Aku siapkan segala sesuatunya untuk calon jagoanku ini, mulai dari baju-bajunya, tempat tidurnya, dan aneka perlengkapan bayi lainnya insyaallah nyaris komplit. Kusiapkan dipan dan kasur busa khusus untuknya. Aku renovasi pula kamar mandi, pikirku agar lebih enak nantinya ketika memandikannya. Bahkan jauh-jauh hari sudah kusiapkan dan kupilihkan nama yang menurutku terbaik untuk anakku ini, "Bilhabib Syauqi". Dalam nama itu, tersimpan harapan besarku semoga ia kelak menjadi muslim yg taat yg senantiasa merindui nabi-Nya, menjadi pribadi yg baik dan santun yg senantiasa dirindui oleh orang-orang di sekelilingnya.
Selama masa ia dlm kandungan, aku bersemangat sekali, 2x lipat dari biasanya dlm membersamai anak-anak mengaji dan tahfidz di rumah maupun di sekolah. Kupikir semoga lelahku membersamai mereka menjadi wasilah semoga anakku yg masih dalam kandungan memperoleh barokah Al-Qur'an. Semoga ia nanti mengikuti jalan hidupku bahkan lebih hebat dariku dalam mengabdi mengemban Al-Quran.
Tibalah saat ia lahir... Tak karuan rasanya saat kulihat ia keluar tanpa tangisan, apalagi saat kulihat bidan yang menangani persalinan buru-buru menyuruh asistennya untuk menghubungi nomor layanan darurat. Setelah diberi pertolongan pertama, alhamdulillah mulai keluar suara tangisnya, meskipun lirih. Anakku lahir dg bobot 2,5 Kg, air ketuban sdh kering, terlilit tali pusar, dan paru-parunya kemasukan ketuban keruh. Dengan kondisi demikian otomatis anakku dinyatakan kritis dan harus mendapat perawatan secara intensif.
Di satu sisi aku bahagia dg kelahiran anakku, namun di sisi lain aku tidak tega melihatnya bernapas tersengal-sengal di dalam inkubator. Aku dan istriku diberi kesempatan untuk menjenguknya masing-masing hanya sekali, itupun hanya sebentar. Hanya boleh melihat dan memandangnya saja, tanpa boleh menyentuh, menggendong, apalagi mendekap dan menciumnya. Saat giliran istriku menjenguknya, ia langsung menengok ketika di sapa, seolah ia tahu bahwa yang menjenguk adalah ibunya. Tak lama ia langsung menangis kencang, seakan ia ingin berpamitan.
Kurang lebih sehari semalam setelah dirawat, istriku diijinkan pulang karena kondisinya memang telah membaik. Sedangkan anakku dg kondisi demikian, entah kapan ia akan boleh pulang, pihak rumah sakit tidak bisa memastikan. Bahkan pihak rumah sakitpun juga tidak berani mengatakan apakah anakku akan bisa melewati masa kritisnya.
Tadi pagi mendadak aku ditelpon pihak rumah sakit yg memberitahukan bahwa anakku berhenti nafas dan detak jantungnya. Langsung aku bergegas ke rumah sakit dg perasaan yg tidak karuan. Aku tdk menangis, tapi air mata tak berhenti mengalir di sepanjang jalan menuju rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit, aku diberitahu bahwa setelah dilakukan pemompaan nafas selama kurang lebih 15 menit, nafas dan detak jantungnya sdh kembali meskipun masih tersengal-sengal dan besar kemungkinan hal tersebut akan terjadi lagi sewaktu-waktu.
Hanya berdoa dan meminta doa yang kurasa bisa kulakukan sambil menunggu dan berharap bahwa anakku bisa melewati masa kritisnya dengan selamat. Demi keselamatan anakku bahkan kuputuskan untuk berziarah ke asta KH. Abdullah Yaqin Bustanul Ulum Mlokorejo. Kutumpahkan perasaanku dan tangisku di situ. Kubaca Surat Yasin sebanyak mungkin yg kumampu. Pikirku, bahkan kalau perlu meski sampai maghrib pun tak mengapa, sebagai wasilah semoga anakku sembuh.
Namun takdir berkata lain, Tuhanlah yg punya kehendak, dan kupikir meskipun berat dan sakit rasanya, tapi itulah yg terbaik. Telpon dari rumah sakit berdering tepat setelah pembacaan Yasin yg keempat kalinya. Pihak rumah sakit mengabarkan bahwa anakku baru saja meninggal.
Kini aku tahu kenapa anakku ini menutup wajahnya seolah tak ingin dilihat wajahnya dalam 3 kali USG. Mungkin ia tak ingin wajahnya terngiang dan menimbulkan kesedihan yg mendalam bagi kami saat ia berpamitan nanti. Aku paham bahwa berbagai perlengkapan dan tempat tidur yg telah kusiapkan untuknya tak akan membuatnya tertidur senyenyak dan senyaman tidurnya di tempat peristirahatannya saat ini. Ia benar-benar menepati makna nama yang kuberikan untuknya, Bilhabib Syauqi. Ia singgah di dunia ini hanya 2 hari, tiada yg lebih ia rindukan, kecuali Tuhan Sang Pencipta. Tiada pula yg paling merindukannya, melebihi kerinduan Tuhan Sang Pencipta kepadanya.
Aku tdk ucapkan selamat tinggal untuknya, karena kuanggap ini bukan perpisahan. Kuucapkan selamat jalan untuknya, karena kuyakin kelak aku akan menemuinya kembali, menyapanya, bahkan mungkin memeluknya erat-erat di alam keabadian. Selamat jalan anakku, Bilhabib Syauqi... Aku ikhlaskan engkau menuju peristirahatan terakhirmu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar