Minggu, 04 September 2022

Menanti Datangnya Satrio Piningit Sang Ratu Adil Tanah Jawa

 


Ada suatu masa ketika Pulau Jawa dikenal oleh dunia sebagai representasi dari seluruh wilayah Nusantara bahkan wilayah sekitarnya, seperti Singapura, Malaysia, dan Pattani (Thailand). Pada masa lalu ada banyak tokoh dari nusantara yang menimba ilmu di wilayah Hijaz dalam kurun waktu yang cukup lama hingga hingga dikenal sebagai ulama di wilayah tersebut. Mereka diantaranya adalah Nawawi Al-Bantani, Mahfudz Termas, Ahmad Khatib Al-Minangkabawi, Khatib Sambas, Abdul Ghani Bima, Yusuf Al-Makassari, dan Yasin Al-Fadani. Uniknya, orang-orang Hijaz menyebut mereka sebagai orang-orang dari Tanah Jawi. Padahal sebagian diantara mereka justru barasal dari berbagai wilayah di luar Jawa.

Demikian pula Bangsa Eropa, dahulu kala sangat menggemari produk ekspor kopi Belanda dari wilayah jajahannya di nusantara. Bangsa Eropa menyebut seduhan kopi hasil bumi nusantara tersebut dengan istilah “Cup of Java” (secangkir kopi dari Jawa), padahal kenyataannya kopi tersebut tidak hanya di tanam di Pulau Jawa, tetapi di berbagai wilayah di nusantara, seperti Sumatra, Kalimantan, dan Sulawesi.

Selain terkenal kemasyhurannya dalam sejarah dan kekayaan sumber daya alamnya, Tanah Jawa juga memiliki kekayaan warisan leluhur berupa khazanah tradisi, spritual, pemikiran, mitologi, dan falsafah. Salah satunya adalah gagasan Satrio Piningit dan Ratu Adil, sebagai mitologi ramalan kepemimpinan futuristik Tanah Jawa. Secara literal “satrio piningit” maknanya adalah “kesatria yang akan menjadi pemimpin yang masih dipingit atau belum muncul”. Adapun “ratu adil” adalah “pemimpin atau penguasa yang adil dan bijaksana”. Orang Jawa percaya bahwa kelak akan muncul sosok satrio piningit sebagai pemimpin titisan dewa yang akan memegang tahta Tanah Jawa (Nusantara). Dia diimpikan bisa menjadi ratu adil yang akan membawa perubahan dengan memperbaiki moral dan taraf kehidupan manusia sehingga tercipta kedamaian, kemakmuran dan keadilan.

Gagasan Satrio Piningit pertama kali dikenalkan oleh Prabu Jayabaya, seorang raja Kerajaan Kediri yang memerintah antara tahun 1135-1159. Ia memiliki ramalan terkait Tanah Jawa yang dikenal sebagai “Jangka Jayabaya”. Ramalan tersebut berupa tembang yang terdapat dalam Kitab Musarar atau Kitab Asrar yang ditulis oleh Sunan Giri ke-3 atau Sunan Giri Prapen. Ramalan Jayabaya juga digubah oleh Ronggowarsito, seorang pujangga besar Keraton Kasunanan Surakarta yang hidup antara tahun 1802-1873. Ia menggubah ramalan Jayabaya dalam salah satu karya sastranya yang berjudul Serat Kalatida. Selain ramalan Jayabaya, prediksi kemunculan pemimpin masa depan Tanah Jawa juga diisyaratkan dalam beberapa karya sastra lainnya, seperti: Uga Wangsit Siliwangi, Ramalan Sabdopalon, dan Serat Darmogandul.

Kemunculan sosok satrio piningit atau ratu adil dikaitkan dengan suatu jaman serba sulit yang dikenalkan dengan istilah “Jaman Kalabendu”. Ada perbedaan antara Jayabaya dan Ronggowarsito dalam memposisikan Jaman Kalabendu. Menurut ramalan Jayabaya, eksistensi Tanah Jawa dibagi berdasarkan 3 era besar yang disebut “Trikali”, yang memiliki rentang waktu 700 tahun. Ketiga jaman besar tersebut antara lain: Jaman Kalisura (antara tahun 1-700), Kaliyoga (antara tahun 701-1400), dan Kalisangara (antara tahun 1401-2100).

Berdasarkan pembagian jaman besar tersebut, berarti saat ini kita tengah berada pada Jaman Kalisangara. Jayabaya meramalkan bahwa pada tahun 2100, yang merupakan akhir dari Jaman Kalisangara, Tanah Jawa akan mengalami “Kiamat Kubro”. Setiap jaman besar terdiri terdiri dari 7 jaman kecil, dengan rentang waktu masing-masing 100 tahun. Jaman Kalisangara antara lain terdiri dari: Jaman Kalajonggo (1401-1500), Jaman Kalasekti (1501-1600), Jaman Kalajodo (1601-1700), Jaman Kalabendu (1701-1800), Jaman Kalasuba (1801-1900), Jaman Kalasumbaga (1901-2000), dan Jaman Kalasurata (2001-2100).

Dalam rincian di atas, bisa dikatakan bahwa Jaman Kalabendu terjadi pada era ketika Tanah Jawa dan Nusantara tengah mengalami titik terberat masa kolonial. Tidak heran jika pada masa-masa itu rakyat sangat mendambakan hadirnya satrio piningit atau ratu adil untuk membebaskan mereka dari derita penjajahan. Keyakinan akan datangnya ratu adil bahkan menjadi motivasi dan faktor pendorong bagi rakyat di banyak tempat untuk mulai melakukan pemberontakan.

Adapun Ronggowarsito memposisikan Jaman Kalabendu sebagai salah satu dari siklus 3 Jaman yang terus berputar sepanjang masa, yang dalam falsafah Jawa dikenal dengan istilah “Cakra Manggilingan”. Sebelum memasuki Jaman Kalabendu, terdapat Jaman Kalatidha, dimana pada jaman tersebut, egoisme mulai muncul, moralitas perlahan mulai ditanggalkan. Orang mulai berani keluar dari “jalan yang lurus” dengan mengambil “jalan yang menyimpang”. Setelah kondisi semacam itu semakin parah dan mencapai puncaknya, maka saat itu muncullah Jaman Kalabendu. 

Jaman Kalabendu adalah jaman dimana bangsa ini berada pada titik nol dan dilanda banyak “goro-goro”. Kondisi dalam negerinya akan ditandai terjadinya banyak berbagai musibah nasional seperti gempa bumi, banjir, gunung meletus, tsunami, kebakaran hutan, dan bencana wabah. Kondisi pemerintahannya ditandai dengan terjadi distorsi kekuasaan, berbagai intrik politik, ketidakstabilan ekonomi, dan penyimpangan tata kelola pemerintahan. Kondisi rakyatnya ditandai dengan tingginya angka kemiskinan, kriminalitas yang meningkat, hilangnya standar moral, dan kehancuran budi pekerti. Pada puncak parahnya Jaman Kalabendu itulah sosok satrio akan menunjukkan jati dirinya. Ia akan memegang tampuk kekuasaan, dan memperbaiki keadaan dan membawa masyarakat memasuki Jaman Kalasuba. Kalasuba adalah jaman kejayaan dimana moralitas kembali lurus, keadilan kembali tegak, dan masyarakat kembali bisa hidup dengan penuh ketentraman.

Satrio Piningit yang nantinya akan muncul, dikenali berdasarkan 3 karakter yang harus ada padanya. Karakter pertama adalah Satria Bayangkara, yang artinya dia adalah sosok pemimpin yang mampu mengayomi, bersikap adil dan tegas, namun berjiwa pemaaf, bahkan terhadap lawannya sekalipun. Karakter kedua adalah Satria Panandita, yang artinya dia merupakan pemimpin yang religius, jujur, dan mampu mengemban amanah demi kemaslahatan umat. Karakter ketiga adalah Satria Raja, yang artinya dia adalah sosok negarawan, bukan politisi; mengabdikan segenap jiwa raganya kepada negara dan untuk kepentingan rakyat, bukan mengabdi kepada kekuasaan apalagi sekedar untuk kepentingan pribadi yang korup.

Sosok Satrio Piningit, dicitrakan oleh Jayabaya dalam ramalannya sebagai sosok yang berwujud layaknya manusia biasa, tampilannya sederhana, namun sesungguhnya merupakan titisan Batara Kresna, wataknya seperti Baladewa, bersenjatakan Trisula Wedha, sakti mandraguna tanpa ajian. Penggambaran dalam ramalan tersebut nampaknya lebih sebagai alegori atau kiasan yang tidak tidaklah bisa dipahami secara literal.

Dalam jagad pewayangan, Batara Kresna dan Baladewa merupakan saudara kandung. Batara Kresna merupakan perwujudan Dewa Indra di mayapada. Ia memainkan peran sebagai tokoh yang menjadi sumber pengetahuan, kebajikan, dan kebijaksanaan, serta memiliki perhitungan yang matang pada setiap tindakan yang diambil. Adapun Baladewa ditampilkan sebagai sosok yang memiliki watak tegas, punya kemauan yang kuat, inovatif, berani mengambil tindakan, dan siap menanggung resiko. Penggabungan dua tokoh wayang tersebut pada diri satrio piningit akan mewujudkan kompleksitas karakter kepemimpinan yang paripurna.

Wedha merupakan kitab suci agama Hindu, yang mana bisa dikatakan bahwa kala itu agama tersebut menjadi agama dominan yang dianut oleh masyarakat di Tanah Jawa. Sosok satrio piningit yang dikaitkan dengan Wedha bisa diartikan bahwa ia adalah sosok pemimpin yang lurus dan berada dalam sinaran petunjuk dari ilahi karena selalu mendasarkan diri pada kitab suci. Adapun trisula adalah semacam senjata tombak yang bermata tiga. Dalam kepercayaan Hindu, senjata tersebut adalah milik Dewa Siwa yang merupakan dewa tertinggi dalam Trimurti. Dengan demikian, sosok pemimpin yang disimbolkan memegang senjata trisula, bermakna bahwa ia adalah pemimpin yang memegang otoritas tertinggi. Ada pula yang memahami bahwa trisula menjadi simbol “mata ketiga”, yang mana seorang pemimpin diharapkan mampu melihat realitas dan permasalahan secara lebih mendalam dibandingkan orang biasa pada umumnya.

Ada pula yang memahami bahwa trisula melambangkan tolok ukur kebenaran, keadilan, dan kebijaksanaan yang diharapkan secara bersamaan dipegangi oleh seorang pemimpin sebagai barometer dalam mengambil tindakan dan memutuskan setiap perkara. Ada pula yang memahami bahwa trisula melambangkan ajian tertinggi dalam mitologi Jawa, yakni “Sastra Jendra Hayuningrat”. Ajian tersebut menjadikan orang yang memilikinya mampu menguasai masa lalu, masa kini, dan masa depan. Dalam konteks kekinian, barangkali Sastra Jendra Hayuningrat bisa ditafsirkan sebagai pengetahuan dan pemahaman yang dalam akan masa lalu (sejarah), sehingga mampu mengambil pelajaran berharga pada setiap peristiwa yang telah berlalu. Pelajaran berharga tersebut selanjutnya mampu diaktualisasikan sebagai pertimbangan dalam mengambil langkah secara tepat. Pada masa depan, hal tersebut berwujud sebagai kemampuan untuk memprediksi dan merumuskan visi dan program yang jelas.

