Sudah
menjadi sunnatullah bahwa semua rasul yang diutus oleh Allah akan mengalami
penentangan hebat bahkan dinistakan oleh sebagian dari kaumnya. Ada rasul yang
berdakwah ratusan tahun namun pada akhirnya hanya berhasil meyakinkan puluhan
orang saja dari kaumnya, contohnya Nabi Nuh. Dalam riwayat dikisahkan ada pula
seorang nabi yang kelak ketika dibangkitkan di hari kiamat, ia tak memiliki
seorang pengikut pun yang menyertainya. Pernah pula Allah mengutus 3 orang
rasul sekaligus pada satu kaum secara bersamaan agar dengan demikian dapat
lebih meyakinkan kaum itu. Namun pada akhirnya semua penduduk kaum itu
mendustakan ketiganya, kecuali hanya seorang tukang kayu bernama Habib An-Najar
yang menyatakan keimanannya. Peristiwa ini terjadi di wilayah Antakiah (Turki)
dan sepenggal kisahnya diabadikan dalam Surat Yasin. Ada pula rasul, yang
bahkan anak atau istrinya pun membangkang dan menentang dakwahnya, contohnya
adalah Nabi Nuh dan Nabi Luth.
Al-Qur’an pada banyak ayat mendokumentasikan sikap dan perkataan mereka
sebagai bentuk penolakan dan penistaan terhadap para rasul dan ajaran yang
mereka sampaikan. Sambil tertawa mencibir, mereka mengatakan (إِنْ هَذَا إِلَّا
سِحْرٌ مُبِيْنٌ) yang
bermakna “itu adalah sihir dan tipuan yang nyata” atau perkataan (إِنْ
هَذَا إِلَّا أَسَاطِيْرُ الْأَوَّلِيْنَ), yang bermakna “itu hanyalah dongeng dan bualan masa lalu”. Pada
banyak kisah, penentangan dan penistaan banyak kaum yang tak bisa ditolerir terhadap
rasul mereka akhirnya berujung pada murka dan turunnya azab Allah yang
membinasakan mereka.
Abu Jahal dan Uqbah Bin Abi Muaith
Sebagaimana
para rasul sebelumnya, Nabi Muhammad pun mengalami penentangan hebat dari
sebagian besar kaumnya. Ada banyak cerita ketika rasulullah tidak hanya
ditentang dan dihalangi upaya dakwahnya, namun juga menerima caci makian,
penghinaan, pelecehan, penistaan, bahkan penganiayaan oleh tokoh-tokoh
tertentu. Salah satu penentangan sengit terhadap dakwah rasulullah dilakukan
oleh tetangga beliau sendiri, yakni Abu Jahal dan Uqbah Bin Abi Muaith. Abu
Jahal atau Amr Bin Hakam merupakan salah satu sosok berpengaruh di Quraish yang
berasal dari Bani Makhzumi. Adapun Uqbah Bin Abi Muaith merupakan sahabat karib
Abu Jahal. Ia sebenarnya sempat tertarik dan berencana akan memeluk Islam,
namun karena pengaruh dari Abu Jahal, akhirnya niat tersebut ia urungkan.
Sebaliknya, ia bahkan menjadi pribadi yang sangat membenci Islam dan
rasulullah, seperti halnya sahabat karibnya. Kedua orang tersebut berkali-kali menistakan
dan menganiaya rasulullah.
Uqbah Bin Abi Muaith pernah menistakan nabi dengan meletakkan kotoran
unta dan usus domba ke punggung rasulullah ketika beliau tengah melakukan
shalat di muka Ka’bah. Dalam kondisi demikian, rasulullah tidak bangkit dari
sujudnya hingga Fathimah dan Zainab datang membuang kotoran-kotoran tersebut
dari tubuh rasulullah. Dalam kesempatan lain, Uqbah mengulangi perbuatannya
menistakan dan menganiaya rasulullah. Kali ini ia mencekik rasulullah ketika
tengah bersujud dalam shalatnya dengan melilitkan selendang ke leher rasulullah
sambil menginjak punggung beliau. Dalam kondisi seperti itu, rasulullah
kesulitan bernafas, hingga Abu Bakar datang menolong beliau. Uqbah pernah pula
berusaha meludahi wajah rasulullah, namun Allah menjadikan ludah tersebut
berbalik mengenai wajahnya sendiri dan tetap membekas seumur hidupnya. Karena
tindakan penistaan, penganiayaan, dan perlawanan sengit yang ia lakukan, maka
selepas Perang Badar, Uqbah termasuk salah satu dari daftar tawanan yang
dijatuhi eksekusi mati.
Adapun Abu Jahal, bisa dibilang ia merupakan orang nomor satu yang dari
awal memusuhi dakwah rasulullah. Pernah suatu ketika ia berusaha membunuh
rasulullah dengan rencana akan melemparkan batu besar ketika beliau tengah
bersujud di depan Ka’bah. Ia mengundang beberapa orang sahabatnya untuk hadir
ditempat itu agar bisa melihat bagaimana aksi makarnya itu. Namun ketika akan
melemparkan batu besar ke arah rasulullah, Allah menggagalkannya dengan
menjadikan Abu Jahal pucat dan tak bisa bergerak seketika sampai rasulullah
selesai menunaikan shalatnya dan beranjak pergi dari tempat itu.
Meskipun demikian, rasulullah sempat berharap akan keislamannya dan
berdoa agar Allah menguatkan Islam dengan dua Umar, yakni Umar Bin Khattab dan
Amr Bin Hisyam yakni Abu Jahal. Allah menjawab doa nabi dengan memberikan
hidayah kepada Umar Bin Khattab dan menjadikannya memeluk Islam. Adapun Abu
Jahal, ternyata cahaya hidayah sulit sekali menembus hatinya, seolah memang
telah tiada celah dalam relung hatinya untuk menerima risalah Islam. Kesesatan
dan arogansi Abu Jahal masih tetap melekat bahkan ketika ia telah sekarat saat
di medan Perang Badar. Dalam kondisi tersebut, ia masih sempat membisikkan
bahwa “Abu Jahal akan tetap menjadi musuh Muhammad di dunia dan di akhirat”. Ia
akhirnya mati oleh pancungan pedang Ibnu Mas’ud, seorang shahabat rasulullah
yang bertubuh kecil, kurus kering, dan agak bengkok kakinya. Tampaknya Allah
menakdirkan bahwa di akhir hayatnya, Abu Jahal mendapatkan balasan dibunuh oleh
orang yang lemah yang dulunya pernah ia aniaya.
Sepeninggal Abu Jahal, kebencian dan permusuhan terhadap rasulullah
diwarisi oleh putranya yakni Ikrimah Bin Abi Jahal. Saat terjadinya peristiwa
pembebasan Kota Makkah (Fathul Makkah), dan masyarakat Quraish Makkah sepakat
untuk tidak melakukan perlawanan, ia termasuk salah satu diantara sebagian
kecil orang Quraish yang bersikeras mengangkat senjata dan melakukan perlawanan
terhadap rasulullah. Atas dasar itu, maka ia termasuk dalam daftar orang yang
tidak mendapatkan pengampunan dari rasulullah selepas peristiwa Fathul Makkah.
Setelah sempat melarikan diri ke Yaman dan menjadi buronan kaum
muslimin, atas jaminan keamanan dan bujukan dari istrinya yakni Ummu Hakim yang
telah berislam beberapa waktu sebelumnya, ia akhirnya datang kepada rasulullah
dan menyatakan keislamannya. Rasulullah menyambut dengan gembira keislaman
Ikrimah dan melarang kepada kaum muslimin untuk mengungkit-ungkit masa lalu
kesalahannya maupun ayahnya. Keislaman Ikrimah nampaknya memang tidak
pura-pura, karena berikutnya ia begitu bersemangat dalam berjihad di banyak
medan pertempuran. Pada era kepemimpinan Khalifah Abu Bakar, ia pun termasuk
salah satu yang termasuk orang yang mengikuti perang di Yamamah melaman seorang
nabi palsu bernama Musailamah. Sampai akhirnya, pada periode kepemimpinan
Khalifah Umar Bin Khattab, ia menemui kesyahidannya saat mengikuti Perang
Yarmuk, sebuah peperangan dahsyat antara tentara muslim melawan tentara Romawi
di lembah Sungai Yarmuk.
Keluarga Abu Sufyan
Tokoh lain
yang juga memiliki penentangan hebat terhadap beliau adalah keluarga Abu Sufyan
Bin Harb. Abu Sufyan merupakan pemimpin pasukan Quraish saat terjadinya Perang
Uhud dan Perang Parit (Perang Khandaq). Dalam Perang Uhud, kaum muslimin
menderita kekalahan yang cukup telak, bahkan rasulullah pun sempat terluka
serius saat itu. Adapun dalam Perang Khandaq, hampir saja rasulullah dan kaum
muslimin di Madinah mati kelaparan atau bahkan binasa karena kepungan tentara
Quraish dan para sekutunya selama berhari-hari. Namun Allah memberikan
pertolongan kepada kaum muslimin dengan menurunkan bantuan berupa angin badai
yang memporak-porandakan musuh. Abu Sufyan tak segan-segan membelanjakan dan
menghabiskan harta kekayaannya sebagai upaya menghalangi dakwah rasulullah
ataupun mengusik pribadi beliau. Ia pun pernah mengupah beberapa pujangga Arab
untuk mengarang syair-syair penistaan terhadap rasulullah dan menghina secara
keji terhadap istri-istri beliau.
Demikian pula istri Abu Sufyan, Hindun Binti Utbah, dalam Perang Uhud ia
tampil sebagai pemimpin para perempuan Quraish dalam meneriakkan yel-yel untuk
membangkitkan semangat perang para laki-laki Quraish di medan perang. Ia
memiliki dendam yang membara, khususnya kepada paman rasulullah, yakni Hamzah
Bin Abdul Muthallib, karena ia telah menewaskan orang tua (‘Utbah Bin Rabi’ah)
Hindun saat Perang Badar. Ia juga menyewa seorang penombak asal Habasyah
bernama Washi yang secara khusus diberi tugas mengincar Hamzah Bin Abdul
Muthallib di saat lengah. Paman rasulullah yang tergeletak tewas oleh tombak
Washi tersebut, kemudian dibelah dadanya oleh Hindun, diambil jantungnya, dan
ia makan.
Menjelang peristiwa Fathul Makkah, dengan ditemani Abbas Bin Abdul
Mutallib, Abu Sufyan Bin Harb datang kepada rasulullah dan menyatakan
keislamannya. Rasulullah menerima keislaman Abu Sufyan dan memaafkannya dengan
segala tindak penistaan yang pernah ia lakukan. Atas saran dari Abbas,
rasulullah memberikan sedikit penghargaan dan kemuliaan kepada Abu Sufyan
sebagai pemuka masyarakat Quraish, bahwa siapapun diantara orang-orang Quraish
yang tidak melakukan perlawanan dan masuk ke dalam rumah Abu Sufyan, maka ia
akan aman. Demikian pula rasulullah akhirnya memaafkan kesalahan Hindun dan
Washi serta bersedia menerima keislaman mereka setelah Fathul Makkah. meskipun tidak
dapat dipungkiri bahwa tindakan yang pernah mereka lakukan kepada Hamzah sempat
menimbulkan kemarahan dan kesedihan yang mendalam bagi rasulullah.
Rasulullah bahkan memuliakan putra-putri Abu Sufyan yang telah berislam
lebih dulu. Muawiyah Bin Abi Sufyan, karena kemampuannya dalam baca tulis, membuatnya
menjadi salah satu juru tulis rasulullah yang memiliki tugas mencatat
wahyu-wahyu Al-Qur’an yang turun. Adapun Ramlah Binti Abi Sufyan atau Ummu
Habibah mendapat kehormatan diperistri oleh rasulullah dan menjadi salah satu
dari ummul mukminin, setelah suaminya yang pertama (Ubaidullah Bin Jahsy)
memutuskan murtad menjadi Nashrani ketika tengah berada dalam pengungsian di
Habasyah.
Sepeninggal rasulullah, para keturunan Abu Sufyan bahkan tercatat
memiliki kiprah yang besar dalam kejayaan Islam. Pada era kekhalifahan Abu
Bakar hingga Umar Bin Khattab, dua putra Abu Sufyan, yakni Muawiyah dan Yazid
Bin Abi Sufyan tercatat memiliki andil yang tak sedikit. Yazid Bin Abi Sufyan
bahkan merupakan satu dari 4 orang panglima yang ditunjuk oleh Khalifah Abu
Bakar dalam ekspedisi penaklukan Syiria. Ekspedisi tersebut berujung pada
terjadinya Perang Yarmuk, perang dahsyat melawan pasukan Romawi di lembah
Sungai Yarmuk. Selepas era pemerintahan 4 khalifah rasyidah, Muawiyah tampil
sebagai perintis sekaligus khalifah pertama Daulah Bani Umayyah. Terlepas dari
banyak kekurangannya, pemerintahan tersebut menjadi kelanjutan dari
pemerintahan dan peradaban Islam yang mampu memperluas wilayah kekuasaan Islam
hingga ke wilayah Andalusia Spanyol.
Keluarga Abu Lahab
Permusuhan
sengit dan penistaan terhadap rasulullah bahkan juga dilakukan oleh pamannya
sendiri, yakni Abu Lahab yang merupakan salah satu tokoh terpandang dalam
masyarakat Quraish. Sebelum beliau diutus sebagai rasul, sebenarnya tidak ada
permusuhan antara beliau dengan Abu Lahab. Bahkan saat beliau lahir, Abu Jahal merupakan
salah satu orang yang merasa berbahagia sehingga ia memerdekakan budaknya yang
bernama Tsuwaibah dan menjadikannya sebagai salah satu wanita yang menyusui
beliau. Untuk semakin merekatkan tali kekerabatan, rasulullah pun menikahkan
dua orang putrinya dengan dua orang putra Abu Lahab. Utbah Bin Abu Jahal
menikah dengan Ruqayyah sedangkan Utaibah Bin Abu Jahal menikah dengan Ummu
Kultsum.
Namun setelah rasulullah menerima wahyu dan mulai terang-terangan
menyampaikan dakwahnya, Abu Jahal dan keluarganya berbalik menjadi orang yang
membenci dan memusuhi beliau. Suatu ketika rasulullah mengumpulkan para sanak kerabatnya
di Bukit Shafa, termasuk diantaranya Abu Lahab. Beliau kemudian berpidato di
hadapan mereka agar mereka menerima risalah dan meyakini kehidupan akhirat. Pada
momen itulah Abu Lahab tampil mempermalukan rasulullah di depan banyak orang dengan
melontarkan perkataan (تَبًّ لَكَ يَا مُحَمَّدُ
أَلِهَذَا جَمَعْتَنَاُ) yang berarti “celakalah engkau wahai Muhammad, apakah hanya
karena keperluan ini engkau mengumpulkan kami disini”. Dalam tradisi masyarakat
Arab, kata (تَبًّ لَكَ) merupakan kata kasar bahkan merupakan salah satu bentuk
umpatan kepada seseorang, selain kata (وَيْلٌ لَكَ) dan (أُفٍّ لَكَ) yang juga bermakna serupa.
Demikian pula istri Abu Lahab yakni Arwa Binti Harb Bin Umayyah atau
Ummu Jamil juga memiliki sikap permusuhan terhadap rasulullah yang tak kalah
jahatnya dibanding yang dilakukan oleh suaminya. Ia dijuluki Ummu Jamil yang
bermakna “seorang perempuan yang cantik”, karena memang demikianlah penampilan
fisiknya. Namun dalam Surat Al-Lahab ia digambarkan sebagai seorang yang sibuk
membawa kayu bakar berduri yang akan ia letakkan di depan rumah rasulullah dan
di setiap jalan yang akan dilalui oleh beliau.
Bahkan tak lama setelah turunnya Surat Al-Lahab, Ummu Jamil yang merasa
tersinggung dengan isi surat tersebut, kemudian berusaha mencari dan menemui
rasulullah berniat untuk mencekik beliau. Demikian pula Abu Jahal langsung memerintahkah
kepada dua orang putranya untuk menceraikan putri rasulullah dengan maksud
menghina dan meyusahkan beliau dan keluarganya. Utbah dan Utaibah pun
menceraikan putri-putri rasulullah meskipun mereka baru menikah dan masih belum
sempat berhubungan. Keluarga Abu Jahal pun menghasut menantu rasulullah yang
lainnya yakni Al-Ash Bin Ar-Rabi’ (suami Zainab) yang masih kafir agar juga mau
menceraikan istrinya. Namun ia menolak hasutan tersebut dan memilih untuk tetap
setia kepada Zainab.
Satu di antara dua putra Abu Jahal tersebut akhirnya menyatakan keislamannya
saat Fathul Makkah, dan rasulullah menerima keislaman dan memaafkan
kesalahannya. Adapun yang lain, sesaat setelah turunnya Surat An-Najm, ia
mendatangi rasulullah sambil marah ia meneriakkan “aku tidak percaya kepada
bintang dan tuhan bintang”. Hal tersebut merupakan bentuk penistaan terhadap
wahyu yang baru turun kepada beliau. Rasulullah menanggapi penentangan dan
penistaannya dengan doa yang beliau panjatkan kepada Allah: “Ya Allah
kirimkanlah kepadanya salah satu dari anjing-anjing-Mu”. Putra Abu Lahab ini
akhirnya bernasib tragis, mati diterkam singa yang Allah kirimkan saat ia
tengah melakukan perjalanan dagang ke Syam. Hal itu adalah imbas dari
pilihannya untuk tetap kafir, penistaan yang ia pernah ia lakukan, dan doa
rasulullah atasnya. Adapun kedua putri rasulullah yang menjanda, selanjutnya
dinikahkan kepada salah satu shahabat dekat rasulullah, yakni Utsman Bin Affan.
Para Penyair
Beberapa
penyair Arab yang sempat memusuhi rasulullah dan kerap menghina beliau melalui
syair-syair mereka antara lain: Abu Sufyan Bin Harits dan Kaab Bin Zuhair Bin
Abi Salma. Untuk mengimbangi kebencian yang berwujud karya syair tersebut,
beberapa shahabat rasulullah membalasnya dengan karya-karya yang bernada
positif dan pujian kepada rasulullah beserta keluarga beliau. Beberapa shahabat
rasulullah yang memiliki keahlian khusus dalam membuat syair diantaranya adalah
Hassan Bin Tsabit dan Abdullah Bin Rawahah.
Abu Sufyan Bin Harits merupakan saudara sepupu rasulullah. Ia adalah
putra dari Harits Bin Abdul Muthallib, kakak dari Abdullah Bin Abdul Muthallib,
ayahanda rasulullah. Selain sebagai saudara sepupu, Abu Sufyan juga merupakan
saudara sesusuan rasulullah. Ketika masih bayi, keduanya disusui oleh ibu
susuan yang bernama Halimah As-Sa’diyah. Kedekatan hubungan Abu Sufyan terhadap
rasulullah ternyata tidaklah membuatnya menerima dan mendukung upaya dakwah
beliau. Ia bahkan tampil sebagai musuh rasulullah dengan syair-syair berisi
hinaan yang ia ciptakan.
Namun saat menjelang peristiwa pembebasan Kota Makkah (Fathul Makkah), setelah
hampir 20 tahun memusuhi rasulullah, akhirnya Abu Sufyan Bin Harits pada datang
dan menyatakan keislamannya kepada rasulullah. Awalnya rasulullah agak enggan
menemuinya, mengingat caci makian dan hinaan yang ia lontarkan melalui
syair-syair yang ia buat. Namun pada akhirnya rasulullah bersedia memaafkan dan
menerima keislaman Abu Sufyan Bin Harits. Setelah itu Abu Sufyan pun mengarang
syair indah berisi pujian kepada rasulullah, hal tersebut membuat beliau merasa
senang. Abu Sufyan Bin Harits akhirnya membuktikan kesungguhannya dalam memeluk
Islam salah satunya dengan menyertai rasulullah dalam Perang Hunain. Dalam
perang tersebut, ia bahkan merupakan satu-satunya orang yang bertahan di sisi
rasulullah dan memegangi unta beliau saat pasukan muslimin dikejutkan oleh
serangan musuh secara mendadak dari balik bukit.
Demikian pula dengan Kaab Bin Zuhair, ia memutuskan untuk datang dan menyatakan keislamannya kepada rasulullah saat tahun perutusan (‘Ammul Wufud). Untuk menebus kesalahannya di masa silam yang kerap menistakan rasul melalui syair-syairnya, maka kala itu ia menyusun syair yang berisi pujian kepada rasulullah kemudian membacakan syair tersebut di hadapan beliau. Rasulullah memberi permaafan kepada Kaab Bin Zuhair, menerima keislamannya, bahkan memberikan pakaian burdah kesayangan beliau kepadanya sebagai tanda bahwa beliau senang dengan syair pujian tersebut. Peristiwa itulah yang berikutnya membuat orang menyebut setiap syair pujian kepada nabi dinamakan “burdah”. Syair pujian karangan Kaab Bin Zuhair merupakan qasidah burdah pertama sekaligus yang paling tinggi tingkat kefasihan dari aspek sastranya dibanding semua syair/qasidah burdah yang pernah ada. Qasidah burdah pertama ini dikenal pula dengan Qasidah Banat Su’ad.



