Senin, 22 Agustus 2022

Laut Yang Terbakar



Dalam Surat Ath-Thur, Allah mengawali firman-Nya dengan beberapa ungkapan qasam (sumpah). Salah satu objek sumpah yang Allah gunakan pada ayat keenam adalah ungkapan (البحر المسجور). Secara harfiah, kata (البحر) berarti “laut”. Adapun makna kata (المسجور), berkisar pada dua makna, yakni “penuh” dan “yang dipanaskan” atau “yang mengandung api”. Berdasarkan makna pertama, maka ungkapan (البحر المسجور) diterjemahkan sebagai “laut yang penuh dengan air” atau “laut yang penuh dengan gelombang”. Sedangkan berdasarkan makna kedua, ungkapan tersebut diterjemahkan antara lain dengan “laut yang dipanaskan”, “laut yang terbakar”, atau “laut yang didasarnya menyimpan api”.

         Objek sumpah, terlebih yang dipakai oleh Allah dalam Al-Qur’an selalu menunjuk kepada sesuatu yang dianggap istimewa atau luar biasa, entah keistimewaan tersebut telah terungkap atau masih menjadi misteri. Pemilihan makna “laut yang penuh dengan air” atau “laut yang penuh dengan gelombang”, memang telah memenuhi syarat sebagai objek sumpah yang luar biasa jika dilihat dari sisi penciptaan. Namun hal tersebut masih terasa sebagai hal yang biasa, tidak ada kesan istimewa padanya, karena memang demikianlah karakter laut, penuh berisi air dan kerap kali penuh dengan gelombang. Adapun pemilihan makna “laut yang dipanaskan”, “laut yang terbakar”, atau “laut yang di dasarnya menyimpan api”, terasa lebih berkesan, karena menyimpan unsur keanehan pada objek tersebut. Pemilihan makna semacam itu tidak hanya sekedar rekaan belaka, dalam banyak terjemahan dan tafsiran, makna tersebut dapatlah dijumpai, khususnya pada terjemahan dan tafsiran modern.

Sebelum adanya berbagai penemuan sains modern, khususnya dalam bidang kelautan, sulit kiranya membayangkan bagaimana mungkin ada nyala api di dasar laut, dan bagaimana bisa nyala api tersebut tetap berdampingan dengan jutaan kubik volume air di dasar laut. Namun uniknya, selain termaktub dalam Al-Qur’an, ternyata fenomena tersebut telah diisyaratkan oleh nabi 14 abad yang lalu. Dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Abu Dawud, nabi menyatakan “Sesungguhnya di bawah lautan terdapat api, dan di bawah api terdapat lautan”.

Salah seorang tabi’in bernama Sa’id Bin Musayyab meriwayatkan tafsiran ayat tersebut dari Ali Bin Abi Thalib, menyatakan bahwa maksud dari ungkapan (البحر المسجور) adalah “Pada hari kiamat kelak, lautan akan dijadikan api yang berkobar dan mengelilingi orang-orang”. Penafsiran semacam ini diriwayatkan pula oleh Ibnu Abbas dan diamini antara lain oleh Mujahid, Qatadah, Abdullah bin Ubaid, dan beberapa tabi’in lainnya. Penafsiran tersebut memahami bahwa fenomena laut yang terbakar merupakan suatu peristiwa yang faktual terjadi, namun tidak untuk hari ini melainkan dikaitkan dengan rangkaian peristiwa saat hari kiamat kelak.

Penafsiran shahabat dan tabi’in di atas tampaknya didasari oleh pernyataan Al-Qur’an pada Surat At-Takwir ayat 6, yang menyatakan “Dan apabila lautan telah dinyalakan”. Jika dicermati, ayat tersebut diungkapkan memang dalam konteks rangkaian peristiwa yang akan terjadi di hari kiamat kelak. Adapun pernyataan dalam Surat Ath-Thur ayat 6 maupun hadist riwayat Abu Dawud di atas, sedikitpun tidak menyinggung tentang peristiwa hari kiamat. Penyamaan peristiwa terbakarnya laut dalam QS. At-Takwir ayat 6 dengan peristiwa serupa dalam QS. Ath-Thur ayat 6 maupun hadist nabi, sebagaimana tafsiran yang dipahami oleh shahabat dan tabi’in, secara tidak langsung berarti menutup kemungkinan terjadinya peristiwa tersebut selain pada hari kiamat.

            Dalam buku “Miracle of Al-Qur’an & As-Sunnah”, karya Dr. Zakir Naik, mengungkapkan bahwa setelah berakhirnya Perang Dunia II, para ilmuwan mulai melakukan penjelajahan dasar laut untuk mencari sumber-sumber mineral baru, karena cadangan mineral di permukaan bumi semakin menipis. Upaya pencarian tersebut secara tidak sengaja menemukan fenomena nyala api yang berasal dari semburan lava dan abu vulkanik yang membentang memanjang ribuan kilometer di dasar laut. Dari sinilah para ilmuwan mulai menyadari bahwa bentangan gunung tidak hanya terdapat di permukaan daratan, tetapi juga terdapat di dasar laut. Demikian pula fenomena erupsi gunung berapi juga bisa terjadi di dasar laut. Rangkaian gunung berapi dasar laut inilah yang selanjutnya dikenal dengan istilah “vulcanic mountain chain”.

            Sumber lain menyatakan bahwa fenomena nyala api di dasar laut pertama kali ditemukan pada tahun 1990-an oleh dua orang ilmuwan geologi berkebangsaan Rusia, yakni Anatol Sbagovich dan Yuri Bagdanov bersama seorang ilmuwan berkebangsaan Amerika Serikat, yakni Rona Clint. Kala itu ketiga ilmuwan tersebut dengan menggunakan kapal selam canggih melakukan penjelajahan laut hingga sedalam 1.750 meter di lepas Pantai Miami untuk melakukan penelitian tentang kerak bumi dan patahannya di dasar laut. Para ilmuwan tersebut secara tidak sengaja menemukan aliran air dengan suhu yang panas hingga 231 derajat celcius mengalir ke arah retakan batu. Setelah didekati, ternyata ditemukan bahwa suhu air yang panas tersebut disebabkan oleh aktivitas vulkanik di dasar laut.

Penelitian berikutnya menemukan bahwa aktivitas vulkanik dasar laut semacam itu ternyata bisa terjadi kapan pun dan dapat ditemui hampir di semua lautan. Bahkan ada pula kasus semburan lava gunung api dari dasar laut yang berhasil mencapai permukaan laut, sehingga nyala apinya pun bisa terlihat pula di permukaan. Seringkali letusan gunung api dasar laut menimbulkan gempa bumi, bahkan tsunami. Di Indonesia, terdapat sejumlah gunung api dasar laut yang masih aktif, beberapa diantaranya bahkan pernah meletus hingga menimbulkan tsunami, gunung-gunung tersebut antara lain:

Ø  Gunung Hobal berada di wilayah Kabupaten Flores bagian timur, Nusa Tenggara Timur

Ø  Gunung Banua Wuhu berada di sebelah barat daya Pulau Mangehetang, Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara

Ø  Gunung Nieuwerkerk berada di wilayah Kabupaten Maluku tengah, Provinsi Maluku

Ø  Gunung Yersey berada di selatan wilayah Banda

Gunung Sangir berlokasi di perairan Sangir, Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara

Ø  Gunung Emperor of China berada di Laut Banda, Perairan Maluku

 

Sains modern masih belum memiliki argumentasi yang memadai untuk menerangkan bagaimana bisa semburan lava tetap bisa menyala meskipun terkepung oleh volume air jutaan kubik di dasar laut. Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana bisa fenomena unik dasar laut yang baru ditemukan oleh ilmuwan pada abad ke-20 dengan bantuan serangkaian peralatan canggih telah diisyaratkan oleh Al-Qur’an dan Hadist Nabi yang datang dari kurun waktu 14 abad silam?