Rabu, 17 April 2024

Duka Cita di Bulan Syawwal

Seminggu telah berlalu sejak aku kehilangan anakku. Bayangnya masih kerap hinggap di benakku. Aku mampu tegar ketika berada di hadapan banyak orang, tetapi jujur air mata ini sesekali masih menetes mengenangnya di kala sepi. Dalam seminggu ini, hampir tiap hari aku dan ibunya menjenguk dan berdoa di kuburnya. Kehilangan akan dirinya di penghujung Ramadhan ini membuat gema takbir Idul Fitri tahun ini tak bisa lagi kurasai sebagai momen kebahagiaan. Namun kepergian anakku benar-benar mengajarkan kepadaku untuk menjadi sabar dan ikhlas meskipun tertatih-tatih aku mengupayakannya. Kepergian anakku, sejenak membuatku merenung dan mengingatkan bahwa sosok termulia di jagad raya ini pun juga pernah berduka cita karena kehilangan sosok buah hati yang amat dicintainya. Beliau bahkan mengalami duka cita karena kehilangan 3 orang putranya saat mereka masih balita. Mereka adalah: Al-Qasim, Abdullah, dan Ibrahim.


Kisah yang paling memilukan diantara ketiganya adalah wafatnya Ibrahim. Ia adalah putra nabi dari istri beliau yang bernama Mariyah Al-Qibtiyah, seorang wanita berdarah bangsawan asal Mesir. Nabi sangat bersuka cita atas kabar lahirnya bayi laki-laki dari rahim Mariyah. Tiap waktu, beliau sempatkan untuk datang menjenguk mariyah dan putranya ini, sehingga sempat membuat istri-istri nabi yang lainnya menjadi cemburu. Sebagai wujud syukur dan suka cita atas kelahiran putranya tersebut, nabi menyembelih kambing sebagai akikah dan  bersedekah perak seberat cukuran rambut Ibrahim dan beliau sedekahkan kepada faqir miskin. Nabi memiliki harapan besar bahwa putranya ini akan menjadi kebanggaan beliau setelah wafatnya Al-Qasim dan Abdullah. Kebanggaan tersebut terlihat dari bagaimana nabi menamai anak ini dengan nama leluhur beliau, leluhur para nabi, bahkan juga merupakan leluhur bangsa Arab, Nabi Ibrahim.


Namun kebahagiaan tersebut tidaklah berlangsung lama. Pada bulan Syawwal tahun 10 hijriyah, pada usia yang belum genap 2 tahun, Ibrahim meninggal dunia karena sakit. Ibrahim adalah putra tumpuan harapan beliau setelah beliau kehilangan Al-Qosim dan Abdullah. Bahkan kala itu, 3 dari 4 putri beliau yang telah beranjak dewasa, juga telah meninggal mendahului nabi. Sehingga setelah wafatnya Ibrahim, hanya Fathimah lah diantara keturunan nabi yang tersisa. Perasaan duka atas wafatnya Ibrahim, sebagian kecil diantaranya, beliau ungkapkan dalam perkataan beliau, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, “Sungguh mata ini meneteskan air mata dan hati ini sedang dirundung duka. Namun, kami tidak mengatakan sesuatu yang tidak diridhai Rabb kami. Sungguh, kami bersedih atas kepergianmu, wahai Ibrahim.” 


Pada hari meninggalnya Ibrahim, secara bersamaan terjadi gerhana matahari. Sebagian orang saat itu beranggapan bahwa terjadinya gerhana kala itu merupakan peristiwa mistik yang berhubungan dengan kematian Ibrahim. Islam menepis pemahaman mistik tersebut, sekaligus untuk pertama kalinya mensyariatkan pelaksanaan shalat gerhana bagi kaum muslim. Hal ini sebagaimana dilansir oleh hadist riwayat Imam Bukhari, “Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kekuasaan Allah. Gerhana ini tidak terjadi karena kematian seseorang atau lahirnya seseorang. Jika melihat hal tersebut maka berdoalah kepada Allah, bertakbirlah, kerjakanlah shalat dan bersedekahlah.”


Bulan Syawwal yang biasanya dimaknai sebagai bulan kemenangan dan kebahagiaan, kala itu justru menjadi bulan yang menyimpan momen kedukaan bagi nabi atas wafatnya Ibrahim. Namun tidak ada hal yang sia-sia di dunia ini. Rasa sakit, duka, dan perih, terlebih jika sabar dan ikhlas menghadapinya, tentu semua akan diganti dengan kemuliaan dan kebahagiaan kelak pada waktunya. Demikian pula Allah menghibur rasul-Nya atas semua rasa kehilangan yang beliau alami dengan janji akan karunia yang besar yang pasti beliau terima nantinya, sebagaimana dinyatakan dalam permulaan Surat Al-Kautsar, “Sungguh Kami akan karuniakan kepadamu Al-Kautsar.”


Ada banyak tafsiran dari makna kata "Al-Kautsar" tersebut. Sebagian diantara ahli tafsir memaknai kata tersebut sebagai nama telaga di akhirat kelak yang dianugerahkan kepada nabi yang mana umat manusia yang beliau ridhai bisa minum dari telaga tersebut dan tidak akan kehausan selamanya. Ada pula yang mufassir yang memahami bahwa makna kata "Al-Kautsar" tersebut adalah janji Allah yang akan memberikan keturunan yang banyak bagi beliau melalui jalur Fathimah. Ada pula mufassir yang memaknai secara lebih umum bahwa makna kata "Al-Kautsar" tersebut adalah nikmat dan karunia yang besar dalam berbagai bentuknya.


Jika dibandingkan dengan yang dialami oleh nabi, kedukaanku jelas jauh tidak ada apa-apanya. Namun aku berharap kedukaanku di bulan Syawwal sebagaimana yang pernah Nabi alami, semoga menjadikanku termasuk ke dalam golongan orang-orang yang diridhoi sehingga bisa meneguk air segar dari telaga Kautsar. Semoga kehilanganku atas anakku, Allah gantikan dengan keturunan yang shalih dan shalihah bagiku kelak, sebagaimana Allah penuhi janjinya kepada Nabi. Semoga ujian kedukaan yang kualami ini, kelak membuahkan karunia dan nikmat yang besar di kemudian hari...

Selamat Jalan Anakku

Aku masih teringat saat USG pertama, Kata dokter, anak ketigaku ini kondisinya sehat dan insyaallah laki-laki. Dokter saat itu menerangkan kondisi anakku dalam kandungan secara cukup detil bahkan bisa menunjukkan melalui alat USG mana kepala, tangan, kaki, dada, dan lain sebagainya. Tapi sayangnya dokter tidak bisa menunjukkan bagaimana wajah anakku. Kata dokter, wajah anakku tertutup tangannya, mungkin malu ketemu bapak ibunya, guraunya. Begitupun saat USG kedua dan USG menjelang kelahiran, wajahnya selalu tertutup dan tidak bisa dilihat.

Aku siapkan segala sesuatunya untuk calon jagoanku ini, mulai dari baju-bajunya, tempat tidurnya, dan aneka perlengkapan bayi lainnya insyaallah nyaris komplit. Kusiapkan dipan dan kasur busa khusus untuknya. Aku renovasi pula kamar mandi, pikirku agar lebih enak nantinya ketika memandikannya. Bahkan jauh-jauh hari sudah kusiapkan dan kupilihkan nama yang menurutku terbaik untuk anakku ini, "Bilhabib Syauqi". Dalam nama itu, tersimpan harapan besarku semoga ia kelak menjadi muslim yg taat yg senantiasa merindui nabi-Nya, menjadi pribadi yg baik dan santun yg senantiasa dirindui oleh orang-orang di sekelilingnya.


Selama masa ia dlm kandungan, aku bersemangat sekali, 2x lipat dari biasanya dlm membersamai anak-anak mengaji dan tahfidz di rumah maupun di sekolah. Kupikir semoga lelahku membersamai mereka menjadi wasilah semoga anakku yg masih dalam kandungan memperoleh barokah Al-Qur'an. Semoga ia nanti mengikuti jalan hidupku bahkan lebih hebat dariku dalam mengabdi mengemban Al-Quran.


Tibalah saat ia lahir... Tak karuan rasanya saat kulihat ia keluar tanpa tangisan, apalagi saat kulihat bidan yang menangani persalinan buru-buru menyuruh asistennya untuk menghubungi nomor layanan darurat. Setelah diberi pertolongan pertama, alhamdulillah mulai keluar suara tangisnya, meskipun lirih. Anakku lahir dg bobot 2,5 Kg, air ketuban sdh kering, terlilit tali pusar, dan paru-parunya kemasukan ketuban keruh. Dengan kondisi demikian otomatis anakku dinyatakan kritis dan harus mendapat perawatan secara intensif. 


Di satu sisi aku bahagia dg kelahiran anakku, namun di sisi lain aku tidak tega melihatnya bernapas tersengal-sengal di dalam inkubator. Aku dan istriku diberi kesempatan untuk menjenguknya masing-masing hanya sekali, itupun hanya sebentar. Hanya boleh melihat dan memandangnya saja, tanpa boleh menyentuh, menggendong, apalagi mendekap dan menciumnya. Saat giliran istriku menjenguknya, ia langsung menengok ketika di sapa, seolah ia tahu bahwa yang menjenguk adalah ibunya. Tak lama ia langsung menangis kencang, seakan ia ingin berpamitan.


Kurang lebih sehari semalam setelah dirawat, istriku diijinkan pulang karena kondisinya memang telah membaik. Sedangkan anakku dg kondisi demikian, entah kapan ia akan boleh pulang, pihak rumah sakit tidak bisa memastikan. Bahkan pihak rumah sakitpun juga tidak berani mengatakan apakah anakku akan bisa melewati masa kritisnya.


Tadi pagi mendadak aku ditelpon pihak rumah sakit yg memberitahukan bahwa anakku berhenti nafas dan detak jantungnya. Langsung aku bergegas ke rumah sakit dg perasaan yg tidak karuan. Aku tdk menangis, tapi air mata tak berhenti mengalir di sepanjang jalan menuju rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit, aku diberitahu bahwa setelah dilakukan pemompaan nafas selama kurang lebih 15 menit, nafas dan detak jantungnya sdh kembali meskipun masih tersengal-sengal dan besar kemungkinan hal tersebut akan terjadi lagi sewaktu-waktu.


Hanya berdoa dan meminta doa yang kurasa bisa kulakukan sambil menunggu dan berharap bahwa anakku bisa melewati masa kritisnya dengan selamat. Demi keselamatan anakku bahkan kuputuskan untuk berziarah ke asta KH. Abdullah Yaqin Bustanul Ulum Mlokorejo. Kutumpahkan perasaanku dan tangisku di situ. Kubaca Surat Yasin sebanyak mungkin yg kumampu. Pikirku, bahkan kalau perlu meski sampai maghrib pun tak mengapa, sebagai wasilah semoga anakku sembuh.


Namun takdir berkata lain, Tuhanlah yg punya kehendak, dan kupikir meskipun berat dan sakit rasanya, tapi itulah yg terbaik. Telpon dari rumah sakit berdering tepat setelah pembacaan Yasin yg keempat kalinya. Pihak rumah sakit mengabarkan bahwa anakku baru saja meninggal.


Kini aku tahu kenapa anakku ini menutup wajahnya seolah tak ingin dilihat wajahnya dalam 3 kali USG. Mungkin ia tak ingin wajahnya terngiang dan menimbulkan kesedihan yg mendalam bagi kami saat ia berpamitan nanti. Aku paham bahwa berbagai perlengkapan dan tempat tidur yg telah kusiapkan untuknya tak akan membuatnya tertidur senyenyak dan senyaman tidurnya di tempat peristirahatannya saat ini. Ia benar-benar menepati makna nama yang kuberikan untuknya, Bilhabib Syauqi. Ia singgah di dunia ini hanya 2 hari, tiada yg lebih ia rindukan, kecuali Tuhan Sang Pencipta. Tiada pula yg paling merindukannya, melebihi kerinduan Tuhan Sang Pencipta kepadanya.


Aku tdk ucapkan selamat tinggal untuknya, karena kuanggap ini bukan perpisahan. Kuucapkan selamat jalan untuknya, karena kuyakin kelak aku akan menemuinya kembali, menyapanya, bahkan mungkin memeluknya erat-erat di alam keabadian. Selamat jalan anakku, Bilhabib Syauqi... Aku ikhlaskan engkau menuju peristirahatan terakhirmu.