiran shahabat dan tabi’in di atas tampaknya didasari oleh pernyataan Al-Qur’an pada Surat At-Takwir ayat 6, yang menyatakan “Dan apabila lautan telah dinyalakan”. Jika dicermati, ayat tersebut diungkapkan memang dalam konteks rangkaian peristiwa yang akan terjadi di hari kiamat kelak. Adapun pernyataan dalam Surat Ath-Thur ayat 6 maupun hadist riwayat Abu Dawud di atas, sedikitpun tidak menyinggung tentang peristiwa hari kiamat. Penyamaan peristiwa terbakarnya laut dalam QS. At-Takwir ayat 6 dengan peristiwa serupa dalam QS. Ath-Thur ayat 6 maupun hadist nabi, sebagaimana tafsiran yang dipahami oleh shahabat dan tabi’in, secara tidak langsung berarti menutup kemungkinan terjadinya peristiwa tersebut selain pada hari kiamat.

            Dalam buku “Miracle of Al-Qur’an & As-Sunnah”, karya Dr. Zakir Naik, mengungkapkan bahwa setelah berakhirnya Perang Dunia II, para ilmuwan mulai melakukan penjelajahan dasar laut untuk mencari sumber-sumber mineral baru, karena cadangan mineral di permukaan bumi semakin menipis. Upaya pencarian tersebut secara tidak sengaja menemukan fenomena nyala api yang berasal dari semburan lava dan abu vulkanik yang membentang memanjang ribuan kilometer di dasar laut. Dari sinilah para ilmuwan mulai menyadari bahwa bentangan gunung tidak hanya terdapat di permukaan daratan, tetapi juga terdapat di dasar laut. Demikian pula fenomena erupsi gunung berapi juga bisa terjadi di dasar laut. Rangkaian gunung berapi dasar laut inilah yang selanjutnya dikenal dengan istilah “vulcanic mountain chain”.

            Sumber lain menyatakan bahwa fenomena nyala api di dasar laut pertama kali ditemukan pada tahun 1990-an oleh dua orang ilmuwan geologi berkebangsaan Rusia, yakni Anatol Sbagovich dan Yuri Bagdanov bersama seorang ilmuwan berkebangsaan Amerika Serikat, yakni Rona Clint. Kala itu ketiga ilmuwan tersebut dengan menggunakan kapal selam canggih melakukan penjelajahan laut hingga sedalam 1.750 meter di lepas Pantai Miami untuk melakukan penelitian tentang kerak bumi dan patahannya di dasar laut. Para ilmuwan tersebut secara tidak sengaja menemukan aliran air dengan suhu yang panas hingga 231 derajat celcius mengalir ke arah retakan batu. Setelah didekati, ternyata ditemukan bahwa suhu air yang panas tersebut disebabkan oleh aktivitas vulkanik di dasar laut.

Penelitian berikutnya menemukan bahwa aktivitas vulkanik dasar laut semacam itu ternyata bisa terjadi kapan pun dan dapat ditemui hampir di semua lautan. Bahkan ada pula kasus semburan lava gunung api dari dasar laut yang berhasil mencapai permukaan laut, sehingga nyala apinya pun bisa terlihat pula di permukaan. Seringkali letusan gunung api dasar laut menimbulkan gempa bumi, bahkan tsunami. Di Indonesia, terdapat sejumlah gunung api dasar laut yang masih aktif, beberapa diantaranya bahkan pernah meletus hingga menimbulkan tsunami, gunung-gunung tersebut antara lain:

Ø  Gunung Hobal berada di wilayah Kabupaten Flores bagian timur, Nusa Tenggara Timur

Ø  Gunung Banua Wuhu berada di sebelah barat daya Pulau Mangehetang, Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara

Ø  Gunung Nieuwerkerk berada di wilayah Kabupaten Maluku tengah, Provinsi Maluku

Ø  Gunung Yersey berada di selatan wilayah Banda

Gunung Sangir berlokasi di perairan Sangir, Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara

Ø  Gunung Emperor of China berada di Laut Banda, Perairan Maluku

 

Sains modern masih belum memiliki argumentasi yang memadai untuk menerangkan bagaimana bisa semburan lava tetap bisa menyala meskipun terkepung oleh volume air jutaan kubik di dasar laut. Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana bisa fenomena unik dasar laut yang baru ditemukan oleh ilmuwan pada abad ke-20 dengan bantuan serangkaian peralatan canggih telah diisyaratkan oleh Al-Qur’an dan Hadist Nabi yang datang dari kurun waktu 14 abad silam?

Selasa, 23 Juni 2020

Para Penentang Risalah (Bagian 1)

Sudah menjadi sunnatullah bahwa semua rasul yang diutus oleh Allah akan mengalami penentangan hebat bahkan dinistakan oleh sebagian dari kaumnya. Ada rasul yang berdakwah ratusan tahun namun pada akhirnya hanya berhasil meyakinkan puluhan orang saja dari kaumnya, contohnya Nabi Nuh. Dalam riwayat dikisahkan ada pula seorang nabi yang kelak ketika dibangkitkan di hari kiamat, ia tak memiliki seorang pengikut pun yang menyertainya. Pernah pula Allah mengutus 3 orang rasul sekaligus pada satu kaum secara bersamaan agar dengan demikian dapat lebih meyakinkan kaum itu. Namun pada akhirnya semua penduduk kaum itu mendustakan ketiganya, kecuali hanya seorang tukang kayu bernama Habib An-Najar yang menyatakan keimanannya. Peristiwa ini terjadi di wilayah Antakiah (Turki) dan sepenggal kisahnya diabadikan dalam Surat Yasin. Ada pula rasul, yang bahkan anak atau istrinya pun membangkang dan menentang dakwahnya, contohnya adalah Nabi Nuh dan Nabi Luth.

Al-Qur’an pada banyak ayat mendokumentasikan sikap dan perkataan mereka sebagai bentuk penolakan dan penistaan terhadap para rasul dan ajaran yang mereka sampaikan. Sambil tertawa mencibir, mereka mengatakan (إِنْ هَذَا إِلَّا سِحْرٌ مُبِيْنٌ) yang bermakna “itu adalah sihir dan tipuan yang nyata” atau perkataan (إِنْ هَذَا إِلَّا أَسَاطِيْرُ الْأَوَّلِيْنَ), yang bermakna “itu hanyalah dongeng dan bualan masa lalu”. Pada banyak kisah, penentangan dan penistaan banyak kaum yang tak bisa ditolerir terhadap rasul mereka akhirnya berujung pada murka dan turunnya azab Allah yang membinasakan mereka.

Abu Jahal dan Uqbah Bin Abi Muaith

Sebagaimana para rasul sebelumnya, Nabi Muhammad pun mengalami penentangan hebat dari sebagian besar kaumnya. Ada banyak cerita ketika rasulullah tidak hanya ditentang dan dihalangi upaya dakwahnya, namun juga menerima caci makian, penghinaan, pelecehan, penistaan, bahkan penganiayaan oleh tokoh-tokoh tertentu. Salah satu penentangan sengit terhadap dakwah rasulullah dilakukan oleh tetangga beliau sendiri, yakni Abu Jahal dan Uqbah Bin Abi Muaith. Abu Jahal atau Amr Bin Hakam merupakan salah satu sosok berpengaruh di Quraish yang berasal dari Bani Makhzumi. Adapun Uqbah Bin Abi Muaith merupakan sahabat karib Abu Jahal. Ia sebenarnya sempat tertarik dan berencana akan memeluk Islam, namun karena pengaruh dari Abu Jahal, akhirnya niat tersebut ia urungkan. Sebaliknya, ia bahkan menjadi pribadi yang sangat membenci Islam dan rasulullah, seperti halnya sahabat karibnya. Kedua orang tersebut berkali-kali menistakan dan menganiaya rasulullah.

Uqbah Bin Abi Muaith pernah menistakan nabi dengan meletakkan kotoran unta dan usus domba ke punggung rasulullah ketika beliau tengah melakukan shalat di muka Ka’bah. Dalam kondisi demikian, rasulullah tidak bangkit dari sujudnya hingga Fathimah dan Zainab datang membuang kotoran-kotoran tersebut dari tubuh rasulullah. Dalam kesempatan lain, Uqbah mengulangi perbuatannya menistakan dan menganiaya rasulullah. Kali ini ia mencekik rasulullah ketika tengah bersujud dalam shalatnya dengan melilitkan selendang ke leher rasulullah sambil menginjak punggung beliau. Dalam kondisi seperti itu, rasulullah kesulitan bernafas, hingga Abu Bakar datang menolong beliau. Uqbah pernah pula berusaha meludahi wajah rasulullah, namun Allah menjadikan ludah tersebut berbalik mengenai wajahnya sendiri dan tetap membekas seumur hidupnya. Karena tindakan penistaan, penganiayaan, dan perlawanan sengit yang ia lakukan, maka selepas Perang Badar, Uqbah termasuk salah satu dari daftar tawanan yang dijatuhi eksekusi mati.

Adapun Abu Jahal, bisa dibilang ia merupakan orang nomor satu yang dari awal memusuhi dakwah rasulullah. Pernah suatu ketika ia berusaha membunuh rasulullah dengan rencana akan melemparkan batu besar ketika beliau tengah bersujud di depan Ka’bah. Ia mengundang beberapa orang sahabatnya untuk hadir ditempat itu agar bisa melihat bagaimana aksi makarnya itu. Namun ketika akan melemparkan batu besar ke arah rasulullah, Allah menggagalkannya dengan menjadikan Abu Jahal pucat dan tak bisa bergerak seketika sampai rasulullah selesai menunaikan shalatnya dan beranjak pergi dari tempat itu.

Meskipun demikian, rasulullah sempat berharap akan keislamannya dan berdoa agar Allah menguatkan Islam dengan dua Umar, yakni Umar Bin Khattab dan Amr Bin Hisyam yakni Abu Jahal. Allah menjawab doa nabi dengan memberikan hidayah kepada Umar Bin Khattab dan menjadikannya memeluk Islam. Adapun Abu Jahal, ternyata cahaya hidayah sulit sekali menembus hatinya, seolah memang telah tiada celah dalam relung hatinya untuk menerima risalah Islam. Kesesatan dan arogansi Abu Jahal masih tetap melekat bahkan ketika ia telah sekarat saat di medan Perang Badar. Dalam kondisi tersebut, ia masih sempat membisikkan bahwa “Abu Jahal akan tetap menjadi musuh Muhammad di dunia dan di akhirat”. Ia akhirnya mati oleh pancungan pedang Ibnu Mas’ud, seorang shahabat rasulullah yang bertubuh kecil, kurus kering, dan agak bengkok kakinya. Tampaknya Allah menakdirkan bahwa di akhir hayatnya, Abu Jahal mendapatkan balasan dibunuh oleh orang yang lemah yang dulunya pernah ia aniaya.

Sepeninggal Abu Jahal, kebencian dan permusuhan terhadap rasulullah diwarisi oleh putranya yakni Ikrimah Bin Abi Jahal. Saat terjadinya peristiwa pembebasan Kota Makkah (Fathul Makkah), dan masyarakat Quraish Makkah sepakat untuk tidak melakukan perlawanan, ia termasuk salah satu diantara sebagian kecil orang Quraish yang bersikeras mengangkat senjata dan melakukan perlawanan terhadap rasulullah. Atas dasar itu, maka ia termasuk dalam daftar orang yang tidak mendapatkan pengampunan dari rasulullah selepas peristiwa Fathul Makkah.

Setelah sempat melarikan diri ke Yaman dan menjadi buronan kaum muslimin, atas jaminan keamanan dan bujukan dari istrinya yakni Ummu Hakim yang telah berislam beberapa waktu sebelumnya, ia akhirnya datang kepada rasulullah dan menyatakan keislamannya. Rasulullah menyambut dengan gembira keislaman Ikrimah dan melarang kepada kaum muslimin untuk mengungkit-ungkit masa lalu kesalahannya maupun ayahnya. Keislaman Ikrimah nampaknya memang tidak pura-pura, karena berikutnya ia begitu bersemangat dalam berjihad di banyak medan pertempuran. Pada era kepemimpinan Khalifah Abu Bakar, ia pun termasuk salah satu yang termasuk orang yang mengikuti perang di Yamamah melaman seorang nabi palsu bernama Musailamah. Sampai akhirnya, pada periode kepemimpinan Khalifah Umar Bin Khattab, ia menemui kesyahidannya saat mengikuti Perang Yarmuk, sebuah peperangan dahsyat antara tentara muslim melawan tentara Romawi di lembah Sungai Yarmuk.

Keluarga Abu Sufyan

Tokoh lain yang juga memiliki penentangan hebat terhadap beliau adalah keluarga Abu Sufyan Bin Harb. Abu Sufyan merupakan pemimpin pasukan Quraish saat terjadinya Perang Uhud dan Perang Parit (Perang Khandaq). Dalam Perang Uhud, kaum muslimin menderita kekalahan yang cukup telak, bahkan rasulullah pun sempat terluka serius saat itu. Adapun dalam Perang Khandaq, hampir saja rasulullah dan kaum muslimin di Madinah mati kelaparan atau bahkan binasa karena kepungan tentara Quraish dan para sekutunya selama berhari-hari. Namun Allah memberikan pertolongan kepada kaum muslimin dengan menurunkan bantuan berupa angin badai yang memporak-porandakan musuh. Abu Sufyan tak segan-segan membelanjakan dan menghabiskan harta kekayaannya sebagai upaya menghalangi dakwah rasulullah ataupun mengusik pribadi beliau. Ia pun pernah mengupah beberapa pujangga Arab untuk mengarang syair-syair penistaan terhadap rasulullah dan menghina secara keji terhadap istri-istri beliau.

Demikian pula istri Abu Sufyan, Hindun Binti Utbah, dalam Perang Uhud ia tampil sebagai pemimpin para perempuan Quraish dalam meneriakkan yel-yel untuk membangkitkan semangat perang para laki-laki Quraish di medan perang. Ia memiliki dendam yang membara, khususnya kepada paman rasulullah, yakni Hamzah Bin Abdul Muthallib, karena ia telah menewaskan orang tua (‘Utbah Bin Rabi’ah) Hindun saat Perang Badar. Ia juga menyewa seorang penombak asal Habasyah bernama Washi yang secara khusus diberi tugas mengincar Hamzah Bin Abdul Muthallib di saat lengah. Paman rasulullah yang tergeletak tewas oleh tombak Washi tersebut, kemudian dibelah dadanya oleh Hindun, diambil jantungnya, dan ia makan.

Menjelang peristiwa Fathul Makkah, dengan ditemani Abbas Bin Abdul Mutallib, Abu Sufyan Bin Harb datang kepada rasulullah dan menyatakan keislamannya. Rasulullah menerima keislaman Abu Sufyan dan memaafkannya dengan segala tindak penistaan yang pernah ia lakukan. Atas saran dari Abbas, rasulullah memberikan sedikit penghargaan dan kemuliaan kepada Abu Sufyan sebagai pemuka masyarakat Quraish, bahwa siapapun diantara orang-orang Quraish yang tidak melakukan perlawanan dan masuk ke dalam rumah Abu Sufyan, maka ia akan aman. Demikian pula rasulullah akhirnya memaafkan kesalahan Hindun dan Washi serta bersedia menerima keislaman mereka setelah Fathul Makkah. meskipun tidak dapat dipungkiri bahwa tindakan yang pernah mereka lakukan kepada Hamzah sempat menimbulkan kemarahan dan kesedihan yang mendalam bagi rasulullah.

Rasulullah bahkan memuliakan putra-putri Abu Sufyan yang telah berislam lebih dulu. Muawiyah Bin Abi Sufyan, karena kemampuannya dalam baca tulis, membuatnya menjadi salah satu juru tulis rasulullah yang memiliki tugas mencatat wahyu-wahyu Al-Qur’an yang turun. Adapun Ramlah Binti Abi Sufyan atau Ummu Habibah mendapat kehormatan diperistri oleh rasulullah dan menjadi salah satu dari ummul mukminin, setelah suaminya yang pertama (Ubaidullah Bin Jahsy) memutuskan murtad menjadi Nashrani ketika tengah berada dalam pengungsian di Habasyah.

Sepeninggal rasulullah, para keturunan Abu Sufyan bahkan tercatat memiliki kiprah yang besar dalam kejayaan Islam. Pada era kekhalifahan Abu Bakar hingga Umar Bin Khattab, dua putra Abu Sufyan, yakni Muawiyah dan Yazid Bin Abi Sufyan tercatat memiliki andil yang tak sedikit. Yazid Bin Abi Sufyan bahkan merupakan satu dari 4 orang panglima yang ditunjuk oleh Khalifah Abu Bakar dalam ekspedisi penaklukan Syiria. Ekspedisi tersebut berujung pada terjadinya Perang Yarmuk, perang dahsyat melawan pasukan Romawi di lembah Sungai Yarmuk. Selepas era pemerintahan 4 khalifah rasyidah, Muawiyah tampil sebagai perintis sekaligus khalifah pertama Daulah Bani Umayyah. Terlepas dari banyak kekurangannya, pemerintahan tersebut menjadi kelanjutan dari pemerintahan dan peradaban Islam yang mampu memperluas wilayah kekuasaan Islam hingga ke wilayah Andalusia Spanyol.

Keluarga Abu Lahab

Permusuhan sengit dan penistaan terhadap rasulullah bahkan juga dilakukan oleh pamannya sendiri, yakni Abu Lahab yang merupakan salah satu tokoh terpandang dalam masyarakat Quraish. Sebelum beliau diutus sebagai rasul, sebenarnya tidak ada permusuhan antara beliau dengan Abu Lahab. Bahkan saat beliau lahir, Abu Jahal merupakan salah satu orang yang merasa berbahagia sehingga ia memerdekakan budaknya yang bernama Tsuwaibah dan menjadikannya sebagai salah satu wanita yang menyusui beliau. Untuk semakin merekatkan tali kekerabatan, rasulullah pun menikahkan dua orang putrinya dengan dua orang putra Abu Lahab. Utbah Bin Abu Jahal menikah dengan Ruqayyah sedangkan Utaibah Bin Abu Jahal menikah dengan Ummu Kultsum.

Namun setelah rasulullah menerima wahyu dan mulai terang-terangan menyampaikan dakwahnya, Abu Jahal dan keluarganya berbalik menjadi orang yang membenci dan memusuhi beliau. Suatu ketika rasulullah mengumpulkan para sanak kerabatnya di Bukit Shafa, termasuk diantaranya Abu Lahab. Beliau kemudian berpidato di hadapan mereka agar mereka menerima risalah dan meyakini kehidupan akhirat. Pada momen itulah Abu Lahab tampil mempermalukan rasulullah di depan banyak orang dengan melontarkan perkataan (تَبًّ لَكَ يَا مُحَمَّدُ أَلِهَذَا جَمَعْتَنَاُ) yang berarti “celakalah engkau wahai Muhammad, apakah hanya karena keperluan ini engkau mengumpulkan kami disini”. Dalam tradisi masyarakat Arab, kata (تَبًّ لَكَ) merupakan kata kasar bahkan merupakan salah satu bentuk umpatan kepada seseorang, selain kata (وَيْلٌ لَكَ) dan (أُفٍّ لَكَ) yang juga bermakna serupa.

Demikian pula istri Abu Lahab yakni Arwa Binti Harb Bin Umayyah atau Ummu Jamil juga memiliki sikap permusuhan terhadap rasulullah yang tak kalah jahatnya dibanding yang dilakukan oleh suaminya. Ia dijuluki Ummu Jamil yang bermakna “seorang perempuan yang cantik”, karena memang demikianlah penampilan fisiknya. Namun dalam Surat Al-Lahab ia digambarkan sebagai seorang yang sibuk membawa kayu bakar berduri yang akan ia letakkan di depan rumah rasulullah dan di setiap jalan yang akan dilalui oleh beliau.

Bahkan tak lama setelah turunnya Surat Al-Lahab, Ummu Jamil yang merasa tersinggung dengan isi surat tersebut, kemudian berusaha mencari dan menemui rasulullah berniat untuk mencekik beliau. Demikian pula Abu Jahal langsung memerintahkah kepada dua orang putranya untuk menceraikan putri rasulullah dengan maksud menghina dan meyusahkan beliau dan keluarganya. Utbah dan Utaibah pun menceraikan putri-putri rasulullah meskipun mereka baru menikah dan masih belum sempat berhubungan. Keluarga Abu Jahal pun menghasut menantu rasulullah yang lainnya yakni Al-Ash Bin Ar-Rabi’ (suami Zainab) yang masih kafir agar juga mau menceraikan istrinya. Namun ia menolak hasutan tersebut dan memilih untuk tetap setia kepada Zainab.

Satu di antara dua putra Abu Jahal tersebut akhirnya menyatakan keislamannya saat Fathul Makkah, dan rasulullah menerima keislaman dan memaafkan kesalahannya. Adapun yang lain, sesaat setelah turunnya Surat An-Najm, ia mendatangi rasulullah sambil marah ia meneriakkan “aku tidak percaya kepada bintang dan tuhan bintang”. Hal tersebut merupakan bentuk penistaan terhadap wahyu yang baru turun kepada beliau. Rasulullah menanggapi penentangan dan penistaannya dengan doa yang beliau panjatkan kepada Allah: “Ya Allah kirimkanlah kepadanya salah satu dari anjing-anjing-Mu”. Putra Abu Lahab ini akhirnya bernasib tragis, mati diterkam singa yang Allah kirimkan saat ia tengah melakukan perjalanan dagang ke Syam. Hal itu adalah imbas dari pilihannya untuk tetap kafir, penistaan yang ia pernah ia lakukan, dan doa rasulullah atasnya. Adapun kedua putri rasulullah yang menjanda, selanjutnya dinikahkan kepada salah satu shahabat dekat rasulullah, yakni Utsman Bin Affan.

Para Penyair

Beberapa penyair Arab yang sempat memusuhi rasulullah dan kerap menghina beliau melalui syair-syair mereka antara lain: Abu Sufyan Bin Harits dan Kaab Bin Zuhair Bin Abi Salma. Untuk mengimbangi kebencian yang berwujud karya syair tersebut, beberapa shahabat rasulullah membalasnya dengan karya-karya yang bernada positif dan pujian kepada rasulullah beserta keluarga beliau. Beberapa shahabat rasulullah yang memiliki keahlian khusus dalam membuat syair diantaranya adalah Hassan Bin Tsabit dan Abdullah Bin Rawahah.

Abu Sufyan Bin Harits merupakan saudara sepupu rasulullah. Ia adalah putra dari Harits Bin Abdul Muthallib, kakak dari Abdullah Bin Abdul Muthallib, ayahanda rasulullah. Selain sebagai saudara sepupu, Abu Sufyan juga merupakan saudara sesusuan rasulullah. Ketika masih bayi, keduanya disusui oleh ibu susuan yang bernama Halimah As-Sa’diyah. Kedekatan hubungan Abu Sufyan terhadap rasulullah ternyata tidaklah membuatnya menerima dan mendukung upaya dakwah beliau. Ia bahkan tampil sebagai musuh rasulullah dengan syair-syair berisi hinaan yang ia ciptakan.

Namun saat menjelang peristiwa pembebasan Kota Makkah (Fathul Makkah), setelah hampir 20 tahun memusuhi rasulullah, akhirnya Abu Sufyan Bin Harits pada datang dan menyatakan keislamannya kepada rasulullah. Awalnya rasulullah agak enggan menemuinya, mengingat caci makian dan hinaan yang ia lontarkan melalui syair-syair yang ia buat. Namun pada akhirnya rasulullah bersedia memaafkan dan menerima keislaman Abu Sufyan Bin Harits. Setelah itu Abu Sufyan pun mengarang syair indah berisi pujian kepada rasulullah, hal tersebut membuat beliau merasa senang. Abu Sufyan Bin Harits akhirnya membuktikan kesungguhannya dalam memeluk Islam salah satunya dengan menyertai rasulullah dalam Perang Hunain. Dalam perang tersebut, ia bahkan merupakan satu-satunya orang yang bertahan di sisi rasulullah dan memegangi unta beliau saat pasukan muslimin dikejutkan oleh serangan musuh secara mendadak dari balik bukit.

Demikian pula dengan Kaab Bin Zuhair, ia memutuskan untuk datang dan menyatakan keislamannya kepada rasulullah saat tahun perutusan (‘Ammul Wufud). Untuk menebus kesalahannya di masa silam yang kerap menistakan rasul melalui syair-syairnya, maka kala itu ia menyusun syair yang berisi pujian kepada rasulullah kemudian membacakan syair tersebut di hadapan beliau. Rasulullah memberi permaafan kepada Kaab Bin Zuhair, menerima keislamannya, bahkan memberikan pakaian burdah kesayangan beliau kepadanya sebagai tanda bahwa beliau senang dengan syair pujian tersebut. Peristiwa itulah yang berikutnya membuat orang menyebut setiap syair pujian kepada nabi dinamakan “burdah”. Syair pujian karangan Kaab Bin Zuhair merupakan qasidah burdah pertama sekaligus yang paling tinggi tingkat kefasihan dari aspek sastranya dibanding semua syair/qasidah burdah yang pernah ada. Qasidah burdah pertama ini dikenal pula dengan Qasidah Banat Su’ad.

Jumat, 19 Juni 2020

Insyaallah: Jawaban Yang Diplomatis

Pernah suatu ketika pemuka Quraish mengirim utusan untuk menanyakan 3 permasalahan kepada rasulullah untuk menguji apakah beliau benar-benar nabi yang diutus oleh Allah atau bukan. Hal pertama adalah mengenai sekelompok pemuda yang melarikan diri dengan bersembunyi serta apa yang terjadi pada mereka. Hal kedua adalah mengenai seorang yang melakukan perjalanan ke barat dan ke timur serta apa yang terjadi padanya. Dan hal yang ketiga adalah mengenai ruh.

Rasulullah kemudian menjanjikan untuk memberi jawaban atas 3 permasalahan tersebut esok hari. Beliau berpikir bahwa sampai esok hari wahyu dari Allah mengenai hal-hal tersebut pasti akan turun kepada beliau. Namun sampai esok hari ternyata wahyu yang beliau tunggu tidaklah turun, sehingga beliau mengulur kembali dengan meminta utusan tersebut datang pada esoknya lagi. Dan begitulah hal tersebut terulang hingga kurang lebih 15 hari, hingga Allah menurunkan Surat Al-Kahfi ayat 9-26; 83-101; dan Surat Al-Isra’ ayat 85. Surat Al-Kahfi ayat 9-26 bercerita mengenai Ashabul Kahfi yang merupakan jawaban terhadap pertanyaan yang pertama. Dalam ayat-ayat tersebut dikisahkan bahwa mereka adalah melarikan diri ke goa karena hendak menyelamatkan keimanan mereka dari ancaman dan pengejaran penguasa negeri mereka yang kufur dan dzalim. Allah lalu menidurkan mereka di dalam gua itu selama 309 tahun.

Kemudian pada ayat 83-101 surat yang sama, Allah menceritakan tentang Dzulqarnain yang merupakan jawaban atas pertanyaan yang kedua. Dalam ayat-ayat tersebut dikisahkan bahwa ia adalah seseorang yang Allah limpahkan padanya anugerah kekuasaan di muka bumi. Ia pernah melakukan perjalanan ke barat (ke arah matahari tenggelam) hingga sampai pada sekelompok kaum yang tinggal di dekat laut yang berlumpur hitam. Pada mereka, Dzulqarnain menyerukan bahwa siapa diantara mereka yang beriman dan berbuat baik maka akan mendapatkan balasan yang baik. Namun siapa yang memilih untuk berperilaku dzalim, maka akan ada hukuman yang akan mereka terima kelak.

Ia kemudian melakukan perjalanan ke timur (ke arah matahari terbit) hingga sampai di antara dua gunung dan bertemu dengan sekelompok kaum yang digambarkan hampir-hampir tak mengerti pembicaraan. Mereka kemudian meminta bantuan kepada Dzulqarnain untuk dibuatkan dinding pelindung antara mereka dengan selekompok kaum lainnya yang kerap membuat kerusakan, yakni Ya’juj dan Ma’juj.

Adapun dalam Surat Al-Isra’ ayat 85, Allah menanggapi pertanyaan mereka tentang ruh, dengan menyatakan bahwa persoalan ruh sepenuhnya merupakan urusan Allah, adapun manusia hanya mengetahui sedikit dari perkara itu. Selain memberikan tanggapan terhadap permasalahan-permasalahan yang diajukan oleh delegasi Quraish, wahyu tersebut (yakni dalam Surat Al-Kahfi ayat 23-24) juga memberikan teguran kepada rasulullah karena telah menjanjikan dan memastikan persoalan yang itu merupakan kuasa Allah. Dalam teguran tersebut, Allah mengajarkan kepada rasulullah (dan juga kepada ummatnya) agar selalu mengucapkan kata “insyaallah” pada janji atau persoalan meskipun ia yakin bahwa hal tersebut pasti akan bisa ia kerjakan atau ia tepati. Hal ini karena setiap janji dan persoalan yang diupayakan oleh manusia, meskipun dalam perencanaan dan perhitungan akalnya seolah sudah pasti, namun selalu ada faktor X yakni kehendak Tuhan yang bisa jadi menentukan hal lain. Sehingga apa saja yang telah direncanakan dan direalisasikan secara pasti, bisa jadi gagal atau tidak sesuai dengan perkiraan.

Belakangan ini kita menemui bahwa pernyataan “insyaallah” berubah fungsi menjadi ungkapan yang agak susah ditafsirkan. Ungkapan “insyaallah” bagi sebagian orang telah berubah maknanya menjadi penolakan atau pernyataan “tidak” secara halus. Bagi sebagian yang lain, ungkapan tersebut bisa jadi bermakna “semau-mau dia, maybe yes, maybe no”. Hal ini membuat ungkapan sakral yang merupakan pengajaran langsung dari Tuhan tersebut menjadi pernyataan tanpa komitmen yang tak bisa lagi dijadikan pegangan. Orang kerap kecewa dengan janji “insyaallah”, karena setelah lama ditunggu ternyata tak juga terlaksana, dan ujung-ujungnya ternyata batal. Orang akhirnya agak meradang setelah tahu bahwa si pengucap “insyaallah” ternyata sama sekali tak punya komitmen untuk bersungguh-sungguh merealisasikan apa yang ia janjikan. Sehingga jadilah pernyataan “insyaallah” hanya sebagai jawaban diplomatis dan pemanis mulut belaka, bukan lagi sebagai pernyataan yang sakral.

Ada satu peristiwa dimana pada suatu ketika rasulullah bermimpi bahwa beliau bersama kaum muslimin akhirnya dapat memasuki Masjidil Haram dalam keadaan aman dan rambut kepala yang tercukur (tahallul). Dalam sebuah forum, rasulullah menyampaikan mimpi tersebut kepada para shahabat kemudian kemudian meminta mereka bersiap-siap berangkat ke Masjidil Haram (Makkah) untuk menunaikan umrah pada Bulan Dzulqaidah. Hal tersebut tentu disambut gembira oleh para shahabat, mereka merindukan kampung halaman yang telah 6 tahun tinggalkan tanpa bisa menjenguk sedikitpun karena terhalang oleh kaum kafir Quraish yang tengah memusuhi mereka.

Adapun kaum kafir Quraish di Makkah tidak tinggal diam mendengar rencana tersebut. Mereka mempersiapkan pasukan untuk menghalangi rasulullah dan para shahabatnya memasuki Makkah. Peristiwa blokade tersebut berujung pada perjanjian damai antara rasulullah dengan kaum Quraish yang diwakili oleh Suhail Bin Amr di sebuah tempat bernama Hudaibiyah. Dalam perjanjian tersebut, kaum muslimin sempat merasa dirugikan dan kecewa terhadap salah satu klausul dalam perjanjian tersebut yang membuat mereka harus kembali pulang dan tidak bisa memasuki Masjidil Haram saat itu. Kerinduan mereka untuk memasuki Masjidil Haram dan keinginan mereka untuk menunaikan umrah berdasarkan perjanjian tersebut harus ditunda tahun depan. Selain itu muncul desas-desus yang membuat mereka semakin sedih yang menyatakan bahwa mimpi rasulullah adalah mimpi kosong yang tak akan terbukti. Peristiwa Perjanjian Hudaibiyah dan terhalangnya kaum muslimin memasuki Masjidil haram tersebut terjadi pada tahun ke-6 hijriah.

Dalam kondisi kekecewaan tersebut, Allah menghibur rasulullah dan kaum muslimin dengan menurunkan Surat Al-Fath ayat 27 yang membenarkan mimpi rasulullah dan menjanjikan bahwa rasulullah dan kaum muslimin tidak lama lagi pasti akan dapat memasuki Masjidil Haram dalam kondisi sesuai dengan yang terlihat dalam mimpi rasulullah. Ayat tersebut juga menyatakan bahwa selain kepastian terlaksananya peristiwa itu, Allah juga menjanjikan kemenangan lain yang akan diperoleh rasulullah dan kaum muslimin. Setahun kemudian, yakni pada Bulan Dzulqaidah tahun ke-7 hijriah, Allah benar-benar memenuhi janji-Nya. Pada tahun tersebut rasulullah dan para shahabat akhirnya bisa memasuki Masjidil Haram sesuai dengan keadaan dan kondisi yang tergambar dalam mimpi rasulullah. Dalam tarikh Islam, peristiwa tersebut dikenal dengan istilah “Umrah Qadha’”.

Selain terlaksananya Umrah Qadha’, Allah juga betul-betul membuktikan janjinya yang lain akan kemenangan yang bakal diraih oleh kaum muslimin. Beberapa bulan sebelum Umrah Qadha’, yakni di Bulan Muharram, kaum muslimin berhasil memenangi perang melawan kaum Yahudi yang telah lama menjadi ancaman bagi kaum muslimin di daerah Khaibar serta menaklukkan daerah tersebut. Keuntungan lain yang tak terduga oleh kaum muslimin dari adanya Perjanjian Hudaibiyah adalah bahwa selama kurun waktu tersebut rasulullah dapat fokus mengembangkan dakwahnya ke luar Jazirah Arab. Antara tahun ke-6 dan ke-7 hijriah rasulullah mengirim surat dan delegasi kepada para penguasa di beberapa negara tetangga. Mereka antara lain adalah; Kaisar Heraklius penguasa Bizantium Romawi; Khusraw Parvez penguasa Persia; Najasyi penguasa Habasyah; Muqauqis penguasa Mesir; Munzir Bin Sawi penguasa Bahrain; Harits Al-Himyari penguasa Yaman; dan Syurahbil Bin Amr penguasa Bashrah.

Sebagian besar diantara negara-negara tersebut menyambut dengan baik utusan dan surat yang disampaikan oleh rasulullah. Dalam sebuah riwayat dinyatakan bahwa Najasyi secara diam-diam akhirnya memeluk Agama Islam. Kemudian Muqauqis, meskipun tidak memeluk Islam, namun ia mengirimkan hadiah kepada rasulullah, salah satunya adalah seorang perempuan berdarah Koptik Mesir bernama Mariyah Al-Kibtiyah, yang kemudian beliau nikahi.

