Dalam Surat Ath-Thur, Allah mengawali
firman-Nya dengan beberapa ungkapan qasam (sumpah). Salah satu objek sumpah
yang Allah gunakan pada ayat keenam adalah ungkapan (البحر
المسجور). Secara harfiah, kata (البحر)
berarti “laut”. Adapun makna kata (المسجور),
berkisar pada dua makna, yakni “penuh” dan “yang dipanaskan” atau “yang
mengandung api”. Berdasarkan makna pertama, maka ungkapan (البحر المسجور) diterjemahkan sebagai “laut yang penuh
dengan air” atau “laut yang penuh dengan gelombang”. Sedangkan berdasarkan
makna kedua, ungkapan tersebut diterjemahkan antara lain dengan “laut yang
dipanaskan”, “laut yang terbakar”, atau “laut yang didasarnya menyimpan api”.
Objek
sumpah, terlebih yang dipakai oleh Allah dalam Al-Qur’an selalu menunjuk kepada
sesuatu yang dianggap istimewa atau luar biasa, entah keistimewaan tersebut
telah terungkap atau masih menjadi misteri. Pemilihan makna “laut yang penuh
dengan air” atau “laut yang penuh dengan gelombang”, memang telah memenuhi
syarat sebagai objek sumpah yang luar biasa jika dilihat dari sisi penciptaan.
Namun hal tersebut masih terasa sebagai hal yang biasa, tidak ada kesan istimewa
padanya, karena memang demikianlah karakter laut, penuh berisi air dan kerap
kali penuh dengan gelombang. Adapun pemilihan makna “laut yang dipanaskan”,
“laut yang terbakar”, atau “laut yang di dasarnya menyimpan api”, terasa lebih
berkesan, karena menyimpan unsur keanehan pada objek tersebut. Pemilihan makna
semacam itu tidak hanya sekedar rekaan belaka, dalam banyak terjemahan dan
tafsiran, makna tersebut dapatlah dijumpai, khususnya pada terjemahan dan
tafsiran modern.
Sebelum adanya berbagai
penemuan sains modern, khususnya dalam bidang kelautan, sulit kiranya membayangkan
bagaimana mungkin ada nyala api di dasar laut, dan bagaimana bisa nyala api
tersebut tetap berdampingan dengan jutaan kubik volume air di dasar laut. Namun
uniknya, selain termaktub dalam Al-Qur’an, ternyata fenomena tersebut telah diisyaratkan
oleh nabi 14 abad yang lalu. Dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Abu
Dawud, nabi menyatakan “Sesungguhnya di bawah lautan terdapat api, dan di bawah
api terdapat lautan”.
Salah seorang tabi’in
bernama Sa’id Bin Musayyab meriwayatkan tafsiran ayat tersebut dari Ali Bin Abi
Thalib, menyatakan bahwa maksud dari ungkapan (البحر
المسجور) adalah “Pada hari kiamat kelak, lautan akan dijadikan api yang
berkobar dan mengelilingi orang-orang”. Penafsiran semacam ini diriwayatkan pula
oleh Ibnu Abbas dan diamini antara lain oleh Mujahid, Qatadah, Abdullah bin
Ubaid, dan beberapa tabi’in lainnya. Penafsiran tersebut memahami bahwa
fenomena laut yang terbakar merupakan suatu peristiwa yang faktual terjadi,
namun tidak untuk hari ini melainkan dikaitkan dengan rangkaian peristiwa saat
hari kiamat kelak.
Penafsiran shahabat dan
tabi’in di atas tampaknya didasari oleh pernyataan Al-Qur’an pada Surat
At-Takwir ayat 6, yang menyatakan “Dan apabila lautan telah dinyalakan”. Jika dicermati,
ayat tersebut diungkapkan memang dalam konteks rangkaian peristiwa yang akan terjadi
di hari kiamat kelak. Adapun pernyataan dalam Surat Ath-Thur ayat 6 maupun hadist
riwayat Abu Dawud di atas, sedikitpun tidak menyinggung tentang peristiwa hari
kiamat. Penyamaan peristiwa terbakarnya laut dalam QS. At-Takwir ayat 6 dengan
peristiwa serupa dalam QS. Ath-Thur ayat 6 maupun hadist nabi, sebagaimana tafsiran
yang dipahami oleh shahabat dan tabi’in, secara tidak langsung berarti menutup
kemungkinan terjadinya peristiwa tersebut selain pada hari kiamat.
