Ramadhan
tahun ini nampaknya akan terasa lebih berat dari biasanya. Pasalnya, Ramadhan
kali ini bertepatan dengan mewabahnya virus corona yang cukup meresahkan dunia.
Hal ini membuat berbagai kebijakan muncul seperti: anjuran untuk melakukan
sholat tarawih di rumah. Atau jika memang tetap melakukannya secara bersama di
masjid, ada protokol yang perlu dilakukan demi mengantisipasi penyebaran virus,
misalnya dengan mengenakan masker, merenggangkan shaf sholat untuk menjaga
jarak satu sama lain, dan sebagainya. Belum lagi selama pemberlakuan lockdown,
kelesuan ekonomi terjadi di meluas. Pendek kata, ibadah puasa yang biasanya
disambut dengan penuh rasa suka cita, mungkin kini porsi suka cita tersebut
hanya ada separohnya. Namun kondisi demikian semoga tak mengurangi kekhusyuan
dalam menjalaninya. hal itu mungkin merupakan bagian dari ujian dalam rangka
mengukur kadar keimanan, ketaqwaan, dan kesabaran siapapun yang menjalankannya.
siapa yang lulus dengan nilai yang baik, tentu Allah akan naikkan derajatnya.
Kondisi Ramadhan yang berat sebenarnya tidak hanya terjadi di hari-hari
saja, namun juga pernah terjadi pada bulan puasa di masa rasulullah. Ibadah
puasa disyariatkan pertama kali pada tahun 2 hijriah. dengan demikian selama
rasulullah hidup, beliau hanya mengalaminya sebanyak 9x saja. Dari 9x Bulan
puasa Ramadhan tersebut, 4x diantaranya beliau jalani dalam situasi dan kondisi
yang tidak mudah, bahkan darurat, dan tentu jauh lebih sulit dari yang akan
kita alami. Namun manisnya keimanan, kokohnya ketakwaan, tingginya kualitas
kesabaran, dan kekhusyuan yang ditunjukkan oleh rasulullah dan para shahabatnya
ketika itu terbukti mampu mengatasi berbagai kondisi sesulit apapun, bahkan mengubahnya
menjadi terasa nikmat. Sebagai ibroh bagi kita semua, berikut ini sedikit akan
kami kisahkan 4 kondisi sulit dan darurat yang pernah di alami rasulullah
bersama para shahabatnya yang terjadinya bertepatan atau berlangsung di Bulan
Ramadhan.
Bulan
Ramadhan saat terjadinya Perang Badar (tahun 2 hijriah)
Sebagian
riwayat mengisahkan bahwa Perang Badar terjadi pada tanggal 17 Ramadhan tahun 2
hijriah. perang tersebut merupakan peristiwa perang terbuka pertama yang
dialami oleh nabi dan para shahabat. tahun itu sekaligus merupakan tahun dimana
ibadah puasa Ramadhan disyariatkan untuk pertama kalinya. Pada momen itu,
pasukan kaum muslimin kala itu yang hanya berkekuatan 300-an orang harus
menghadapi kekuatan pasukan suku Quraisy Makkah yang berkekuatan 1000 orang. Kondisi
geografis Arab yang panas dan berupa gurun pasir ikut menambah jalannya
peperangan terasa semakin berat. Namun kala itu kaum muslim mampu taat dan
sabar dalam menghadapi ujian tersebut sehingga Allah berkenan menurunkan bala
bantuan 1000 tentara malaikat yang tak kasat mata. Peperangan berakhir dengan
kemenangan di pihak kaum kaum muslimin.
Bulan
Ramadhan menjelang terjadinya Perang Khandaq (tahun 5 hijriah)
Sebagian
riwayat mengisahkan bahwa perang ini terjadi pada bulan Syawwal tahun 5
hijriah. Perang ini disebut Perang Khandaq karena untuk menghadapi potensi
kekuatan penyerang yang sangat besar memasuki Madinah, kaum muslim harus
bahu-membahu bekerja menggali parit besar mengelilingi sebagian wilayah Madinah
selama kurang lebih seminggu sebelumnya. Perang ini juga disebut Perang Ahzab
karena musuh yang akan menyerang bukanlah musuh tunggal, melainkan aliansi dari
beberapa pihak yang berkekuatan 10.000 pasukan. adapun kaum muslimin di dalam
Madinah hanya berkekuatan 3000 pasukan. Perang tersebut memang tidak terjadi
pada saat bulan Ramadhan. Namun dapat dibayangkan bagaimana kegelisahan yang
terasa di hati kaum muslimin pada Bulan Ramadhan ketika mendapat kabar bahwa
mereka akan diserang oleh pasukan aliansi yang terdiri dari 3 kekuatan utama
yang cukup diperhitungkan di Arab kala itu, yakni: Suku Quraish, Bani Gathafan
(salah satu suku Arab gurun), dan Kaum Yahudi Khaibar.
Aliansi penyerang yang terhalang memasuki Madinah tersebut melakukan
pengepungan selama berhari-hari sambil berusaha menyerang dengan melompati
parit. Dalam kondisi demikian kaum muslimin berada dalam kondisi lelah dan
was-was selama berhari-hari karena dituntut selalu waspada terhadap kekuatan
besar di seberang parit yang terus berusaha menyeberang dan berpotensi mengancam
masa depan Madinah. Kekhawatiran bertambah ketika muncul kabar bahwa Kaum
Yahudi Bani Quraizah yang berada di dalam wilayah Madinah akan berkhianat dan
membantu kekuatan musuh dengan menyerang dari dalam. namun Allah tidak pernah
membiarkan kesulitan yang menimpa hamba-hamba-Nya yang beriman, bertakwa, dan
bersabar terjadi terus-menerus. Setelah pengepungan berlangsung selama 15 hari,
Allah mengirimkan badai gurun yang ganas di malam hari memporak-porandakan
tenda-tenda pasukan aliansi yang memaksa mereka harus kembali pulang dan
menghentikan pengepungan Madinah.