Ronggowarsito meramalkan bahwa akan ada 7 satrio piningit yang akan memerintah wilayah seluas bekas wilayah Kerajaan Majapahit. Wilayah yang dimaksud ditafsirkan sebagai wilayah nusantara (Negara Indonesia). Adapun ketujuh satrio piningit itu antara lain: Pertama, Satrio Piningit Kinunjoro Murwo Kuncoro, yakni sosok pemimpin yang ‘kinunjoro” artinya akrab dengan penjara (sering memasuki penjara) dan akan membebaskan bangsa ini dari belenggu penjara (penjajahan). Ia juga merupakan sosok yang “murwo kuncoro”, yakni akan tersohor di seluruh dunia. Sosok ini ditafsirkan tidak lain adalah Presiden Soekarno, sosok proklamator kemerdekaan sekaligus presiden pertama Indonesia. Dialah yang menjadi pemimpin besar revolusi sekaligus pemimpin Orde Lama. Kiprah dan sepak terjang politiknya pun sampai mendunia, salah satunya melalui Konferensi Asia Afrika dan Gerakan Non Blok yang ia pelopori. Ia menjabat sebagai presiden dalam rentang waktu 1945-1967.

Kedua, Satrio Piningit Mukti Wibowo Kesandung Kesampar yakni sosok pemimpin yang berharta dunia (mukti wibowo), namun akhirnya akan mengalami kejatuhan dan akan terus dipersalahkan atas segala keburukan dan kesalahan yang pernah ia lakukan (kesandung kesampar). Sosok ini memiliki kemiripan dan dikaitkan dengan sosok Presiden Soeharto. Ia merupakan presiden Indonesia yang memegang tampuk jabatan terlama, yakni dalam rentang waktu 1967-1998. Ketiga, Satrio Piningit Jinumput Sumelo Atur, yakni sosok pemimpin yang menduduki tampuk kekuasaan karena terangkat dan terpungut (jinumput) dan berkuasa hanya dalam masa transisi yang sebentar (sumelo atur). Sosok ini kemudian dikaitkan dengan Presiden BJ. Habibie. Sesuai dengan gelar yang disandangnya, sebagai presiden di masa transisi, ia hanya memegang tampuk jabatan selama setahun, yakni dalam rentang waktu 1998-1999.

Keempat, Satrio Piningit Lelono Topo Ngrame, yakni sosok pemimpin yang melakukan perjalanan keliling dunia (lelono) dan merupakan sosok rohaniawan yang memiliki tingkat  spritual yang tinggi. Sosok ini kemudian dikaitkan dengan Presiden Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Beliau lengser sebelum dapat menyelesaikan masa jabatannya. Ia mampu memegang tampuk jabatan sebagai presiden dalam kurun waktu 1999-2001. Kelima, Satrio Piningit Hamong Tuwuh, yakni sosok pemimpin yang menaiki tampuk kekuasaan karena membawa pamor kebesaran yang dimiliki oleh leluhur atau orang tuanya (hamong tuwuh). sosok yang dikaitkan dengan Presiden Megawati Soekarno Putri. Ia melanjutkan sisa masa kepemimpinan Gus Dur dalam kurun waktu 2001-2004.

Keenam, Satrio Piningit Boyong Pambukaning Gapuro, yakni sosok pemimpin yang “berpindah tempat” atau “boyong” dalam artian akan mengalami tahapan karir berjenjang sampai akhirnya bisa sampai pada tampuk kekuasaan tertinggi. Dia adalah sosok yang akan meletakkan pondasi dan membuka gerbang menuju era kemajuan (pambukaning gapura). Sosok ini kemudian dikaitkan dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). SBY berkuasa dalam rentang waktu 2004-2009, kemudian terpilih kembali dalam masa kepemimpinan 2009-2014.

Ketujuh, Satrio Piningit Pinandito Sinisihan Wahyu, yakni sosok pemimpin yang sangat religius dan spritual yang tinggi, dia memiliki hubungan yang dekat dengan tuhan, hatinya menyatu dengan rakyat (pinandito). Ia mendasarkan segala tindak tanduk dan keputusan-keputusannya berdasarkan tuntunan wahyu (sinisihan wahyu). Dialah sang ratu adil yang akan membawa bangsa Indonesia pada puncak kejayaannya. Pada awal kemunculan sosok Jokowi, hingga selama masa kepemimpinannya, dialah yang dianggap sebagai representasi dari satrio piningit ketujuh. Jokowi berkuasa dalam rentang waktu 2014-2019, kemudian terpilih kembali dalam masa kepemimpinan 2019-2024.

Namun belakangan, ketika suksesi pilpres 2024 semakin dekat, gelar satrio piningit yang dilekatkan kepada Jokowi tersebut nampaknya mulai diralat. Jokowi tidak lagi dianggap sebagai satrio piningit ketujuh, melainkan masih sebagai satrio piningit keenam melanjutkan SBY. Menjelang pilpres 2024, mitos ramalan tentang kemunculan satrio piningit yang ke-7 muncul kembali sebagai komoditas politik untuk menaikkan elektabilitas para tokoh politik yang punya ambisi maju dalam kontestasi pilpres 2024 sebagai pengganti Jokowi.

Dalam ramalannya, Jayabaya menuturkan bahwa sosok yang ditakdirkan menjadi satrio piningit, namanya harus diakhiri oleh salah satu suku kata yang tersusun dalam kata “No-To-ne-Go-Ro”. Lembaga Survey Poltracking Indonesia merilis 10 besar tokoh yang memiliki elektabilitas tertinggi menuju pilpres 2024. Mereka antara lain: Ganjar Pranowo 26,9 persen; Prabowo Subianto 22,5 persen; Anies Baswedan 16,8 persen; Agus Harimurti Yudhoyono 3,6 persen; Ridwan Kamil 3,4 persen; Erick Thohir 2,6 persen; Sandiaga Salahuddin Uno 2,2 persen; Khofifah Indar Parawansa 2,0 persen; Airlangga Hartarto 1,8 persen; dan Puan Maharani 1,2 persen.

Di antara tokoh-tokoh tersebut, ada 4 orang yang namanya memenuhi syarat tersebut. yakni: Prabowo Subianto, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), Airlangga Hartarto, Sandiaga Salahuddin Uno. Jika diperhatikan, hanya 2 suku kata yang terpakai sebagai akhiran nama tokoh-tokoh politik tersebut, yakni “No” atau “To”. Sementara belum ada sosok tokoh politik yang berakhiran “Go” ataupun “Ro”. Demikian pula 3 sosok presiden yang pernah menjabat, yaitu: Soekarno, Soeharto, dan Susilo Bambang Yudhoyono, berakhiran nama “No” atau “To”. Adapun 4 orang presiden sisanya, yang juga telah dianggap sesuai dengan ramalan sosok satria piningit, ternyata namanya sama sekali tidak mengandung akhiran salah satu komponen suku kata “No-To-ne-Go-Ro”.

Barangkali persyaratan “No-To-ne-Go-Ro”, sebagaimana tertuang dalam ramalan Jayabaya, tidaklah mesti dipahami secara literal. Ada beberapa tawaran penafsiran yang ingin penulis ajukan disini untuk memahami prasyarat tersebut. Pertama, prasyarat “No-To-ne-Go-Ro”, sebagai akhir suku kata nama sosok satria piningit, tidak harus dipahami secara fixed, melainkan lebih sebagai representasi model penamaan orang Jawa atau masyarakat nusantara pada kala itu. Di luar itu, sebenarnya masih ada banyak pilihan lain suku kata yang bisa menjadi akhir penamaan ala orang Jawa, sebagaimana tertera dalam alfabetik Jawa “Honocoroko”. Dengan demikian, nama-nama seperti: Joko Widodo, Ganjar Pranowo, Hary Tanoesoedibyo masih bisa dipertimbangkan sebagai nama yang sarat dengan cita rasa penamaan Jawa.