Dalam
buku “Miracle of Al-Qur’an & As-Sunnah”, karya Dr. Zakir Naik,
mengungkapkan bahwa setelah berakhirnya Perang Dunia II, para ilmuwan mulai
melakukan penjelajahan dasar laut untuk mencari sumber-sumber mineral baru,
karena cadangan mineral di permukaan bumi semakin menipis. Upaya pencarian
tersebut secara tidak sengaja menemukan fenomena nyala api yang berasal dari
semburan lava dan abu vulkanik yang membentang memanjang ribuan kilometer di
dasar laut. Dari sinilah para ilmuwan mulai menyadari bahwa bentangan gunung
tidak hanya terdapat di permukaan daratan, tetapi juga terdapat di dasar laut.
Demikian pula fenomena erupsi gunung berapi juga bisa terjadi di dasar laut.
Rangkaian gunung berapi dasar laut inilah yang selanjutnya dikenal dengan istilah
“vulcanic mountain chain”.
Sumber
lain menyatakan bahwa fenomena nyala api di dasar laut pertama kali ditemukan pada
tahun 1990-an oleh dua orang ilmuwan geologi berkebangsaan Rusia, yakni Anatol
Sbagovich dan Yuri Bagdanov bersama seorang ilmuwan berkebangsaan Amerika
Serikat, yakni Rona Clint. Kala itu ketiga ilmuwan tersebut dengan menggunakan
kapal selam canggih melakukan penjelajahan laut hingga sedalam 1.750 meter di
lepas Pantai Miami untuk melakukan penelitian tentang kerak bumi dan patahannya
di dasar laut. Para ilmuwan tersebut secara tidak sengaja menemukan aliran air
dengan suhu yang panas hingga 231 derajat celcius mengalir ke arah retakan
batu. Setelah didekati, ternyata ditemukan bahwa suhu air yang panas tersebut
disebabkan oleh aktivitas vulkanik di dasar laut.
Penelitian berikutnya
menemukan bahwa aktivitas vulkanik dasar laut semacam itu ternyata bisa terjadi
kapan pun dan dapat ditemui hampir di semua lautan. Bahkan ada pula kasus semburan
lava gunung api dari dasar laut yang berhasil mencapai permukaan laut, sehingga
nyala apinya pun bisa terlihat pula di permukaan. Seringkali letusan gunung api
dasar laut menimbulkan gempa bumi, bahkan tsunami. Di Indonesia, terdapat sejumlah
gunung api dasar laut yang masih aktif, beberapa diantaranya bahkan pernah
meletus hingga menimbulkan tsunami, gunung-gunung tersebut antara lain:
Ø Gunung
Hobal berada di wilayah Kabupaten Flores bagian timur, Nusa Tenggara Timur
Ø Gunung
Banua Wuhu berada di sebelah barat daya Pulau Mangehetang, Kepulauan Sangihe,
Sulawesi Utara
Ø Gunung
Nieuwerkerk berada di wilayah Kabupaten Maluku tengah, Provinsi Maluku
Ø Gunung Yersey berada di selatan wilayah Banda
Gunung Sangir berlokasi di perairan
Sangir, Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara
Ø Gunung
Emperor of China berada di Laut Banda, Perairan Maluku
Sains modern masih belum memiliki
argumentasi yang memadai untuk menerangkan bagaimana bisa semburan lava tetap bisa
menyala meskipun terkepung oleh volume air jutaan kubik di dasar laut.
Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana bisa fenomena unik dasar laut yang baru
ditemukan oleh ilmuwan pada abad ke-20 dengan bantuan serangkaian peralatan
canggih telah diisyaratkan oleh Al-Qur’an dan Hadist Nabi yang datang dari
kurun waktu 14 abad silam?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar