Seminggu telah berlalu sejak aku kehilangan anakku. Bayangnya masih kerap hinggap di benakku. Aku mampu tegar ketika berada di hadapan banyak orang, tetapi jujur air mata ini sesekali masih menetes mengenangnya di kala sepi. Dalam seminggu ini, hampir tiap hari aku dan ibunya menjenguk dan berdoa di kuburnya. Kehilangan akan dirinya di penghujung Ramadhan ini membuat gema takbir Idul Fitri tahun ini tak bisa lagi kurasai sebagai momen kebahagiaan. Namun kepergian anakku benar-benar mengajarkan kepadaku untuk menjadi sabar dan ikhlas meskipun tertatih-tatih aku mengupayakannya. Kepergian anakku, sejenak membuatku merenung dan mengingatkan bahwa sosok termulia di jagad raya ini pun juga pernah berduka cita karena kehilangan sosok buah hati yang amat dicintainya. Beliau bahkan mengalami duka cita karena kehilangan 3 orang putranya saat mereka masih balita. Mereka adalah: Al-Qasim, Abdullah, dan Ibrahim.
Kisah yang paling memilukan diantara ketiganya adalah wafatnya Ibrahim. Ia adalah putra nabi dari istri beliau yang bernama Mariyah Al-Qibtiyah, seorang wanita berdarah bangsawan asal Mesir. Nabi sangat bersuka cita atas kabar lahirnya bayi laki-laki dari rahim Mariyah. Tiap waktu, beliau sempatkan untuk datang menjenguk mariyah dan putranya ini, sehingga sempat membuat istri-istri nabi yang lainnya menjadi cemburu. Sebagai wujud syukur dan suka cita atas kelahiran putranya tersebut, nabi menyembelih kambing sebagai akikah dan bersedekah perak seberat cukuran rambut Ibrahim dan beliau sedekahkan kepada faqir miskin. Nabi memiliki harapan besar bahwa putranya ini akan menjadi kebanggaan beliau setelah wafatnya Al-Qasim dan Abdullah. Kebanggaan tersebut terlihat dari bagaimana nabi menamai anak ini dengan nama leluhur beliau, leluhur para nabi, bahkan juga merupakan leluhur bangsa Arab, Nabi Ibrahim.
Namun kebahagiaan tersebut tidaklah berlangsung lama. Pada bulan Syawwal tahun 10 hijriyah, pada usia yang belum genap 2 tahun, Ibrahim meninggal dunia karena sakit. Ibrahim adalah putra tumpuan harapan beliau setelah beliau kehilangan Al-Qosim dan Abdullah. Bahkan kala itu, 3 dari 4 putri beliau yang telah beranjak dewasa, juga telah meninggal mendahului nabi. Sehingga setelah wafatnya Ibrahim, hanya Fathimah lah diantara keturunan nabi yang tersisa. Perasaan duka atas wafatnya Ibrahim, sebagian kecil diantaranya, beliau ungkapkan dalam perkataan beliau, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, “Sungguh mata ini meneteskan air mata dan hati ini sedang dirundung duka. Namun, kami tidak mengatakan sesuatu yang tidak diridhai Rabb kami. Sungguh, kami bersedih atas kepergianmu, wahai Ibrahim.”
Pada hari meninggalnya Ibrahim, secara bersamaan terjadi gerhana matahari. Sebagian orang saat itu beranggapan bahwa terjadinya gerhana kala itu merupakan peristiwa mistik yang berhubungan dengan kematian Ibrahim. Islam menepis pemahaman mistik tersebut, sekaligus untuk pertama kalinya mensyariatkan pelaksanaan shalat gerhana bagi kaum muslim. Hal ini sebagaimana dilansir oleh hadist riwayat Imam Bukhari, “Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kekuasaan Allah. Gerhana ini tidak terjadi karena kematian seseorang atau lahirnya seseorang. Jika melihat hal tersebut maka berdoalah kepada Allah, bertakbirlah, kerjakanlah shalat dan bersedekahlah.”
Bulan Syawwal yang biasanya dimaknai sebagai bulan kemenangan dan kebahagiaan, kala itu justru menjadi bulan yang menyimpan momen kedukaan bagi nabi atas wafatnya Ibrahim. Namun tidak ada hal yang sia-sia di dunia ini. Rasa sakit, duka, dan perih, terlebih jika sabar dan ikhlas menghadapinya, tentu semua akan diganti dengan kemuliaan dan kebahagiaan kelak pada waktunya. Demikian pula Allah menghibur rasul-Nya atas semua rasa kehilangan yang beliau alami dengan janji akan karunia yang besar yang pasti beliau terima nantinya, sebagaimana dinyatakan dalam permulaan Surat Al-Kautsar, “Sungguh Kami akan karuniakan kepadamu Al-Kautsar.”
Ada banyak tafsiran dari makna kata "Al-Kautsar" tersebut. Sebagian diantara ahli tafsir memaknai kata tersebut sebagai nama telaga di akhirat kelak yang dianugerahkan kepada nabi yang mana umat manusia yang beliau ridhai bisa minum dari telaga tersebut dan tidak akan kehausan selamanya. Ada pula yang mufassir yang memahami bahwa makna kata "Al-Kautsar" tersebut adalah janji Allah yang akan memberikan keturunan yang banyak bagi beliau melalui jalur Fathimah. Ada pula mufassir yang memaknai secara lebih umum bahwa makna kata "Al-Kautsar" tersebut adalah nikmat dan karunia yang besar dalam berbagai bentuknya.
Jika dibandingkan dengan yang dialami oleh nabi, kedukaanku jelas jauh tidak ada apa-apanya. Namun aku berharap kedukaanku di bulan Syawwal sebagaimana yang pernah Nabi alami, semoga menjadikanku termasuk ke dalam golongan orang-orang yang diridhoi sehingga bisa meneguk air segar dari telaga Kautsar. Semoga kehilanganku atas anakku, Allah gantikan dengan keturunan yang shalih dan shalihah bagiku kelak, sebagaimana Allah penuhi janjinya kepada Nabi. Semoga ujian kedukaan yang kualami ini, kelak membuahkan karunia dan nikmat yang besar di kemudian hari...