Kedua, “No-To-ne-Go-Ro” harus dipahami sebagai komitmen dan kemampuan calon pemimpin untuk “Notonegoro” (menata negara). Dengan demikian, siapapun pemimpin bangsa ini yang terbukti memiliki keseriusan dan kompetensi dalam menata, membenahi, dan menyelesaikan berbagai problematika kenegaraan, sehingga bisa membawa bangsa ini mencapai kemakmuran dan kejayaannya. dialah sosok yang ditakdirkan menjadi satrio piningit. Tanpa perlu melihat apakah akhiran namanya diakhiri oleh salah satu suku kata “No-To-ne-Go-Ro” atau tidak. Barangkali ramalan tersebut dimaksudkan hanyalah sebagai perlambang untuk mengisyaratkan bahwa satrio piningit yang menjadi pemimpin negeri ini haruslah sosok yang dalam dirinya mengalir “darah” ke-Jawa-an dan ke-Nusantara-an yang kental serta bertekad kuat dan memiliki kompetensi untuk membawa perubahan bagi bangsa ini menuju kemakmuran dan kejayaan.

Pada kontestasi pilpres 2024 nanti, bisa jadi sosok yang bakal terpilih adalah benar-benar satrio piningit ke-7 yang dinanti. Bisa jadi mungkin presiden mendatang masih sebagai Satrio Piningit Boyong Pambukaning Gapura. Hal ini mengingat kondisi jaman dianggap masih belum saatnya untuk kedatangan satrio piningit ke-7, sebagaimana hal semacam itu sebelumnya terjadi pada Jokowi. Atau bisa jadi 7 sosok satrio piningit dalam ramalan tersebut sesungguhnya merupakan 7 tipologi kepemimpinan Tanah Jawa atau Nusantara yang bisa jadi tampil sesuai dengan kebutuhan jaman, tanpa harus terjadi secara berurutan.

Dengan demikian, perlu kiranya tujuh sosok satrio piningit dalam ramalan Ronggowarsito tersebut ditafsirkan ulang secara lebih kreatif dengan mempertimbangkan kekuatan karakternya masing-masing. Satrio Piningit Kinunjoro adalah tipologi pemimpin pembebasan, perintis, pejuang, pendobrak, dan reformator. Satrio Piningit Mukti Wibowo merupakan representasi pemimpin yang penuh dengan karisma dan wibawa serta memiliki sokongan yang kuat dari sisi sumber daya, khususnya sumber daya materil. Satrio Piningit Jinumput Sumelo Atur adalah tipologi pemimpin transisi, yang memegang tampuk kuasa sementara dalam kondisi kekosongan pemerintahan. Satrio Piningit Lelono adalah sosok pemimpin yang suka berkawan, memiliki visi dan perhatian besar dalam membangun hubungan diplomatis. Satrio Piningit Hamong Tuwuh adalah sosok pemimpin yang teruntungkan karena mewarisi trah dan nama besar dari leluhurnya. Satrio Piningit Boyong Pambukaning Gapura merupakan tipologi pemimpin yang meniti karir dari bawah, sosok teknokrat, pekerja keras, dan memiliki program-program yang prestisius. Adapun Satrio Piningit Pinandita Sinisihan Wahyu adalah tipologi pemimpin yang sangat agamis, religius, dekat dengan rakyat serta mampu mengayomi.

Tawaran pemaknaan alternatif yang kreatif dan logis semacam itu, akan membuat warisan berupa ramalan kepemimpinan masa depan dalam tradisi Jawa lebih menemukan makna vitalnya dalam perputaran kemajuan jaman. Uraian syair peninggalan Jayabaya maupun Ranggawarsito harapannya tidaklah sekedar berhenti pada taraf mistik dan mitos, tetapi menjadi pedoman ajaran moral dan falsafah terkait kepemimpinan Nusantara yang logis dan akan terus menemukan relevansinya.