Hanya penguasa Persia dan Bashrah yang menanggapi dan memperlakukan dengan buruk surat dan utusan dari nabi tersebut. Khusraw Parvez dikisahkan merasa tersinggung dengan surat rasulullah kemudian langsung menyobeknya. Atas tindakannya tersebut, rasulullah kemudian mendoakan bahwa kelak kekuasaan Persia akan hancur dan terobek-robek sebagaimana robeknyanya surat tersebut. Doa rasulullah menjadi kenyataan dengan terbunuhnya Khusraw tak lama setelah itu oleh putrinya sendiri yang bernama Shirwaih. Hal ini menjadi awal kehancuran Persia, karena sejak saat itu wilayah kekuasaan Persia semakin menyusut, hingga akhirnya hancur dan musnah 8 tahun semenjak itu, tepatnya pada era kepemimpinan Khalifah Umar Bin Khattab. Adapun Syurahbil Bin Amr Al-Ghassani penguasa Bashrah membunuh Harits Bin Umair, utusan rasulullah yang diutus kepadanya. Pembunuhan tersebut merupakan suatu penghinaan kepada kaum muslimin yang kemudian memicu terjadinya Perang Mu’tah pada Jumadil Awal tahun ke-8 hijriah.

Tersiarnya dakwah Islam ke berbagai penjuru dunia dan tertaklukkannya Khaibar membuat kaum muslimin akhirnya menyadari betapa besar hikmah dari ketentuan yang Allah gariskan melalui rasul-Nya dengan menerima kesepakatan Perjanjian Hudaibiyah yang sekilas tampak tidak menguntungkan bagi kaum muslimin. Dari peristiwa tersebut dapatlah diambil pelajaran bahwa terkadang seseorang harus mundur selangkah serta sedikit mengalah dan kompromi untuk mencapai kemaslahatan yang lebih besar dan kemenangan yang lebih gemilang.

Kemudian pada tahun berikutnya, tepatnya pada Bulan Ramadhan tahun ke-8 hijriah rasulullah memimpin ekspedisi yang terdiri dari 10 ribu orang pasukan menuju Makkah untuk membebaskan Kota Makkah (Fathul Makkah). Hal tersebut terjadi karena diawali akibat pengkhianatan kesepakan damai Perjanjian Hudaibiyah oleh kaum Quraish. Hal tersebut membuat Perjanjian Hudaibiyah telah batal dan tidak lagi berlaku. Allah kemudian mewahyukan kepada rasulullah untuk melakukan pembebasan dan penaklukan Kota Makkah. Dengan adanya peristiwa itu, akhirnya Kota Makkah dan Masjidil Haram, tidak hanya dapat dimasuki oleh rasulullah dan kaum muslimin, tetapi juga telah berhasil dikuasai dan dibebaskan dari berhala-berhala dan praktek-praktek kesyirikan yang telah berlangsung ribuan tahun. Demikianlah pemenuhan janji Allah kepada rasulullah dan kaum muslimin yang dalam Surat Al-Fath disebut sebagai “Fathan Mubina”, yakni “kemenangan yang nyata”. Meskipun redaksi Surat Al-Fath ayat 27 menyatakan “insyaallah, namun Allah benar-benar mewujudkan semua janji-Nya kepada rasulullah, tanpa terkecuali dan tanpa mengingkarinya sedikitpun.

Hal yang menarik dalam Surat Al-Fath ayat 27 tersebut adalah bahwa Allah menyatakan “insyaallah” untuk suatu janji yang sudah pasti Ia tepati. Demikianlah Allah mencontohkan bagaimana seharusnya seorang muslim dalam memaknai dan ketika mengucapkan ungkapan “insyaallah”. Meskipun kepastian akhir terkait setiap urusan sepenuhnya ada di tangan Allah, namun kesakralan ungkapan “insyaallah” hendaknya membuat setiap orang yang mengucapkannya bersungguh-sungguh dengan sekuat ikhtiarnya untuk mewujudkan apa yang ia janjikan atau ia sanggupi. Ada satu lagi contoh menarik terkait ungkapan “insyaallah sebagaimana yang Allah ajarkan kepada setiap muslim melalui rasulullah agar menjadi adab yang diamalkan setiap kali melalui pemakaman orang-orang Islam. Doa dan salam tersebut berbunyi:

 

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الدِّيَارِ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَإِنَّا إِنْ شَاءَ الله بِكُمْ لَاحِقُوْنَ نَسْئَلُ الله لَنَا وَلَكُمُ الْعَافِيَةَ

 

“Semoga keselamatan terlimpahkan bagi kalian wahai penduduk alam barzakh, dari kaum mukminin dan muslimin, sesungguhnya kami akan menyusul kalian “insyaallah”. Dan kami meminta kepada Allah keselamatan bagi kami dan kalian”.

 

Salah satu kandungan dari salam dan doa di atas adalah kesadaran akan kepastian bahwa setiap orang yang yang masih hidup kelak pasti akan menyusul menuju alam kubur (meninggal). Meskipun kematian merupakan kepastian yang bersifat sunnatullah, namun terdapat ungkapan “insyaallah” yang terselip di dalamnya. Melalui doa di atas dan Surat Al-Fath ayat 27, Allah hendak mengajarkan kepada kita bahwa ungkapan “insyaallah” bersifat sakral, bukan sekedar jawaban diplomatis, yang bisa bermakna iya, ataupun bisa bermakna tidak. Dalam Ungkapan tersebut terkandung makna kesungguhan bahkan kepastian dalam tataran ikhtiar, meskipun kepastian pada hasil akhirnya, takdirlah yang menentukan.