Bulan
Ramadhan saat terjadinya ekspedisi Fathul Makkah (tahun 8 hijriah)
Peristiwa
ini terjadi pada 10 Ramadhan tahun 8 hijriah. Peristiwa ini diawali oleh
pengkhianatan sejumlah kaum Quraish terhadap perjanjian damai Hudaibiyah dengan
membantu Bani Bakr melakukan penyerangan terhadap Bani Khuza'ah yang merupakan
sekutu kaum muslimin. Pelanggaran tersebut otomatis membuat perjanjian
Hudaibiyah batal sehingga rasulullah menghimpun 100.000 pasukan kaum muslimin
untuk melakukan penaklukan terhadap kota Makkah. Peristiwa ini mungkin tidaklah
terjadi menegangkan dan mencemaskan bagi pihak kaum muslimin, karena kali ini
mereka sebagai pihak penyerang dengan jumlah kekuatan yang besar. Namun
kesulitan yang mereka alami saat itu karena perjalanan dari Madinah ke Makkah
yang cukup jauh, memakan waktu yang cukup lama, dan tentu sangat melelahkan.
Kegelisahan dan kekhawatiran saat itu justru dialami oleh pihak kaum
Quraish Makkah. Mereka khawatir jikalau pasukan muslimin yang begitu besar
tersebut hendak menuntut balas atas perlakuan buruk yang selama ini mereka
terima dengan melakukan pembantaian dan penghancuran di Makkah. Namun yang
demikian itu bukanlah watak Islam, sehingga apa yang mereka khawatirkan tidaklah
terjadi. Kaum Quraish justru dijamin keamanannya selagi tidak melawan. Mereka
justru mendapatkan permaafan dari rasulullah. Rasulullah hanya memerintahkan
agar Makkah dibersihkan dari berhala-berhala dan semua perbuatan kemusyrikan.
Bulan
Ramadhan saat berlangsungnya ekspedisi Tabuk (tahun 9 hijriah)
Peristiwa
ini dilatarbelakangi oleh kabar bahwa suku-suku Arab Kristen di wilayah
Daumatul Jandal hendak menghimpun kekuatan untuk menyerang Madinah. Selain
100.000 kekuatan pasukan yang mereka miliki, mereka meminta bantuan kepada
Heraklius, kaisar Romawi untuk mengirimkan tambahan pasukan. Heraklius yang
juga tengah menjalankan misi penaklukan dan telah berhasil menaklukan wilayah
Mesir, Irak, Syiria, dan Palestina, nampaknya tertarik pula untuk menaklukkan
Arab. Selain itu, Romawi yang sebelumnya pernah bertempur dengan Kekuatan kaum
muslimin dalam Perang Mu'tah nampaknya masih penasaran untuk mencoba kembali
kekuatan kaum muslimin.
Mendengar kabar tersebut, rasulullah mengumpulkan 30.000-70.000 kekuatan
kaum muslimin untuk melakukan ekspedisi menuju Daumatul Jandal kemudian menuju
wilayah Tabuk untuk menerima tantangan pasukan Romawi. Ekspedisi kali itu
merupakan momen yang sangat sulit, mengigat saat itu tengah musim panas terik,
ditambah tidak lama lagi adalah saat musim panen. Sehingga jika memutuskan ikut
dalam ekspedisi tabuk berarti harus siap meninggalkan kebun-kebun yang siap
dipanen menjadi terbengkalai begitu saja demi melakukan perjalanan jauh, teruk,
dan mematikan menuju Tabuk. Jarak yang ditempuh pasukan kaum muslimin dari
Madinah menuju Tabuk sekitar 800 km, sehingga keberangkatan ke wilayah itu
memakan waktu 20 hari.
Dalam ekspedisi ini kaum muslimin hanya melakukan peperangan dengan
suku-suku Arab di Daumatul Jandal dan berhasil menaklukkan mereka. Adapun
sesampainya di wilayah Tabuk, pasukan Romawi tidak dijumpai, karena ternyata
mereka mengurungkan niat untuk berperang setelah mendengar kemenangan pasukan
muslimin di Daumatul Jandal. Sebagian riwayat mengisahkan bahwa keberangkatan
ekspedisi ini pada bulan Rajab. Di Wilayah Tabuk, pasukan muslimin tinggal
selama 10 hari. Lamanya waktu perjalanan pulang membuat pasukan muslim
menghabiskan separuh lebih waktu Bulan Ramadhan di perjalanan. Mereka baru
sampai kembali ke Madinah pada tanggal 26 Ramadhan. Bisa dibayangkan betapa
berat dan lelahnya Bulan Ramadhan yang dialami dalam ekspedisi tersebut.
Itulah beberapa kisah momen berat selama Bulan Ramadhan di masa hidup
rasulullah. semoga bisa dipetik pelajaran dan hikmahnya. Selamat menjalankan ibadah
puasa Ramadhan 1441 hijriah dengan khusyu'. Meskipun terkendala dengan adanya
pandemi Covid 19, namun semoga kita dalam Ramadhan kali ini dapat lulus ujian
dan menjadi orang-orang yang bertakwa.

Covid 19 , tidak ada apa apanya dengan cobaan umat muslim dulu...
BalasHapusMasyaAllah...terimkasih ilmunya pak...
Orang islaam harus selalu kuat...
Ok pak fir...
Hapus