Senin, 22 Agustus 2022

Laut Yang Terbakar



Dalam Surat Ath-Thur, Allah mengawali firman-Nya dengan beberapa ungkapan qasam (sumpah). Salah satu objek sumpah yang Allah gunakan pada ayat keenam adalah ungkapan (البحر المسجور). Secara harfiah, kata (البحر) berarti “laut”. Adapun makna kata (المسجور), berkisar pada dua makna, yakni “penuh” dan “yang dipanaskan” atau “yang mengandung api”. Berdasarkan makna pertama, maka ungkapan (البحر المسجور) diterjemahkan sebagai “laut yang penuh dengan air” atau “laut yang penuh dengan gelombang”. Sedangkan berdasarkan makna kedua, ungkapan tersebut diterjemahkan antara lain dengan “laut yang dipanaskan”, “laut yang terbakar”, atau “laut yang didasarnya menyimpan api”.

         Objek sumpah, terlebih yang dipakai oleh Allah dalam Al-Qur’an selalu menunjuk kepada sesuatu yang dianggap istimewa atau luar biasa, entah keistimewaan tersebut telah terungkap atau masih menjadi misteri. Pemilihan makna “laut yang penuh dengan air” atau “laut yang penuh dengan gelombang”, memang telah memenuhi syarat sebagai objek sumpah yang luar biasa jika dilihat dari sisi penciptaan. Namun hal tersebut masih terasa sebagai hal yang biasa, tidak ada kesan istimewa padanya, karena memang demikianlah karakter laut, penuh berisi air dan kerap kali penuh dengan gelombang. Adapun pemilihan makna “laut yang dipanaskan”, “laut yang terbakar”, atau “laut yang di dasarnya menyimpan api”, terasa lebih berkesan, karena menyimpan unsur keanehan pada objek tersebut. Pemilihan makna semacam itu tidak hanya sekedar rekaan belaka, dalam banyak terjemahan dan tafsiran, makna tersebut dapatlah dijumpai, khususnya pada terjemahan dan tafsiran modern.

Sebelum adanya berbagai penemuan sains modern, khususnya dalam bidang kelautan, sulit kiranya membayangkan bagaimana mungkin ada nyala api di dasar laut, dan bagaimana bisa nyala api tersebut tetap berdampingan dengan jutaan kubik volume air di dasar laut. Namun uniknya, selain termaktub dalam Al-Qur’an, ternyata fenomena tersebut telah diisyaratkan oleh nabi 14 abad yang lalu. Dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Abu Dawud, nabi menyatakan “Sesungguhnya di bawah lautan terdapat api, dan di bawah api terdapat lautan”.

Salah seorang tabi’in bernama Sa’id Bin Musayyab meriwayatkan tafsiran ayat tersebut dari Ali Bin Abi Thalib, menyatakan bahwa maksud dari ungkapan (البحر المسجور) adalah “Pada hari kiamat kelak, lautan akan dijadikan api yang berkobar dan mengelilingi orang-orang”. Penafsiran semacam ini diriwayatkan pula oleh Ibnu Abbas dan diamini antara lain oleh Mujahid, Qatadah, Abdullah bin Ubaid, dan beberapa tabi’in lainnya. Penafsiran tersebut memahami bahwa fenomena laut yang terbakar merupakan suatu peristiwa yang faktual terjadi, namun tidak untuk hari ini melainkan dikaitkan dengan rangkaian peristiwa saat hari kiamat kelak.

Penafsiran shahabat dan tabi’in di atas tampaknya didasari oleh pernyataan Al-Qur’an pada Surat At-Takwir ayat 6, yang menyatakan “Dan apabila lautan telah dinyalakan”. Jika dicermati, ayat tersebut diungkapkan memang dalam konteks rangkaian peristiwa yang akan terjadi di hari kiamat kelak. Adapun pernyataan dalam Surat Ath-Thur ayat 6 maupun hadist riwayat Abu Dawud di atas, sedikitpun tidak menyinggung tentang peristiwa hari kiamat. Penyamaan peristiwa terbakarnya laut dalam QS. At-Takwir ayat 6 dengan peristiwa serupa dalam QS. Ath-Thur ayat 6 maupun hadist nabi, sebagaimana tafsiran yang dipahami oleh shahabat dan tabi’in, secara tidak langsung berarti menutup kemungkinan terjadinya peristiwa tersebut selain pada hari kiamat.

            Dalam buku “Miracle of Al-Qur’an & As-Sunnah”, karya Dr. Zakir Naik, mengungkapkan bahwa setelah berakhirnya Perang Dunia II, para ilmuwan mulai melakukan penjelajahan dasar laut untuk mencari sumber-sumber mineral baru, karena cadangan mineral di permukaan bumi semakin menipis. Upaya pencarian tersebut secara tidak sengaja menemukan fenomena nyala api yang berasal dari semburan lava dan abu vulkanik yang membentang memanjang ribuan kilometer di dasar laut. Dari sinilah para ilmuwan mulai menyadari bahwa bentangan gunung tidak hanya terdapat di permukaan daratan, tetapi juga terdapat di dasar laut. Demikian pula fenomena erupsi gunung berapi juga bisa terjadi di dasar laut. Rangkaian gunung berapi dasar laut inilah yang selanjutnya dikenal dengan istilah “vulcanic mountain chain”.

            Sumber lain menyatakan bahwa fenomena nyala api di dasar laut pertama kali ditemukan pada tahun 1990-an oleh dua orang ilmuwan geologi berkebangsaan Rusia, yakni Anatol Sbagovich dan Yuri Bagdanov bersama seorang ilmuwan berkebangsaan Amerika Serikat, yakni Rona Clint. Kala itu ketiga ilmuwan tersebut dengan menggunakan kapal selam canggih melakukan penjelajahan laut hingga sedalam 1.750 meter di lepas Pantai Miami untuk melakukan penelitian tentang kerak bumi dan patahannya di dasar laut. Para ilmuwan tersebut secara tidak sengaja menemukan aliran air dengan suhu yang panas hingga 231 derajat celcius mengalir ke arah retakan batu. Setelah didekati, ternyata ditemukan bahwa suhu air yang panas tersebut disebabkan oleh aktivitas vulkanik di dasar laut.

Penelitian berikutnya menemukan bahwa aktivitas vulkanik dasar laut semacam itu ternyata bisa terjadi kapan pun dan dapat ditemui hampir di semua lautan. Bahkan ada pula kasus semburan lava gunung api dari dasar laut yang berhasil mencapai permukaan laut, sehingga nyala apinya pun bisa terlihat pula di permukaan. Seringkali letusan gunung api dasar laut menimbulkan gempa bumi, bahkan tsunami. Di Indonesia, terdapat sejumlah gunung api dasar laut yang masih aktif, beberapa diantaranya bahkan pernah meletus hingga menimbulkan tsunami, gunung-gunung tersebut antara lain:

Ø  Gunung Hobal berada di wilayah Kabupaten Flores bagian timur, Nusa Tenggara Timur

Ø  Gunung Banua Wuhu berada di sebelah barat daya Pulau Mangehetang, Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara

Ø  Gunung Nieuwerkerk berada di wilayah Kabupaten Maluku tengah, Provinsi Maluku

Ø  Gunung Yersey berada di selatan wilayah Banda

Gunung Sangir berlokasi di perairan Sangir, Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara

Ø  Gunung Emperor of China berada di Laut Banda, Perairan Maluku

 

Sains modern masih belum memiliki argumentasi yang memadai untuk menerangkan bagaimana bisa semburan lava tetap bisa menyala meskipun terkepung oleh volume air jutaan kubik di dasar laut. Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana bisa fenomena unik dasar laut yang baru ditemukan oleh ilmuwan pada abad ke-20 dengan bantuan serangkaian peralatan canggih telah diisyaratkan oleh Al-Qur’an dan Hadist Nabi yang datang dari kurun waktu 14 abad silam?